Lectio Divina 22.6.2024 – Allah atau Mammon

0
32 views
Memuja mammon, by Evelyn De Morgan

Sabtu. Minggu Biasa XI, Hari Biasa (H)

  • 2Taw 24:17-25
  • Mzm 89:4-5.29-30.31-32.33-34
  • Mat 6:24-34

Lectio

24 Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” 25 “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai.

Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? 26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? 27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, 29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.

30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? 31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?

32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Meditatio-Exegese

Orang Yehuda telah meninggalkan Tuhan, Allah nenek moyang mereka

Raja Yoas menunjukkan tanda kesetiaan pada Allah dengan membaharui Bait Allah. Ia bekerja sama dengan Imam Yoyada untuk membuat bait itu memancarkan kemegahan seperti sedia kala (2Taw. 24:13) hingga saing imam wafat. Imam Tuhan itu dikubur di Yerusalem dengan penghormatan penuh, karena jasanya.

Sepeninggal Imam Yoyada, raja Yehuda itu meninggalkan Allah dan menyembah berhala. Ia mabuk kuasa dan menikmati kemuliaan semu yang ditawarkan para penjilat.

Walau Yoas melakukan apa yang jahat di hadapan-Nya, Allah terus mengingatkannya untuk setia pada-Nya. Ia mengundang Yoas untuk bertobat dan mengutus para nabi yang tak pernah didengarkannya. “Mengapa kamu melanggar perintah-perintah TUHAN, sehingga kamu tidak beruntung? Oleh karena kamu meninggalkan TUHAN, Ia pun meninggalkan kamu.” (2Taw. 24:20).

Dosanya memuncak saat ia membunuh anak imam Yoyada, Zakharia, yang mengecam kejahatan raja melawan Allah. Menjelang kematian, ia mengutuk sang raja (2Taw. 24:22), “Semoga TUHAN melihatnya dan menuntut balas.”, Videat Dominus et requirat.

Kejahatannya membuat Yoas kehilangan nyawa di tangan mereka beresepakat melawannya. Allah tidak pernah membiarkan kejahatan tanpa mendapatkan pembalasan setimpal.

Dalam tradisi Perjanjian Baru, Nabi Zakharia, anak Imam Yoyada dan tidak sama dengan nabi kecil, mungkin adalah pribadi yang dirujuk Yesus saat bersabda, “Kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah.” (Mat. 23:35).

Yesus menyebut  anak Berekhya, bukan Yoyada. Mungkin karena ia berasal dari garis keturunan lain atau terjadi sedikit kesalahan dalam penyalinan teks dari waktu ke waktu.  

Namun demikian, penyebutan nama orang tak bersalah dari yang pertama, Habel, hingga yang terakhir, Zakharia seperti ditulis dalam Kitab Tawarikh, menandakan setiap pribadi adalah martir dan ambil bagian dalam penebusan Kristus karena wafat-Nya di salib.

Santo Augustinus, uskup dari Hippo, menulis, “Saudara-saudariku, kalian harus tidak menyangka bahwa seluruh yang benar yang menanggung pengejaran oleh tangan orang jahat, termasuk mereka yang diutus untuk memberitakan kedatangan Tuhan, bukan anggota tubuh Kristus.

Tiap orang yang tinggal di kota yang diperintah Kristus, Sang Raja, adalah hamba-Nya. Kota itu dikelola sejak tumpahnya darah orang benar dari Habel hingga Zakharia. Dari mereka, dari darah Yohanes pembaptis, melalui darah para Rasul dan martir dan semua yang setia pada Kristus, kita semua membangun kota yang kita bicarakan ini.” (Enarrationes in Psalmos, 61, 3).

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan

Yesus menuntut pilihan mutlak. Mengasihi atau menolak-Nya. Setia atau ingkar pada-Nya.

Dua kutub, kasih-benci dan setia-ingkar, mengingatkan pada kisah tentang poligami. Yakub lebih mengasihi Rahel daripada Lea (Kej 29:30-31). Elkana lebih mengasihi Hana daripada Penina (1Sam. 1:2-8).

Kemenduaan hati dalam relasi suami-isteri ternyata juga menuntut peraturan hak waris yang lebih rumit, karena hak kesulungan harus diberikan kepada anak laki-laki sulung dari isteri yang kurang dikasihi (bdk. Ul. 21:15-17).

Santo Paulus juga menekankan hati, inti terdalam tempat Allah bersua dengan manusia, harus tetap utuh bagi pelayanan kepada Allah (bdk. 1Kor. 7:7-34). Maka, mustahil untuk mengabdi dua tuan. Sabda-Nya (Mat. 6:24), “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan.”, Nemo potest duobus dominis servire.

Tiap murid-Nya harus memilih satu tuan yang harus diabdi dengan segenap hati. Yesus menggunakan kata Aram, mamona, ‘harta’ atau ‘pemilikan’. Akar kata Aram dan Ibrani ini, mn, menunjukkan makna: ‘tempat orang menaruh kepercayaan’  atau ‘iman’.

Maka, Yesus menggunakan kata ‘mamon’ untuk mempersonifikasi suatu benda yang bukan Allah. Benda itu biasanya dipercaya dan disembah layaknya orang yang mengimani Allah dengan sebulat hati.

Selanjutnya, digunakan kata κυριοις, kuriois, bentuk jamak dari kata kurios, tuan. Kata ‘tuan’ bermakna: 

  • pemilik suatu benda atau pemilik seseorang/budak;
  • penguasa/pemimpin/pangeran/kaisar Romawi;
  • gelar kehormatan yang diucapkan para abdi/bawahan kepada atasan mereka; dan
  • gelar untuk Allah atau Mesias.

Yesus menempatkan Allah dan Mamon sebagai tuan yang sama-sama memiliki budak. Sebagai pemilik budak,  kedua-duanya menuntut kesetiaan mutlak.

Pada akhirnya, Yesus memberikan pada para murid-Nya kebebasan untuk memilih salah satu (Mat. 6:24), “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”, non potestis Deo servire et mammonae.

Namun, perlu diingat, dalam perjalanan sejarah keselamatan, terbukti siapa yang akan memperoleh keselamatan. “Mereka mengadakan perjanjian untuk mencari TUHAN, Allah nenek moyang mereka, dengan segenap hati dan jiwa.” (2Taw. 15:12).

Janganlah kuatir

Tiada larangan akan pemilikan atau kekayaan. Yang menjadi perhatian Yesus adalah peri hidup manusia yang secara berlebihan mencemaskan makanan, minuman, pakaian atau segala macam hal yang remeh temeh.

Mereka mengira bahwa benda-benda itu menjadi jaminan bagi hidup mereka di sini dan kelak sesudah mati. Tetapi Yesus mengajarkan sebaliknya (Mat. 6:31), “Sebab itu janganlah kamu kuatir.”, Ne solliciti.  

Digunakan kata μεριμνατε, merimnate, dari kata kerja merimnao. Kata itu bermakna ‘kekhawatiran yang berlebihan, terlalu memperhatikan, kecemasan yang merusak’. Kata ini digunakan empat kali dalam perikop ini: ayat 25 digunakan 2 kali; ayat 28 dan 31. 

Dampak buruk dari kekuatiran yang berlebihan akan terwujud dalam peri hidup rakus. Kerakusan sama dengan ketidak setiaan kepada Allah. Santo Petrus memberi nasihat, “Serahkanlah kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia memelihara kamu.” (1Ptr. 5:7).

Yesus mengajar para murid untuk dengan penuh iman mendaraskan doa kepada Bapa surgawi, “Berilah kami rejeki pada hari ini.”, Panem nostrum cotiadianum da nobis hodie.  

Kata Latin panem, bentuk obyek dari panis, mengacu pada roti dari jelai (Ul. 8:8). Roti jelai berkualitas lebih rendah dari roti gandum dan merupakan makanan pokok rakyat banyak pada pada jaman Yesus (Rut. 2:17; Yeh. 4:9; Yoh. 6:9).

Makanan pokok ini menyimbolkan bahwa Allah memperhatikan kebutuhan dasar kita untuk hidup dan berkembang. Sebaliknya, kekuatiran merampas iman dan kepercayaan kepada Allah.

Kekuatiran menghabiskan energi sehingga tidak memungkinkan orang berbuat kebaikan. Kekuatiran bisa menghanguskan iman Abraham. Maka, saat mengurbankan Ishak, anaknya, ia berkata, (Kej. 22:8), “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk kurban bakaran bagi-Nya, anakku.”, Deus providebit sibi victimam holocausti, fili mi.

Yesus selalu mengajak para murid-Nya untuk mencari Allah, kekuatan-Nya dan wajah-Nya. Dalam tradisi Perjanjian Lama diungkapkan, “Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu.” (Mzm. 105:4; bdk. Yes. 34:16; 55:6). Kemudian, melakukan perintah-Nya.

Maka, untuk menepis kekuatiran, Yesus bersabda (Mat. 6:33), “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”, Quaerite autem primum regnum Dei et iustitiam eius, et haec omnia adicientur vobis.

Ia tahu apa yang diperlukan tiap pribadi murid-Nya. Yang diperlukan akan dipenuhi setelah mencari Kerajaan Allah dan melaksanakan sabda-Nya. Masing-masing pribadi memilih Dia sebagai Tuhan, Kurios

Katekese

Nilai hidup kita.  Santo Yohanes Chrysostomus, 349-407:

“Perhatikan citra yang terbayang di matamu:  segera ketika bunga bakung didandani, Ia tak lagi menyebutnya bakung, tetapi “rumput di ladang” (Mat 6:30). Ia kemudian lebih jauh menunjukkan keadaan mereka yang lebih rentan dengan bersabda, “yang hari ini ada”.

Kemudian Ia tak sekedar bersabda “dan besok tak ada lagi”, tetapi jauh lebih menggentarkan hati “dibuang ke dalam api”. Ciptaan ini tak sekedar “didandani”, tetapi “sungguh didandani” yang akan berakhir dengan kesia-siaan.

Apakah kamu mengerti betapa di mana-mana Yesus menggemakan dan menekankan makna sabdaNya? Dan dengan cara ini Ia menekankan makna penting ajaran yang harus kamu catat dalam hati. Maka, Ia kemudian menambahkan, “Ia akan terlebih lagi mendandani kamu”.

Titik penekanan sabda-Nya adalah ‘kamu’ untuk menunjukkan betapa penting  nilai yang diletakkan pada seluruh hidupmu. Dengan cara itu Allah memperhatikan kamu secara khusus.

Seolah-solah Ia bersabda, “Kamu, yang diberi-Nya jiwa, untukmu Ia menciptakan tubuh. Bagimu Ia menciptakan segala sesuatu. Bagimu Ia mengutus para nabi, dan menciptakan hukum.

Dan bagimu Ia melakukan seluruh pekerjaan yang baik, serta bagimulah Ia menyerahkan AnakNya yang tunggal dan dikasihi-Nya.” (The Gospel Of Matthew, Homily 22.1)

Oratio-Missio

Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah – Mzm 62:1-2

  • Benarkan aku menjadikan Yesus sebagai Tuhan, Kurios?  

non potestis Deo servire et mammonae – Matthaeum 6:15

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here