Lectio Divina 23.01.2022 – Warta Injil-Nya Ditolak

0
274 views
Orang Nazareth hendak melemparkan Yesus dari puncak bukit, by Heralds of The Gospel Magazine

Minggu. Hari Minggu Biasa III (H)

  • Neh. 8:3-5a.6-7.9-11
  • Mzm 19:8.9.10.15
  • 1Kor. 12:12-30
  • Luk 1:1-4; 4:14-21 

Lectio

1 Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, 2 seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman.

3 Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, 4  supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.

14 Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. 15 Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia. 16 Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.

17 Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: 18 “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku 19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

20 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. 21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”

22 Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: “Bukankah Ia ini anak Yusuf?”

Meditatio-Exegese

Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu

Imam dan awam bekerja sama dalam pembaharuan iman umat. Imam Ezra dan Nehemia, yang awam, membimbing umat melakukan pembaharuan hidup iman setelah kembali dari pembuangan Babel.

Di samping pembangunan fisik, antara lain: Bait Allah, mereka mengajarkan peran penting Hukum Tuhan dalam hidup sehari-hari. Kesetiaan pada Hukum Tuhan menjadi tanda kesetiaan pada perjanjian dengan Allah.

Pembacaan dan pengajaran Hukum Tuhan dilaksanakan di pelataran Bait Allah. Umat berkumpul di serambi depan untuk mendengarkan pengajaran. Sejak Salomo hingga Yerusalem jatuh, peribadatan berpusat di Bait Allah.

Namun, sejak masa pembuangan di Babel, pengajaran Hukum Tuhan tidak dilakukan di Bait Allah. Umat di tanah asing biasanya berkumpul di rumah-rumah atau di pelataran untuk mendengarkan bacaan tentang Hukum Tuhan atau kitab para nabi.

Dari pertemuan-pertemuan itu, dimulailah tradisi pertemuan di tempat khusus, yang disebut sebagai sinagoga.

Pertemuan yang dilaksanakan di depan Pintu Gerbang Air merupakan pertemuan resmi, yang berlangsung mulai pagi hingga tengah hari. 

Ezra, ahli kitab itu, berdiri di atas mimbar kayu. Lalu ia membuka kitab itu di depan mata seluruh umat.

Seluruh mata umat memandang Ezra dan telinga mereka mendengarkan Hukum Tuhan yang dibacakan. Hukum Tuhan menjadi pusat perhatian dan kebanggaan. Hukum-Nya menjadi lebih penting dari pada korban persembahan.

Saat umat mendengarkan pembacaan Hukum Tuhan, mereka menangis. Mereka belum pernah sekalipun setia dan mematuhinya. Terlebih mereka takut akan akan penghukuman Allah.

Kenangan akan pembuangan ke Babel masih membekas dalam ingatan mereka,  “semua orang itu menangis ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat itu.” (Ezr. 8:9).

Maka, Ezra dan orang-orang Levi membesarkan hati mereka. Mereka harus memulai untuk setia pada Allah, pada hari itu, karena hari itu adalah hari yang kudus.

Hari ini adalah hari untuk bersuka cita, karena menjadi hari pertama dalam tahun baru (bdk Im 23:24-25; Bil 29:1-6). Kitab Nehemia mencatat (Neh 8:9), “Hari ini adalah kudus bagi TUHAN Allahmu.”, Dies iste sanctificatus est Domino Deo nostro!

Pembacaan Hukum Tuhan nampaknya dikaitkan dengan Hari Raya Pondok Daun. Perayaan ini sudah disebut dalam Ezra 3:4-6.

Namun, terdapat unsur pembaharuan: pondok-pondok daun harus dibuat dari pelepah dan ranting pohon dari bukit-bukit (bdk. Im 23:39-43).

Tak disebutkan apa yang dilakukan pada Hari Pendamaian yang dirayakan pada hari ke sepuluh pada bulan yang sama (Im 23:26-32).

Selama tujuh hari pesta pada Hari Raya Pondok Daun, Ezra terus membacakan Hukum Tuhan, yakni Ul 31:9-13 tentang penetapan tahun Sabat dan seluruh ketentuan yang harus diikuti.

Melalui tindakan Ezra, para Lewi, dan guru-guru Hukum, dapat dilacak asal muasal dari Majelis Agama Yahudi, lembaga resmi, yang menafsirkan hukum dan menentukan kitab-kitab suci yang diakui secara resmi.

Pembacaan Hukum Tuhan dan kitab-kitab suci lain menjadi cara terpenting untuk berjumpa dengan Allah dan mendengarkan sabda-Nya.

Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa yang telah terjadi di antara kita

Santo Lukas mungkin menulis untuk seseorang yang sangat dihormati, Teofilus. Tidak ada informasi lebih detail siapa sosok istimewa ini.

Tetapi, teofilus bisa juga diartikan sebagai sahabat Allah. Maka, ia menulis untuk siapa pun juga yang menjadikan Allah sebagai sahabat.

Hanya Santo Lukas memberi kata pengantar ringkas dan menawan pada Injilnya. Ia juga melukiskan alasan menulis: membukukan kisah hidup Yesus secara teratur dari asal mulanya.

Ia juga menuntun umat untuk menyadari bahwa pesan keselamatan Yesus Kristus, Injil, diwartakan jauh sebelum warta itu ditulis.

Para bapa Konsili Vatikan II mengajar:

“Bunda Gereja yang kudus di masa lampau mempertahankan dan tetap setia berpegang taguh pada pandangan, bahwa keempat Injil tersebut, yang sifat historisnya diakui tanpa ragu-ragu, dengan setia meneruskan apa yang oleh Yesus Putera Allah selama hidupnya di antara manusia sungguh telah dikerjakan dan diajarkan demi keselamatan kekal mereka, sampai hari Ia diangkat (lih. Kis 1:1-2).

Sesudah kenaikan Tuhan para Rasul meneruskan kepada para pendengar mereka apa yang dikatakan dan dijalankan oleh Yesus sendiri, dengan pengertian yang lebih penuh, yang mereka peroleh karena di didik oleh peristiwa-peristiwa mulia Kristus dan oleh terang Roh kebenaran.

Adapun cara penulis suci mengarang keempat Injil dan memilih berbagai dari sekian banyak hal yang telah diturunkan secara lisan atau tertulis.

Beberapa hal mereka susun secara agak sintetis, atau mereka uraikan dengan memperhatikan keadaan Gereja-gereja.

Akhirnya dengan tetap mempertahankan bentuk pewartaan, namun sedemikian rupa, sehingga mereka selalu menyampaikan kepada kita kebenaran yang murni tentang Yesus.

Sebab mereka menulis, entah berdasarkan ingatan dan kenangan mereka sendiri, entah berdasarkan kesaksian mereka “yang dari semula menjadi saksi mata dan pelayan sabda”, dengan maksud supaya kita mengenal “kebenaran” kata-kata yang diajarkan kepada kita (lih. Luk 1:2-4).” (Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi, Dei Verbum, 19).

Maka, Allah menghendaki agar kita memiliki Injil yang tertulis sebgai kesaksian ilahi dan abadi, yang  menjadi landasan iman kita. Beato Bede menulis, “Ia [Lukas] tidak mengisahkan hal baru bagi Teofilus, hal-hal yang tidak ia ketahui sebelumnya.

Ia berketetapan hati untuk mengisahkan kebenaran tentang hal-hal yang telah ia pelajari. Inilah yang ia lakukan agar engkau mengetahui segala seluatu yang telah dikisahkan kepadamu yakni kisah tentang Tuhan dan perbuatan-perbuatan-Nya.” (In Lucae Evangelium Expositio, in loc).

Saksi mata, pelayan Firman dan keputusan untuk membukukannya

Santo Lukas pasti mengumpulkan data tentang kisah hidup Yesus berdasarkan keterangan saksi hidup yang bisa dijumpainya. Mereka pasti ambil bagian dalam hidup hidup Yesus.  

Para saksi hidup antara lain: Ibu Maria, para Rasul, para perempuan kudus, dan orang-orang lain yang mengetahui, bahkan menyaksikan hidup Yesus di dunia.

Santo Ambrosius menulis, “Ketika Santo Lukas berkata, “aku mengambil keputusan”, hal ini tidak berarti ia mengabaikan tindakan Allah, karena Allah selalu mempersiapkan kehendak baik manusia […]. Santo Lukas mempersembahkan Injilnya untuk Teofilus, yakni seseorang yang dikasihi Allah.

Namun jika engkau mengasihi, Injil itu juga ditulis untukmu; jika buku itu telah ditulis bagimu, terimalah persembahan sang penulis Injil, jadikanlah tanda persahabatan yang erat dengan hatimu.” (Expositio Evangelii Secundum Lucam, in loc).

Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu

Yesus tidak berkarya sendirian. Ia dinaungi dan dibimbing bimbingan Roh Kudus, termasuk saat Ia kembali ke Nazaret, kampung halaman-Nya. Sejak Ia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Yesus tidak memulai pengajaran-Nya di Yudea.

Yesus memilih daerah utara, Galilea, untuk mewartakan Kerajaan Allah (Mrk. 1:15), “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”, Impletum est tempus, et appropinquavit regnum Dei; paenitemini et credite evangelio.

Pengajaran-Nya memikat hati banyak orang Galilea. Mereka mengagumi dan terinspirasi (bdk. Luk. 4:15). 

Yesus memilih wilayah Galilea sebagai tempat pelayanan-Nya atas beberapa alasan. Pemilihan tempat untuk memulai karya-Nya dilandasi pada kesadaran akan sejarah bangsa-Nya.

Hidup dan iman umat tidak hanya dicabik-cabik oleh pemberontakan mereka terhadap perjanjian dengan Allah melalui penyembahan berhala dan perilaku amoral lain, tetapi juga penindasan oleh bangsa lain.

Dimulai dari wilayah utara, wilayah Galilea diluluh-lantakkan oleh serangan Asyur pada tahun 733-732 sebelum Masehi. Selanjutnya Kerajaan Utara diserbu tahun 722 (bdk. 1Raj. 15:25-26; 17:1-12).

Yesus ingin membaharui seluruh tata hidup bangsa-Nya, melanjutkan pekerjaan para nabi, khususnya dalam terang tradisi Nabi Yesaya.

Abad ke 8 sebelum Masehi, Nabi Yesaya bernubuat, Yesus adalah Dia yang dijanjikan Allah, yakni Allah menyertai kita, nobiscum Deus, yang lahir dari perawan dan menjadi terang atas bangsa-bangsa yang tinggal dalam kegelapan.  

Pada diri Yesus nubuat sang nabi dipenuhi. Ia adalah: anak yang lahir dari seorang anak dara untuk menebus umat-Nya (Yes. 7:14; 9:5); lambang pemerintahan ada di bahu-Nya (Yes. 9:5); Penasihat Ajaib, Allah yang perkasa (Yes. 9:5); Raja Damai (Yes. 9:5); dan mewarisi tahta Daud serta mengadili berdasarkan keadilan dan kebenaran; kerjaan-Nya kokoh dari sekarang sampai selama-lamanya (Yes. 9:6). 

Nubuat Nabi Yesaya yang dikutip Santo Matius (Mat 4:15-16) mewartakan keselamatan dianugerahkan kepada segala bangsa, bukan hanya umat Allah yang tinggal di Galilea, misalnya: bangsa berkebudayaan Yunani  yang tinggal di Dekapolis di sebelah timur Sungai Yordan, juga mendengarkan pewartaan-Nya (bdk. Mat. 4:25; Mrk. 5:20; 7:31).

Di samping alasan keagamaan, Galiliea dipilih karena letaknya yang strategis. Wilayah kekuasaan Herodes Antipas itu dilintasi dua jalur perdagangan internasional, yang dikenal sebagai Via Maris, Jalan ke Laut (Mat. 4:15) dan Jalan Raja (2Raj. 18:17).

Via Maris, Jalan ke Laut mengarah ke Mesir melintasi sepanjang pantai Laut Tengah, membelah Galilea hingga Siria, Mesopotamia dan Asia Kecil.

Sedangkan Jalan Raja melintas dari Damaskus, menyusuri wilayah timur Galilea. Kedua jalur perdangan internasional dihubungkan melalui jalan-jalan kecil.

Maka Yesus tidak perlu mengumpulkan orang untuk mendengarkan Injil-Nya. Rombongan demi rombongan melintas jalur perdagangan internasional, khususnya pada  waktu perayaan yang diwajibkan bagi orang Yahudi di Bait Allah, yang disebut sebagai ‘hari raya para peziarah’.

Saat itu, setiap laki-laki dewasa harus hadir dihadapan altar Tuhan di Yerusalem pada Hari Raya Paskah/Hari Raya Roti Tak Beragi dan Hari Raya Pondok Daun (Kel. 23:14-17; 34:18-23; Ul. 16:16; Yoh. 6:4).

Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan

Setelah beberapa lama berkeliling Galilea, Yesus kembali ke tempat Ia dibesarkan: Nazaret. Kedua orang tua-Nya, Yusup dan Maria, memang tinggal di Nazaret (Luk. 1:26-27).

Saat Ibu Maria mengandung tua, kota ini ditinggalkan. Yusuf dan Maria harus mengikuti cacah jiwa atas perintah Kaisar Augustus dan mencatatkan diri di kota asal leluhur Yusuf, Raja Daud, di Bethlehem (Luk 2:4-5).

Dari Kota Daud, setelah kelahiran Yesus, keluarga Yusuf harus menyingkir dan mengungsi ke Mesir karena ancaman pembunuhan bayi oleh Herodes Agung (Mat. 2:16).

Dan setelah kematian Herodes, keluarga Yusuf kembali dari Mesir dan menetap di Nazaret, tempat asalnya. Karena tinggal di desa kecil itu, Yesus kelak disebut sebagai Orang Nazaret (Mat. 2:19.22-23).

Yesus dikenal orang Nazaret sebagai anak Yusup (Luk. 4:21) dan bekerja sebagai tukang kayu (Mrk. 6:3). Ia pun mengenal mereka masing-masing, paling kurang selama 25 tahun.

Selama kurun waktu itu, Ia mengikuti kegiatan belajar Kitab Suci dan peribadatan di sinagoga Nazaret. 

Seperti kebiasaan pemimpin sinagoga meminta seseorang untuk tampil membacakan sabda Tuhan dalam Kitab Suci, berkhotbah/mengajar dan semua yang hadir mendengarkannya.

Setelah selesai ditutup dengan doa dan berkat oleh pemimpin sinagoga atau imam yang hadir (bdk. Bil. 6:22-27).

Di hari Sabat itu, Yesus membacakan kutipan dari Nabi Yesaya yang berbicara tentang kaum miskin, tawanan, orang buta dan orang tertindas (Yes. 61-1-2).

Teks ini sangat relevan dengan situasi yang dialami seluruh komunitas dan Yesus sendiri di wilayah Galilea.

Semua orang takjub mendegar penjelasan-Nya. Semua orang heran, karena Ia memberi makna baru atas sabda Allah. Melalui sabda itu Yesus mengumumkan tugas pengutusan-Nya: mewartakan Kabar Sukacita bagi kaum miskin; mewartakan pembasan bagi kaum tawanan; membuka mata orang buta; membebaskan para tawanan; dan mewartakan ‘Tahun Rahmat Tuhan’ telah datang.

Tahun rahmat Tuhan telah datang

Dalam tradisi Kitab Suci, Tahun Rahmat Tuhan dirayakan setiap tujuh tahun (Ul. 15:1; Im. 25:3). Tahun Rahmat penting dirayakan untuk mengembalikan hak atas tanah kepada marga pemilik asal.

Semua harus dapat dikembalikan kepada pemilik asal; dan dengan cara ini bangsa menghindari pemilikian lahan tanpa kendali dan memberi jaminan kesejahteraan kepada tiap keluarga.

Pada tahun ini juga seluruh hutang dihapus dan para budak ditebus untuk mendapatkan kemerdekaan (Ul. 15:1-18). Tetapi rupanya bangsa itu tegar tengkuk dan berbalik membatalkan kesepakatan yang telah dibuat dengan Allah (bdk. Yer. 34:8-16).

Sesudah pembuangan Tahun Rahmat Tuhan dirayakan tiap lima puluh tahun (bdk. Im. 25:8-12).

Tujuan Tahun Rahmat tetap sama dan diteruskan: mengembalikan hak-hak kaum miskin; menerima mereka yang disingkirkan dan menyatukan dalam komunitas.

Tahun Rahmat menjadi sarana legal untuk kembali setia pada Hukum Tuhan.

Inilah kesempatan untuk kembali menempuh jalan yang benar, menemukan dan memperbaiki kesalahan dan memulai pembaharuan hidup.

Yesus mengawali pewartaanNya dengan bersabda (Luk. 4:19), “Tahun rahmat Tuhan telah datang.”, annum Domini acceptum. Ungkapan acceptum berasal dari kata accipere, menerima; maka, Tahun rahmat Tuhan sebenarnya telah diterima dan sudah berada di tangan, budi dan hati manusia.   

Tahun rahmat Tuhan, bagi umat Allah, Gereja-Nya, adalah hidup Yesus Kristus. Maka, setiap murid Yesus dipanggil untuk menawarkan hidup Yesus Kristus kepada setiap orang.

Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya

Yesus menyatakan bahwa nas dari Nabi Yesaya adalah benar dan harus dilaksanakan, saat Ia bersabda (Luk 4:21), “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”, Hodie impleta est haec Scriptura in auribus vestris.  

Dengan cara ini Ia menyatakan diri sebagai Mesias yang datang untuk memenuhi nubuat itu. Tetapi, ternyata, yang dihadapi-Nya adalah penolakan dari seluruh hadirin, orang-orang yang dikenal-Nya sejak dari masa kecil, saat Bapa Yusup dan Ibu Maria membawaNya pulang ke Nazaret dari pengungsian di Mesir (Mat. 2:19-23).

Mereka tidak mau menerima Yesus yang telah dinubuatkan Nabi Yesaya. Mereka berkata, “Bukankah Ia ini anak Yusuf?”

Nada yang terkandung dalam kalimat itu seperti mengandung pelecehan. Mereka tidak percaya bahwa Yesus sungguh anak Yusuf. Mereka tidak percaya pada yang peristiwa suci yang terjadi karana kehendak Allah.

Terlebih, mereka menolak gagasan untuk menerima kaum miskin, buta dan tertindas. Maka ketika Ia mewartakan apa yang menjadi tugas perutusanNya, segera, Ia mengalami penolakan.

Katekese

Bergeraklah Keluar. Paus Fransiskus, 17 Desember 1936

“Marilah kita bergerak keluar, marilah kita menawarkan kepada setiap orang hidup Yesus Kristus […] Saya lebih menyukai Gereja yang memar, terluka dan kotor karena telah keluar di jalan-jalan, dari pada Gereja yang sakit karena menutup diri dan nyaman melekat pada rasa amannya sendiri.

Saya tidak menginginkan Gereja yang berambisi menjadi pusat dan berakhir dengan terperangkap dalam jerat obsesi dan prosedur. Kalau ada suatu yang harus dan pantas menyusahkan kita dan mengusik hari nurani kita.

Hal itu adalah kenyataan bahwa begitu banyak saudara-saudari kita hidup tanpa kekuatan, terang dan penghiburan yang lahir dari persahabatan dengan Yesus Kristus, tanpa komunitas iman yang mendukung mereka, tanpa makna dan tujuan hidup.

Lebih dari pada oleh perasaan takut tersesat saya berharap bahwa kita akan digerakkan oleh perasaan takut tetap tertutup dalam struktur-struktur yang memberikan kita rasa aman palsu.

Dalam peraturan-peraturan yang menjadikan kita hakim-hakim yang kejam, dalam kebiasaan-kebiasaan yang membuat kita merasa anam, sementara di luar pintu kita orang sedang kelaparan dan yesus tak lelah-lelahnya bersabda pada kita, “Kamu harus memberi mereka makan.” (Mrk 6:37).” (Seruan Apostolik Sukacita Injil, Evangelii Gaudium, 49).

Oratio-Missio

Tuhan, penuhilah aku dengan suka cita Injil dan bantulah aku untuk ambil bagian dalam pewartaan Injil di lingkunganku yang terdekat. Amin.

  • Apa yang perlu aku lakukan agar Kabar Suka Cita, Injil, tidak ditolak?

Coepit autem dicere ad illos, “ Hodie impleta est haec Scriptura in auribus vestris – Lucam 4:25

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here