Lectio Divina 23.11.2020 – Memberikan Hidup untuk Sahabatnya: Allah

0
183 views
Memberikan hidup untuk sahabatnya, Allah by liturgy nz

Senin (H)

  • Why. 14:1-3,4b-5
  • Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6
  • Luk. 21:1-4

Lectio

1 Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. 2 Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu.

3 Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. 4 Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”

Meditatio-Exegese

Peti persembahan

Yesus pernah memperlawankan sikap doa antara orang Farisi dan pemungut cukai (Luk 18:9-14). Kini ia memperlawankan persembahan orang kaya dengan janda miskin. Lukas menggunakan kata γαζοφυλακιον, gazophulakion – tempat menyimpan harta, ruang harta, dan, dalam perikop ini, bermakna ‘peti persembahan’.

Menurut Mishnah, di Bait Allah terdapat tiga belas peti persembahan. Tiap jemaat memasukkan uang persembahan melalui lobang seperti terompet.

Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan” (Luk 21: 1).

Santo Lukas menggunakan kata πλουσιους, plousious, orang dengan kekayaan sangat berlimpah, melebihi kewajaran, seperti Zakheus. Mungkin orang-orang itu menaruh uang persembahan di mulut terompet dan membiarkannya jatuh berdenting di peti persembahan. Pasti beda bunyi denting uang perak, uang tembaga dan uang perunggu.

Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu” (Luk 21: 2). Tak terlalu sulit mengetahui jumlah uang yang dipersembahkan di peti persembahan. Tiap orang yang mengamati suara jatuhnya keping uang, pasti mampu membedakan bunyi uang logam perak dan tembaga, mata uang terkecil nilainya pada abad ke-1 M di Israel.

Janda miskin itu memasukkan dua kepeng, δυο λεπτα, duo lepta. Dua keping leptos senilai dengan 1/128 dinar atau upah sehari. Seandainya, upah kerja sebesar Rp. 100.000 per hari, ia mempersembahkan Rp. 1.000.

Janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu

Si janda itu sangat berkekurangan dan hidup dari belas kasih orang lain. Ia hanya memiliki sedikit, tetapi ia ingin mempersembahkannya pada Allah. Mengabaikan kebutuhan untuk membeli santap malam, ia mempersembahkannya.

Sudah biasa orang memperhatikan persembahan/sumbangan berjumlah besar. Mereka abai pada yang mempersembahkan sedikit. Mereka abai pada suka cita orang yang mempersembahkan yang sedikit itu. Tetapi Yesus memperhatikan apa yang tidak diperhatikan orang banyak.

Santo Lukas memperlawankan kata περισσευοντος, perisseuontos, kelimpahan atau jumlah yang berlebihan dengan kata υστερηματος, husterematos, berkekurangan. Dan janda itu, ternyata memberikan seluruh nafkahnya. 

Santo Lukas menggunakan kata βιον, bion, dari kata bios, hidup. Ia memberikan hidupnya. Yesus bersabda (Yoh 15:13):

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya”, maiorem hac dilectionem nemo habet, ut animam suam quis ponat pro amicis suis. Si janda itu memberikan hidup untuk Allah, sahabatnya.

Katekese

Amal kasih dan bela rasa tak pernah sia-sia. Santo Leo Agung, 400-461.

“Walau pun beberapa orang yang berhati dengki tidak pernah tumbuh dewasa dalam kebaikan, karya amal kasih tidak pernah sia-sia, dan kemurahan hati tidak pernah gagal walaupun itu ditawarkan pada orang yang tak tahu terima kasih.

Semoga tak ada seorang pun, saudara terkasih, menjadi orang asing pada karya yang baik ini.

Saya berharap tiada seorang pun yang menyatakan dirinya miskin menyatakan bahwa ia selalu berkekurangan dan kemiskinannya membuatnya tidak mampu menolong orang lain.

Apa yang dipersembahkan dari kekurangannya selalu bermakna besar; dan dalam pertimbangan ilahi, jumlah pemberian tidak pernah menjadi tolok ukur. Yang menjadi tolok ukur adalah niat baik yang tumbuh dalam jiwa.  

Si ‘janda’ dalam Injil memasukkan dua kepeng dalam peti persembahan. Dan persembahannya mengatasi semua persembahan semua orang kaya. Tiada amal kasih yang tak bernilai di hadapan Allah. Ia telah menganugerahi manusia secara berbeda-beda, tetapi Ia tidak pernah menuntut belarasa yang berlainan” (dikutip dari Sermon 20.3.1)

Oratio-Missio

  • Tuhan, semua yang ada padaku berasal dari-Mu. Sadarkanlah aku untuk memberi dengan suka rela dan murah hati, karena apa yang ada padaku berasal dari-Mu. Amin.
  • Apa yang perlu aku lakukan untuk memberikan seluruh diriku kepada Allah?

haec autem ex eo, quod deest illi, omnem victum suum, quem habuit misit  Lucam 21:4 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here