Lectio Divina 24.02.2021 – Tanda Yunus

0
196 views
Ilustrasi: Tanda Yunus dan Sarkofagus Yunus by Vatican Museums.

Rabu. Pekan Prapaskah I (U)

  • Yun. 3:1-10.
  • Mzm.51:3-4.12-13.18-19.
  • Luk.11:29-32

Lectio

29 Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. 30 Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini.

31 Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo.

32 Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus.”  

Meditatio-Exegese

Angkatan ini adalah angkatan yang jahat

Menuntut tanda/bukti dari Yesus merupakan bencana hidup rohani paling parah. Ketika orang Farisi dan ahli Taurat menuntut tanda, mereka menutup diri pada Allah yang hendak menyatakan diri-Nya.

Sikap mereka berbeda dengan sikap Simeon, yang membuka diri pada bimbingan Roh Kudus.

Keterbukaan hatinya memungkinkannya bersuka cita karena ia melihat keselamatan yang datang dari Allah, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel” (Luk. 2:29-32). 

Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe

Kepada orang-orang yang menutup diri Yesus hanya memberi tanda Yunus. Yunus adalah tanda kehadiran dan peringatan Allah untuk bangsa Ninive.

Mendengar tanda untuk bertobat, bangsa yang tidak mengenal Allah itu berbalik kepada-Nya dan berpuasa.

Atas tindakan bangsa bukan Yahudi itu, “menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya.” (Yun. 3:10).

Kalau bangsa Ninive mengenal Allah yang berbelas kasih, kaum Farisi dan ahli Taurat tidak.

Yunus menjadi tanda kebangkitan Yesus.

Santo Matius menulis, “Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam” (Mat. 12:40).

Ketika ikan besar itu memuntahkan Yunus dari perutnya setelah tiga hari, ia berangkat ke Ninive dan mewartkan sabda Allah.

Demikian pula, setelah kebangkitan pada hari ketiga, Kabar Suka cita disebarluaskan ke segala penjuru. (Mrk. 16:20).

Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini

Yesus tidak mengenakan gelar Mesias. Ia mengenakan gelar Anak Manusia. Ia akan datang dalam kemuliaan dan kuasa seperti penglihatan Nabi Daniel (Dan 7:13-14).

Dan Ia mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba, δουλου, doulou, dari kata dasar doulos (Fil. 2:5-11).

Ia dikandung oleh perempuan sederhana, Maria.

Ia lahir seperti kebanyakan kaum miskin di Betlehem, dibungkus dengan kain lampin dan dibaringkan di palungan (Luk. 2:7). Ia bahkan menyamakan diri dengan hamba atau budak.

Tentang Hamba Yahwe, Nabi Yesaya bernubuat, “Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya.

Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan.

Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” (Yes. 53:2-5).

Maka, Ia tidak dikenal. Ia tetap menjadi tanda bagi angkatan ini dan menimbulkan perbantahan tidak ada henti. (Luk. 2:34).

Manusia dituntut untuk mengenali kehadiran-Nya. Yesus mengingatkan kisah Ratu dari Selatan, yang menjumpai Salomo dan belajar dari kebijaksanaan-Nya (bdk. 1Raj. 10:1-10).

Dan dua kali Yesus mengingatkan angkatan itu, “sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo.” (Luk 11: 31) dan “sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!” (Luk. 11:32).

Ia mengajak setiap orang untuk mengenali tanda-Nya (Luk. 11:30), ”Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini”, Nam sicut Ionas fuit signum Ninevitis, ita erit et Filius hominis generationi isti.

Bangunlah, pergilah ke Niniwe

Untuk kedua kali Allah memerintah Yunus pergi ke Ninive. Ia enggan karena berpikir bahwa keselamatan hanya diperuntukkan bagi bangsanya. Kerahiman dan belas kasih-Nya tidak dibatasi oleh apa pun ciptaan manusia.

Maka, ketika tahu bahwa Allah berbelas kasih pada bangsa yang tidak mengenal Allah itu, marahlah Yunus.

”Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya, “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku?

Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.

Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.” (Yun. 4:1-3).

Sampai sekarang Yunus tetap menjadi tanda bagi orang Yahudi dan orang Kristiani. Yesus menghendaki semua orang menjadi murid-Nya.

Menjadi Katolik hanya cara untuk menjadi murid-Nya. Maka, semua orang Katolik membuktikan diri menjadi tanda kehadiran-Nya, bersuka cita, memancarkan dan mewartakan Kabar Suka Cita Allah kepada segala makhluk. (Mrk. 16:15).

 Katekese

Jangan berhenti bertobat, hari esok mungkin tiada. Santo Augustinus, Uskup Hippo, 354-430:

“Allah kini tidak lagi berat hati dalam menghadapi kalian, sehingga Ia membatalkan untuk menjatuhkan penghukuman atas diri kalian.

Maka, jangan berkata, “Besok aku akan bertobat; besok aku akan menyenangkan hati Allah. Dan atas semua yang telah kulakukan hari ini dan kemarin telah diampuni-Nya”.

Apa yang kalian katakan benar: Allah telah menjajikan pengampunan jika kalian berpaling kepada-Nya. Tetapi, apa yang belum Ia janjikan adalah bahwa kalian akan memiliki hari esok saat kalian hendak bertobat.” (dikutip dari Commentary on Psalm 144,11)

Oratio-Missio

  • Tuhan, ubahlah hatiku yang membatu. Penuhilah dengan kebijaksanaan-Mu agar aku menyukai jalan-Mu. Kuatkanlah aku untuk mengatasi setiap pencobaan. Amin.
  • Apa yang harus aku lakukan untuk selalu mengenali tanda kehadiranNya? 

Nam sicut Ionas fuit signum Ninevitis, ita erit et Filius hominis generationi isti – Lucam 11: 30  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here