Lectio Divina 24.07.2021 – Gandum Dikumpulkan, Lalang Dibakar

0
199 views
Ilustrasi: Pada waktu panen lalang dibakar dan gandum disimpan by Vatican News.

Sabtu. Pekan Biasa XVI (H)

  • Kel. 24: 3-8.
  • Mzm.50: 1-2.5-6.14-15.
  • Mat. 13: 24-30.

Lectio

24 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. 25  Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi.

26 Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. 27 Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu?

28 Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? 29 Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.

30 Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.”

Meditatio-Exegese

Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya

Dua orang petani yang bermusuhan menaburkan benih yang berbeda.  Sang pemilik ladang bekerja pada siang hari saat surya menerangi bumi. Kala cahaya menyibak kelamnya malam, ia keluar rumah dan pergi ke ladang.

Pasti ketika ia memulai bekerja, tanah di ladang pertaniannya tidak berbentuk seperti yang diinginkan-Nya (Bdk. Kej 1:2). Ia mengolah tanahnya dan menabur benih kebaikan saat matahari bersinar.

Maka, sabda-Nya (Mat 13:24), “Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.” Simile factum est regnum caelorum homini, qui seminavit bonum semen in agro suo.

Namun, pada saat malam, tanpa sepengetahuan siapa pun, menaburlah sang musuh di ladang yang telah ditaburi benih gandum. Kapan si jahat ini datang dan menabur hanya dialah yang tahu.

Yang dapat dipastikan adalah ia menunggu saat yang tepat (bdk. Luk 4:13). Dan setelah menaburkan lalang, hama tanaman gandum, ia pergi tanpa peduli.

Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu

Gandum dan lalang tumbuh bersama. Pada awal pertumbuhan keduanya sulit dibedakan, sehingga sulit juga untuk diatasi.

Mencabut lalang, berisiko mematikan gandum. Maka, para pekerja bertanya : “Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu?” 

Lalang, kejahatan dosa pasti berasal dari setan (Mat 13:39). Setan selalu memecah belah dan menyimpang. Ia berkeinginan kuat menguasai. Ia mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri dan menganggap dirinya paling penting dan menentukan.

Ia adalah musuh yang siap siaga dalam diam di antara anggota komunitas.

Gandum dan lalang menggambarkan bagaimana dinamika pertarungan antara kebaikan dan kejahatan dalam sejarah manusia. Kerajaan Allah harus diperjuangkan dengan sepenuh tenaga melalui kesabaran, belajar hidup bersama dan berdialog dengan pelbagai macam bentuk kejahatan yang tersamar. 

Namun, yakinlah bahwa pada akhirnya nanti, akan terjadi pemilahan: mana yang gandum dan mana yang lalang.

Sabda-Nya (Mat 13:30), “Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar.” Colligite primum zizania et alligate ea in fasciculos ad comburendum ea.

Katekese

Tuhan menabur benih yang baik dalam hatimu. Santo Chromatius, wafat 406:

“Dengan jelas Tuhan menunjukkan bahwa Ia adalah Sang Penabur benih yang baik. Ia tidak berhenti menabur di dunia sebagaimana di ladang.

Sabda Allah adalah seperti benih yang baik dalam hati manusia, sehingga masing-masing kita, menurut benih yang ditabur dalam diri kita oleh Allah, menghasilkan buah-buah roh dan surgawi.” (dikutip dari Tractate On Matthew  51.1)

Oratio-Missio

Tuhan, semoga sabdaMu berakar dalam-dalam di dalam hatiku dan aku mampu menghasilkan buah yang baik demi kemuliaan-Mu. Semoga aku selalu lapar akan kebenaranMu agar aku siap menghadapi hari pengadilan dengan penuh suka cita. Amin.               

  • Mengapa aku menabur benih kebaikan?

Colligite primum zizania et alligate ea fasciculos ad conburendum, triticum autem congregate in horreum meum – Matthaeum 13: 30  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here