Lectio Divina 24.10.2020 – Biarkanlah Dia Tumbuh Tahun Ini Lagi

0
211 views
Biarkanlah Dia Tumbuh Tahun Ini Lagi - Harold

Sabtu (H)

  • Ef. 4:7-16
  • Mzm. 122:1-2,3-4a,4b-5
  • Luk. 13:1-9

Lectio

1 Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. 2 Yesus menjawab mereka: “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?

3 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. 4 Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? 5 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.”

6 Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. 7 Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!

8 Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, 9 mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!”

Meditatio-Exegese

Kabar tentang orang-orang Galilea dan 18 orang mati ditimpa menara dekat Siloam

Dalam perjalanan ke Yerusalem, banyak orang mengabarkan pada Yesus kekejaman Pontius Pilatus. Wali Negeri Israel ini memerintahkan pasukannya untuk membantai orang Yahudi dari Galilea di pelataran Bait Allah dan mencampurkan darah mereka dengan darah hewan korban.

Tidak diketahui pasti apa penyebab kemarahan sang gubernur Romawi ini dan mengapa ia memilih tempat pembantaian di tempat tersuci bagi kaum Yahudi, Bait Allah. Bagi bangsa Yahudi tindakan politis ini sangat biadab dan melanggar hukum kesucian agama mereka.

Mereka juga menyampaikan kematian 18 orang dekat Siloam. Mereka menjadi korban menara yang runtuh  atau setelah dihantam badai.

Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian

Orang Yahudi saat itu selalu menghubungkan kematian karena kemalangan dan bencana selalu diakibatkan oleh dosa yang diperbuat di masa lalu.

Para korban itu pasti berdosa dan kena tulah. Kitab Amsal mengingatkan bahwa dosa dapat menyebabkan bencana, “Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.” (Ams. 24:16).

Yesus justru menggunakan laporan pandangan mata itu untuk menyingkapkan kebobrokan orang Yahudi. Yesus membenci cara pemerintahan yang menindas dengan tangan besi (Mat. 20:25) dan menyebut Herodes Antipas sebagai serigala (Luk. 13:32). Apa yang dimaksudkan-Nya jelas: para pembesar di Galilea.

Para orang terpandang di Galilea ternyata menjadi kaki tangan Herodes Antipas, raja wilayah dan bawahan Romawi. Mereka ikut menindas, menghisap dan mengeksploitasi daerah yang subur dan penduduk miskin. Mereka makmur di atas penderitaan rakyat jelata (bdk. Luk. 16:19-30).

Maka, bila para murid-nya berperilaku seperti itu, Ia terus menggemakan sabda-Nya (Luk. 13:3.5), “Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.”, Non, dico vobis, sed, nisi paenitentiam egeritis, omnes similiter peribitis.

Demikian juga, para pemuka di Yerusalem menciptakan tata cara pengelolaan ekonomi Bait Allah agar seluruh potensi ekonomi terkait dengan peribadatan dapat mereka kuasai.

Menggemakan nubuat Nabi Yesaya dan Nabi Yeremia, Yesus dalam kemarahan-Nya mengecam para penguasa Bait Allah dan bawahan mereka, karena mengubah rumah doa menjadi sarang penyamun atau kejahatan (Luk. 19:45-46; Yes. 56:7; Yer. 7:11).

Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi

Kebobrokan manusia rupanya telah menyebabkan kejengkelan di pihak Allah. Ia mengharapkan manusia menghasilkan kebaikan, seperti buah ara yang manis, tetapi yang didapatinya adalah kebobrokan.

Manusia, pohon ara yang ditanam di kebun anggur, ternyata tidak menghasilkan apa-apa (bdk. Yes. 28:4; Yer. 8:13; Hos. 9:10), walaupun ditanam di kebun anggur dan rawat dengan baik sampai tua (bdk. Im. 19:23-25). Karena tidak menghasilkan apa-apa, pohon ara itu layak ditebang (Luk. 13:7).

Akan tetapi, si pengelola kebun anggur menolak perintah untuk menebang. Ia malah meminta supaya pohon itu diberi kesempatan hidup setahun lagi. Ia, bahkan, berusaha keras untuk mencangkul dan memupuk dengan harapan pohon itu berbuah di tahun berikut (Luk. 13:8-9). 

Maka, melalui perumpamaan ini Yesus menyingkapkan kesabaran dan kerahiman  Allah yang tak terbatas.

Namun, Ia juga mengingatkan akan pengadilan yang pasti, cepat atau lambat, akan datang. Allah datang untuk mengadili manusia, seperti dinubuatkan Nabi Yesaya (Yes. 26:9), “Sebab apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar.”,Cum resplenduerint iudicia tua in terra, iustitiam discent habitatores orbis.

Supaya didapati Allah benar dan tidak ditebang (Luk. 13:9), hasilkanlah buah ara yang manis bagi-Nya. Buah yang manis: iman, harapan, kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (bdk. Gal. 5:22-23).

Katekese

Tiga kali Tuhan mengunjungi kita pada jaman bapa bangsa, para nabi dan Injil.  Santo Augustinus dari Hippo, 354-430:

“Sangat tepat Tuhan bersabda pada pohon yang tak menghasilkan buah itu, “Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!”

Tetapi si tukang kebun itu memohon.

Pohon ara ini adalah umat manusia. Tuhan mendatangi pohon ini pada jaman para bapa bangsa; sepertinya, inilah kunjungan pertama-Nya. Ia mengunjungi pohon itu pada masa penerapan Hukum dan para nabi; sepertinya, inilah kunjungan tahun kedua. Kini adalah jaman kita; melalui Injil tahun ketiga sudah dimulai.

Kini sepertinya sudah waktunya pohon ini ditebang; tetapi dia yang berbelas kasih memohon pada Dia yang berbelas kasih.

Ia hendak menunjukkan betapa hati-Nya penuh belas kasih dan kerahiman, maka ia berdiri dihadapan-Nya untuk memohon pengampunan. “Tuan,” katanya, “biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi. Aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya.”

Memberi pupuk merupakan tanda kerendahan hati.  “Aku memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah”.

Apakah pohon itu akan berbuah, atau, sebaliknya, tidak berbuah sama sekali, Tuannya tetap akan datang dan memisahkannya. Apa yang dimaksud dengan ‘memisahkan’?

Dalam komunitas sekarang terdapat orang yang baik dan orang yang jahat, seolah-olah mereka membentuk satu kesatuan tubuh” (dikutip dari Sermon 254.3)

Oratio-Missio

  • Tuhan, kuatkanlah niat hatiku untuk tumbuh dalam kebenaran dan kesucian. Semoga aku tidak menyia-siakan anugerah-Mu. Ajarilah aku untuk selalu menjawab “ya” atas rencana-Mu dan kehendak-Mu dalam hidupku. Amin.
  • Apa yang perlu aku lakukan supaya terhindar dari kebinasaan?

et si quidem fecerit fructum: sin autem, in futurum succides eam – Lucam 13:9  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here