Lectio Divina 25.04.2022 – Kamulah Saksi Injil untuk Segala Makhluk

0
245 views
Kamulah Saksi Injil Untuk Segala Makhluk Setelah berbicara pada para murid, Yesus naik ke surga, by Vatican News.

Senin. Pesta S. Markus, Penulis Injil (P)

  • 1Ptr. 5:6b-14.  
  • Mzm. 89:2-3.6-7.16-17               
  • Mrk. 16:15-20

Lectio

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. 16 Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. 17 Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, 18 mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

19 Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. 20 Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

Meditatio-Exegese

Markus

Santo Markus dan Lukas memegang perang sangat penting dalam pembinaan hidup iman jemaat Gereja Perdana. Mereka berdua menulis Injil Tuhan Yesus Kristus, walau bukan termasuk anggota para Rasul, yang dua belas itu.

Santo Augustinus, Uskup dari Hippo,  menulis, “Roh Kudus berkehendak memilih dua orang, yang bukan termasuk anggota ke-12 Rasul, untuk menulis Injil. Hal ini disebabkan supaya tidak ada pemikiran bahwa rahmat pewartaan Injil hanya  ditujukan kepada para Rasul; bila demikian, pada merekalah sumber rahmat menjadi kering.” (Sermon 239.1).

Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka

Kesebelas rasul tidak begitu saja percaya pada penampakan Yesus seperti diwartakan Maria Magdalena (Mrk. 16:9-11) dan dua orang murid lain, walaumengalami penampakan sepanjang perjalanan ke luar kota (Mrk. 16:12-13). Hati mereka seolah tertutup.

Santo Markus menggambarkan mereka tidak percaya dan berhati degil, σκληροκαρδιαν, sklerokardian, skleros,  keras karena menjadi kering, kardia, hati. Dalam teks Latin Vulgata diungkapkan melalui frasa, duritiam cordis, duritia, kekerasan, hardness, cor, hati.

Yesus mencela ketidak percayaan dan kekerasan hati mereka. Beberapa kali Santo Markus menyinggung tentang sikap itu. Beberapa alasan melatar belakangi sikap mereka. Pertama, mereka adalah Rasul yang dipilih Yesus sendiri (Mat. 10:1-4; Mrk. 3:13-19; Luk. 6:12-16). Maka, mereka menginginkan untuk mengalami sendiri pengalaman penampakan itu.

Dan ternyata, setelah mengalami sendiri, sirnalah penolakan mereka. Mereka sekarang menjadi saksi independen, tidak tergantung dari orang lain.

Selanjutnya, Santo Markus menekankan bahwa iman pada Yesus diwartakan melalui pewartaan iman oleh mereka yang bersaksi tentang-Nya. Dan terakhir, setiap orang hendaklah terus setia pada iman akan Yesus, walau diragukan oleh kesebelas rasul-Nya sekalipun.

Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk

Yesus memberi mandat kepada para rasul dan pengganti mereka serta seluruh umat untuk pergi ke seluruh dunia dan memberitakan Injil kepada segala makhluk. Ungkapan yang digunakan Santo Markus: κοσμον, kosmon, dari kata kosmos, alam semesta dan παση τη κτισει, pasei tei ktisei, kepada segala makhluk.

Cakupan pewartaan tidak hanya kepada segala bangsa (bdk. Mat. 28:19; Luk. 24:47), tetapi juga kepada  segala makhluk hingga ke seluruh penjuru semesta. Bagi Santo Markus, Yesus yang bangkit dari kematian adalah Tuhan seluruh alam semesta, kosmos. Dialah Raja alam raya (bdk. Kol. 1:15-20; Ef. 1:10).

Para pewarta Injil diberi mandat untuk mewartakan Injil, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” (Mrk. 16:15-16).

Barang siapa menerima pewartaan Injil, berani percaya kepada Sang Penebus, ia dibaptis. Ia diangkat menjadi anak Allah dan anggota Gereja. Namun, yang menolak untuk percaya, ia akan dihukum.

Santo Augustinus, Uskup dari Hippo, 354-430, menulis, “Perintah pada para para Rasul untuk bersaksi tentang Dia mulai Yerusalem, Yudea, Samaria, dan, bahkan hingga ke ujung-ujung bumi (Kis. 1:8) bukan melulu ditujukan kepada mereka yang disapa Tuhan secara langsung.

Mereka bukanlah satu-satunya yang harus menyelesaikan tugas yang sangat berat itu. Serupa pula, seolah-olah Tuhan hanya menyapa para Rasul secara pribadi ketika Ia bersabda, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20).

Namun, siapakah yang tidak tahu bahwa Ia menjanjikan penyertaan-Nya pada Gereja universal yang akan berlangsung mulai dari sekarang hingga akhir jaman, terus menerus, tanpa kunjung putus?” (Letter 199, To Hesychius 49).

Kepada para murid yang mewartakan InjilNya, Ia memberi tanda, sebagai berikut.

Mengusir setan-setan demi namaNya. Setiap pewarta harus berjuang melawan kuasa kejahatan yang menghancurkan hidup; melawan takhyul, perjudian dan hiburan tidak sehat; dan berlaku adil, jujur serta menegakkan hak asasi manusia (bdk. Janji Baptis, Puji Syukur, 98). 

Berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru. Setiap pewarta harus mulai berkomunikasi dengan cara yang baru. Kadang mereka berjumpa dengan orang yang berbahasa ibu berbeda, maka dituntut kemampuan berbicara dalam bahasa mereka.

Tetapi, yang paling sempurna adalah bahasa kasih.

Santo Paulus menegaskan, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.” (1Kor. 13:1).

Racun maut tidak membuat celaka. Kasak-kusuk, kesaksian palsu dan fitnah dalam pelbagai bentuk menghancurkan hidup bersama dalam komunitas.

Santo Paulus mengingatkan, “Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah, dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.” (Kol. 3:8).

Racun yang mengerikan itu dapat dihancurkan dan tidak akan berdaya bila tiap pengikut-Nya mengembangkan kemampuan untuk mendengarkan.

Paus Fransiskus mengajarkan “Mendengarkan tidak pernah mudah. Sering kali lebih mudah untuk menulikan diri. Mendengarkan berarti memberi perhatian, ingin memahami, menghargai menghormati, dan mempertimbangkan apa yang dikatakan orang lain.

Mendengarkan menuntut pengorbanan diri, karena kita mencoba mengikuti teladan Musa di hadapan semak yang menyala: kita harus melepaskan kasut  ketika berdiri di “tanah yang kudus” untuk menjumpai Ia yang berbicara dengan diriku (bdk. Kel. 3:5).

Memahami makna mendengarkan merupakan rahmat yang luar biasa; rahmat itu perlu kita mohon dan, kemudian, kita berusaha keras untuk melaksanakannya.” (Message For The 50th World Communications Day, 24 Januari 2016).

Mereka akan sembuh. Ketika setiap orang menyadari kehadiran Allah, saat itulah mereka bergerak untuk memperhatikan mereka yang disingkirkan, ditindas dan dibuang. Setiap pewarta harus memperhatikan pertama-tama kepada mereka yang sakit, lemah, kecil, marginal dan difabel.

Mereka tidak hanya dibebaskan dari penyakit yang menggerogoti raga, tetapi yang lebih penting adalah mereka merasa diterima dan dikasihi. Mereka diterima sebagai sesama.

Santo Markus menulis kesaksiannya sendiri (Mrk. 16:20), “Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.”, Illi autem profecti praedicaverunt ubique, Domino cooperante et sermonem confirmante, sequentibus signis

Katekese

Ketentuan tentang Baptis Bayi, Kitab Hukum Kanonik.

“Para orangtua wajib mengusahakan agar bayi-bayi dibaptis dalam minggu-minggu pertama; segera sesudah kelahiran anaknya, bahkan juga sebelum itu, hendaknya menghadap pastor paroki untuk memintakan sakramen bagi anaknya serta dipersiapkan dengan semestinya untuk itu.

Bila bayi berada dalam bahaya maut, hendaknya dibaptis tanpa menunda-nunda.” (Kan. 867)

Oratio-Missio

Tuhan, melalui anugerah Roh Kudus, Engkau memenuhi hati kami dengan semangat pantang menyerah, suka cita dan kekuatan untuk menanggung cobaan.

Semoga aku selalu setia menjadi saksi kebangkitan-Mu, kemenangan-Mu atas maut dan anugerah hidup kekal bagi mereka yang ada di sekelilingku. Amin.

  • Apa yang perlu aku lakukan karena aku bersedia menjadi pewarta-Nya?

Illi autem profecti praedicaverunt ubique, Domino cooperante et sermonem confirmante, sequentibus signis – Marcum 16:20

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here