Lectio Divina 27.06.2020 – Aku Tidak Layak Menerima Tuan

1
256 views
Aku Tidak Layak Menerima Tuan by brooklynmuseum.org

  Sabtu (H)

  • Rat.2:2.10-14.18-19
  • Mzm 74:1-2.3-5a.5b-7.20-21
  • Mat.8:5-17

Lectio

5  Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: 6  “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” 7  Yesus berkata kepadanya: “Aku akan datang menyembuhkannya.” 8  Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.

9  Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.”

10  Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel. 11  Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, 12  sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

13  Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya. 14  Setibanya di rumah Petrus, Yesuspun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. 15  Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Iapun bangunlah dan melayani Dia.

16  Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. 17  Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”

Meditatio-Exegese

Datanglah seorang perwira mendapatkan Dia

Pasti terjadi kehebohan luar biasa di Kapernaum di lingkungan komunitas Yahudi ketika Yesus mau bercakap dengan perwira tentara Romawi. Ia berinteraksi dengan orang yang dipandang najis dan dibenci seluruh bangsa.

Bangsa Yahudi membenci bangsa Romawi. Kebencian bukan hanya karena penjajahan dan penghisapan seluruh sumber daya. Tetapi juga,  karena mereka  mencerminkan seluruh apa yang ditentang bangsa Yahudi.

Bangsa Romawi percaya dan menyembah berhala; melakukan praktik hidup menyimpang – aborsi dan pembunuhan bayi; dan pelarangan atas tuntutan untuk menjadi bangsa yang kudus yang hanya berpegang pada hukum Allah (teokrasi).

Yesus tidak hanya menerima perwira itu dengan penuh kehangatan, tetapi ia juga memujinya sebagai model iman dan kepercayaan kepada Allah. Jabatan perwira berarti ia memiliki bawahan sebanyak seratus orang prajurit.

Dalam struktur militer Kekaisaran Romawi, perwira merupakan tulang punggung seluruh pasukan Romawi. Mereka hanya bersatu hati, jiwa dan raga dengan perwira lain untuk menjamin kekompakan seluruh pasukan.

Polybius, penulis Romawi kuna, melaporkan, “Para perwira haruslah orang yang suka bertualang menentang bahaya, karena mereka adalah orang yang memegang komando. Mereka harus siap untuk bertindak, dan dapat diandalkan.

Mereka harus mampu mengesampingkan kecemasan ketika harus masuk medan laga; tetapi ketika ditekan dan diserang, mereka harus siap mati berkalang tanah dan mati demi kehormatan pataka mereka.”

Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku

Perwira itu mengabaikan seluruh kecaman yang mungkin akan menimpa dirinya baik dari kalangan orang Romawi sendiri, maupun orang Yahudi. Ia mendekati Yesus dengan keberanian dan kerendahan hati. Ia menjadi orang yang sangat luar biasa.  

Jauh dari rumah, perwira Romawi itu merendahkan diri dan meminta Yesus menyembuhkan budaknya. Ungkapan yang digunakan adalah παις, pais, bermakna: anak laki-laki atau puer dalam Latin atau budak laki-laki. Kiranya makna yang terakhirlah yang diacu dan di-Indonesia-kan menjadi hamba.

Dalam pandangan orang Romawi, seorang budak atau hamba dapat diperlakukan apa saja, termasuk dilemparkan ke kandang untuk menjadi mangsa bianatang buas. Tetapi, yang terjadi adalah: perwira itu begitu mengasihi hambanya.

Ia percaya Yesus mampu menyembuhkan hambanya. Ungkapan iman, harapan, dan kasih, serta kerendahan hatinya hingga kini masih diteladani dan dihormati seluruh umat Katolik dalam perayaan Ekaristi, ketika didaraskan ucapannya (dikutip dari Tata Perayaan Ekaristi: Buku Umat, halaman 95): “Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.” Domine, non sum dignus ut intres sub sectum meum: sed tantum dic verbo, et sanabitur anima mea.

Santo Matius tidak mau terjebak dalam mewartakan Yesus seperti gambaran Mesias yang berkembang di masyarakat. Ia tetap setia dengan citra Mesias sebagai Hamba Yahwe yang menderita sengsara, seperti nubuat nabi Yesaya (Mat. 8:17; bdk. Yes. 53:4), “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”, Ipse infirmitates nostras accepit et aegrotationes portavit.

Katekese

Menyambut Tuhan Yesus dengan penuh harapan, iman dan kerendahan hati. Santo Augustinus, Uskup dari Hippo, 354-430:

“Ketika Tuhan berjanji untuk datang ke rumah perwira Romawi itu dan menyembuhkan hambanya, perwira itu berkata, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.

Dengan memandang dirinya sendiri sebagai orang yang tak layak, ia menunjukkan diri layak bagi Kristus untuk datang tidak hanya ke rumahnya, tetapi juga ke dalam hatinya. Ia mungkin tidak akan mengatakan kata-kata ini dengan penuh keyakinan iman jika ia tidak menyambut dalam hatinya Dia yang mendatangi rumahnya.

Tuhan mungkin tidak pernah bersuka cita untuk tidak mendatangi rumahnya dan tidak memasuki hatinya.

Guru kerendahan hati, baik melalui tutur kata dan teladan, duduk juga di dalam rumah Simon, orang Farisi yang sangat sombong.

Namun, walau Ia duduk di rumahnya, Ia tidak pernah diberi tempat di hati si Farisi itu. Karena di hatinya, Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepalanya” (Mat. 8:20).” (dikutip dari Sermon 62.1).

Oratio-Missio

  • Tuhan, melalui anugerah Roh Kudus, Engkau memenuhi hati kami dengan semangat yang menyala-nyala dan selalu bersuka cita. Bantulah aku untuk menjadi saksi-Mu yang setia bagi sesama di sekelilingku agar mereka mengenal-Mu, yang telah mengalahkan maut dan menganugerahkan hidup abadi. Amin.
  • Apa yang perlu aku lakukan agar kesaksianku layak dipercaya?

Domine, non sum dignus, ut intres sub tectum meum, sed tantum dic verbo, et sanabitur puer meus – Matthaeum 8:8

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here