Lectio Divina 28.10.2020 – Dipanggil dan Diutus sebagai Utusan-Nya

0
217 views
Ilustrasi - Dipanggil dan diutus.

Rabu. Pesta Santo Simon dan Yudas, Rasul (M)

  • Ef.2:19-22
  • Mzm 19:2-3.4-5
  • Luk 6:12-19

Lectio

12 Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. 13  Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul:

14  Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, 15  Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, 16  Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.

17  Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon.

18  Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan. 19  Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya.

Meditatio-Exegese

Ia memanggil

Ketika Yesus menyadari bahwa jumlah murid-Nya makin banyak, Ia memutuskan untuk memilih dari mereka yang dijadikan duta/utusan atas nama-Nya. Maka, Ia memilih dari antara para murid αποστολους, apostolos, berakar dari kata kerja apostello, mengirim, mengutus.

Yesus tidak memanggil orang hebat atau profesional. Setelah berdoa semalam-malaman (Luk. 6:12), Yesus memilih kedua belas orang dari kalangan orang kebanyakan. Santo Lukas melukiskan (Luk. 6:13), “Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul.”, vocavit discipulos suos; et elegit duodecim ex ipsis quos et apostolos nominavit.

Mereka berlatar belakang: nelayan, pemungut cukai, petani, pejuang/tentara rakyat. Ia memanggil mereka bukan karena mereka luar biasa. Tetapi Ia membantu mereka agar   mampu melaksanakan tugas pengutusan secara luar biasa karena mengikuti bimbingan dan kuasa-Nya. Kendati sering mengalami kegagalan, benih Kerajaan Allah yang mereka taburkan atas perintah-Nya  tumbuh subur dan menghasilkan hingga seratus kali lipat (Luk. 8:8).

Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus

Bapa Suci Benedictus XVI, pada Audiensi Umum tanggal 11 Oktober 2006 melukiskan Rasul Simon dan Yudas sebagai berikut. Simon diberi nama panggilan yang berbeda-beda dalam Injil. Matius dan Markus  menggambarkannya sebagai Simon, orang Kanaan. Sedangkan Lukas menyebutnya sebagai orang “Zelot”.

Hakikatnya, kedua gambaran itu sepadan, karena kedua kata mengungkapkan makna yang sama. Dalam bahasa Ibrani, kata kerja qanà berarti: cemburu, bersemangat, berkobar-kobar, dan dapat digunakan untuk Allah, karena Ia selalu cemburu pada umat pilihanNya (bdk. Kel. 20:5); dan dapat juga digunakan untuk manusia yang hatinya berkobar-kobar melayani Allah dengan sikap bakti padaNya sepenuh jiwa, raga dan budi, seperti Nabi Elia (bdk. 1 Raj 19:10).

Maka, seandainya Simon tidak menjadi anggota gerakan nasionalis Zelot, ia paling tidak berusaha keras untuk mempertahankan identitasnya sebagai orang Yahudi, berjuang demi Allah dan umatNya serta menegakkan Hukum ilahi.

Yudas Tadeus, demikian tradisi memanggil Rasul ini. Panggilan itu menggabungkan dua nama: Matius dan Markus memanggil sang rasul dengan nama Tadeus (Mat. 10:3; Mrk. 3:18); Lukas memanggilnya “Yudas, anak Yakobus” (Luk 6: 16; Kis 1: 13).

Nama panggilan Tadeus tidak dapat dijelaskan secara pasti asal muasalnya. Tetapi kemungkinan berasal dari bahasa Aram, taddà, yang berarti: dada, dan, mungkin juga mengacu pada ‘berbudi luhur’. Atau kemungkinan laian nama itu merupakan penyingkatan dari nama Yunani, seperti: Theodòros, Theòdotos.

Sangat sedikit informasi yang kita ketahui tentang Yudas. Hanya Yohanes sendiri yang mencatat pertanyaan yang disampaikannya kepada Yesus pada Perjamuan Terakhir. Tadeus bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” (Yoh. 14:22). 

Pertanyaannya terus bergema hingga kini: mengapa Tuhan Yang Bangkit tidak menyatakan diri pada para musuhNya dengan penuh kemuliaan untuk menunjukkan bahwa Allah telah menang dan jaya?

Mengapa Ia hanya menyatakan diriNya pada para muridNya? Jawaban Yesus penuh misteri dan dalam maknanya. Tuhan bersabda, “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” (Yoh. 14:23).

Ini berarti bahwa Tuhan Yang Bangkit harus dilihat, harus dimengerti juga dengan hati, dengan cara ini Allah tingga di dalam diri kita. Tuhan tidak menampakkan diri sebagai barang. Ia menghendaki untuk terlibat dalam hidup kita.

Maka, Ia menuntut keterbukaan pada diri kita untuk menerima penyingkapan diri-Nya. Hanya dengan cara ini kita melihat Dia Yang Bangkit.

Yudas merupakan salah satu penulis Surat Perjanjian Baru yang disebut ‘katolik’. Suratnya dialamatkan tidak secara khusus pada jemaat tertentu, tetapi dikirim untuk kalangan yang lebih luas.  Sebenarnya surat itu dialamatkan “kepada mereka yang dipilih dan dikasihi Allah Bapa, serta yang dipelihara bagi Yesus Kristus.” (Yud. 1:1).

Mereka datang, mendengarkan Dia, disembuhkan dari penyakit dan roh jahat

Yang datang kepada Yesus berasal dari bangsa Yahudi dan non-Yahudi. Kabar Gembira merangkul segala bangsa. Tantangan yang dihadapi para murid jaman sekarang dirumuskan oleh bapa Konsili Vatikan II: “Tidak pernah bangsa manusia begitu berlimpah harta-kekayaan … serta kekuatan ekonominya; akan tetapi sebagian masih sangat besar penghuni dunia tersiksa karena kelaparan dan kekurangan, dan tak terhitunglah jumlah mereka yang sama sekali buta huruf; …

Namun sementara itu muncullah jenis-jenis baru perbudakan sosial dan psikis; … tertimpa oleh perpecahan yang amat gawat akibat kekuatan-kekuatan yang saling bermusuhan; … berlangsunglah pertentangan-pertentangan yang sengit di bidang politik, sosial, ekonomi, “kesukuan” dan ideologi; dan tetap berkecamuk bahaya perang yang akan menggempur habis-habisan segala sesuatu.” (dikutip dari Konstitusi Pastoral tentang Gereja, Gaudium et Spes, 4, bdk. Seruan Apostolik Paus Fransiskus, Gaudium Evangelii, 52-75).   

Katekese

Yesus memilih nelayan dan pemungut cukai sebagai rasul-Nya. Santo Ambrosius dari Milan, 339-397:

“Kitab Suci menulis, “Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang”, yang ditetapkan-Nya untuk menabur iman, untuk menyebar-luaskan bantuan bahwa Allah menyelamatkan seluruh penjuru dunia.

Pada saat yang sama, perhatikan Sang Penasihat Surgawi. Ia tidak memilih orang bijaksana, atau orang kaya, atau bangsawan, atau membelikan mereka harta kekayaan, atau mengundang mereka atas daya tarik kekuasaan dan kebangsawanan.

Ia memilih mereka atas alasan-Nya sendiri, yakni: alasasan kebenaran, bukan karena hasil perselisihan pendapat, agar kebenaran menang.” (dikutip dari Exposition Of The Gospel Of Luke 5.44)

Oratio-Missio

  • Tuhan, inilah aku. Utuslah aku. Amin.
  • Sebagai utusan, apostolos, apa yang perlu aku lakukan untuk Yesus dan Gereja-Nya?

vocavit discipulos suos; et elegit duodecim ex ipsis quos et apostolos nominavit – Lucam 6:13   

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here