Lectio Divina 29.01.2023 – Carilah Tuhan Agar Bahagia

0
367 views
Berbahagialah bersama Yesus Kristus, by Archdiocese of Malta

Minggu. Minggu Biasa IV (H)  

  • Zef. 2:3; 3:12-13
  • Mzm. 146: 6-7. 8-9. 9-10
  • 1Kor. 1:26-31
  • Mat 5: 1-12a

Lectio

1 Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. 2 Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: 3 “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. 

4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.

5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

8  Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.

11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.

12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

Meditatio-Exegese

Carilah TUHAN, hai semua orang

Pesan Allah mudah dimengerti dan dilakukan: “Carilah TUHAN, carilah keadilan, carilah kerendahan hati.” (Zef. 2:3). Nabi Zefanya mengulangi kata kerja ‘carilah’ hingga tiga kali. Perulangan selalu bermakna bahwa pesan itu sangat penting, mendesak atau harus menjadi prioritas pertama.

Pesan Allah melalui nabi-Nya barang kali disampaikan pada masa-masa awal pemerintahan Raja Yosia ketika masih muda, kira-kira 640-630.  Sang nabi melayani Allah sebagai nabi-Nya pada masa pemerintahan keturunan Daud itu, 640-609 sebelum Masehi, di Kerajaan Selatan, Yehuda.

Pesan Tuhan disampaikan saat raja itu masih muda, sebelum ia terlalu tua untuk melakukan pembaharuan hidup keagamaan. Sayang pesan itu kemudian diabaikan oleh anak-anak Yosia yang menggantikannya. Mereka melakukan apa yang jahat di hadapan Allah, hingga dihukum buang ke Babel setelah Yerusalem dan Bait Allah yang dibangun Salomo dihancurkan pada tahun 587/6 sebelum Masehi.

Saat  mengingatkan untuk mencari Tuhan, melakukan keadilan dan bertindak rendah hati, Nabi Zefanya mengingatkan Yerusalem – para pejabat, hakim, nabi dan imam (Zef. 3:3-4) – akan “hari kemurkaan TUHAN” (Zef. 2:3). Kecaman dan nubuatnya, mirip dengan seruan Nabi Amos (Am. 1-2) dan Nabi Yesaya (Yes. 1:21-26).

Dulu Niniwe, ibu kota Asyur, disebut kota besar, kota yang sarat dengan kesombongan. Sekarang Yerusalem dikenal sebagai kota yang “memberontak dan menindas. Kota itu mengabaikan empat anugerah Allah, karena “tidak mau mendengarkan, tidak mempedulikan, tidak percaya dan tidak menghadap Allah.” (Zef. 3:2).

Berbeda dengan seruan kepada Niniwe, seruan penghukuman kepada Yerusalem diakhiri dengan penyingkapan Allah hendak menyelamatkan umat-Nya.

Bangsa-bangsa akan dianugerahi bibir yang bersih dan beribadat kepada-Nya dengan hati tulus. Yang terserak-serak akan dikumpulkan menjadi satu untuk mempersembahkan korban kepada-Nya (bdk. Zef. 3:9-10).

Kelak, umat-nya dipanggil untuk ‘bersorak-sorai’, ‘bergembira’,  ‘bersukacita’ dan ‘bersukaria’ dengan segenap hati (Zef. 3:14). Sorak-sorai, kegembiraan, sukacita, dan sukaria selalu berasal dari Allah, yang berdiam di tengah umat-Nya dan bertindak sebagai Penyelamat (Zef. 3:17). Janji-Nya dipenuhi ketika umat-Nya kembali dari pembuangan Babel.

Nabi Zefanya menubuatkan ‘sisa-sisa’ Israel, kaum Anawim yang akan diselamatkan dan menjadi inti pembaharuan. Tuhan melukiskan mereka sebagai umat yang ‘rendah hati dan lemah lembut’, bukan karena status sosial yang miskin atau melarat, tetapi suatu sikap batin di hadapan Allah.

Dalam teks Septuaginta, yang diterima Gereja Katolik, digunakan ungkapan  πραεις, praeis, lemah lembut, dan ταπεινός, tapeinos, rendah hati.  Ungkapan itu akan menjadi bagian dari kosa kata yang digukanan Yesus, saat Ia bersabda, “belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.” (Mat. 11:29; lih. Mat 5:3.5; 21:5).

Yesus naik ke atas bukit dan duduk

Khotbah panjang bagian pertama digambarkan Santo Matius terjadi di bukit atau tempat yang tinggi. Tindakan-Nya untuk naik ke bukit mengingatkan pada Musa, yang naik ke Gunung Sinai untuk menyampaikan Dasa Firman; sedangkan Yesus, Sang Musa baru, mengumandangkan Sabda Bahagia (bdk. Kel 19:24-25).

Berbeda dengan Musa, yang berbicara atas nama Yahwe, gerak tubuh Yesus menunjukkan bahwa Ia berwibawa dan memiliki kuasa untuk berbicara atas nama-Nya sendiri (Mrk. 1:22). Ia duduk dan mengajar mereka.

Orang banyak dan para murid yang datang dan mengeliling-Nya bersiap mendengarkan pengajaran yang keluar dari mulut-Nya  (Mat. 5:1-2). 

Berbahagialah

Seruan “Berbahagialah/diberkatilah”, μακαριοι, makarioi, menggemakan seruan tentang kebahagiaan yang tercakup dalam Kitab Suci. Dalam Perjanjian Lama, yang disebut “berbahagia” adalah mereka yang menghayati Kebijaksanaan (Sir. 25:7-10).

Kitab Mazmur, misalnya,  menggemakan yang berbahagia bukan hanya orang per orang yang hidup menurut sabda Tuhan (bdk. Mzm. 1:1). Yang berbahagia juga seluruh bangsa dan suku bangsa yang menjadikan Allah sebagai Tuhan. “Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri!” (Mzm. 32:2).

Yang diserukan “berbahagia” juga mereka yang mengasihi Allah, mencari-Nya dengan tulus hati, dan hidup suci walau mengalami penderitaan (Keb. 1:1; 18:1).

Sabda bahagia mengajarkan akan tujuan akhir panggilan-Nya pada manusia: kedatangan Kerajaan Allah (Mat. 4:17), memandang wajah Allah (Mat. 5:8),masuk dalam suka cita Tuhan (Mat. 25:21-23), dan beristirahat dalam Tuhan (Ibr. 4:7-11).

Tujuan akhir hidup manusia yang ditawarkan Yesus pasti berlawanan dengan apa yang dipilih dan digunakan manusia di sini, di dunia. Manusia cenderung memilih dan menggunakan semua anugerah Allah untuk kepentingannya sendiri.

Jarang ditemukan yang melakukan tindakan berlawanan agere contra, menggunakan segalanya untuk kemuliaan Allah.    

Yesus menyingkapkan bahwa Allah sendiri cukup untuk memenuhi kebutuhan dan kerinduan terdalam hati manusia.

Santa Teresa dari Avila, 1515-1582, menulis dalam pembatas bukunya: “Jangan biarkan apa pun mengganggumu, jangan biarkan apapun menakutimu. Semua hal pasti berlalu; Allah tak pernah berubah. Kesabaran pasti menerima semua yang dirindukannya. Barang siapa memiliki Allah, ia takan akan kehilangan apa pun. Allah sendirlah mecukupi segala.” 

Yesus memenuhi seluruh hidup, bahkan berkelimpahan (Yoh. 10:10).

Yang miskin di hadapan Allah

Dalam teks Yunani diungkapkan οι πτωχοι τω πνευματι, hoi ptochoi to pneumati. Salah satu terjemahan dalam bahasa Inggris adalah: who know they are spiritually poor (Today English Version, yang sadar bahwa mereka miskin secara rohani). Terjemahan lain dalam bahasa Indonesia, AYT-Alkitab Yang Terbuka, “yang miskin dalam roh”.  

Yang miskin di hadapan Allah atau secara rohani selalu hidup dalam ketergantungan kepada Allah. Mereka selalu mengimani Allah dan menjadikan Allah sebagai Tuhan mereka (Mzm. 32:2). Karena mengimani Allah, yang telah mengasihi terlebih dahulu, mereka hidup dengan rendah hati, lemah lembut, selalu mencari Kebenaran.

Seperti diungkapkan dalam Ul. 30:20, Allah menganugerahkan Kerajaan Surga kepada siapa saja yang “mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya.”, et diligas Dominum Deum tuum atque oboedias voci eius et illi adhaereas.

Kata πτωχοι, ptochoi, yang berakar dari kata ptochos, dipahami sebagai sebagai ‘pengemis’, orang yang sepenuhnya tergantung pada bantuan orang lain. Untuk hidup ia hanya mengandalkan kebaikan dan kemurahan hati sesama.

Santo Markus dengan sangat dramatis mengisahkan ketergantungan pengemis buta, Bartimeus, pada kebaikan dan kemurahan hati Yesus untuk kesembuhan-Nya. (Mrk. 10:46-52).

‘Miskin dalam roh’ berseberangan dengan ‘kesombongan’. Orang yang menghayati ketergantungan pada Allah selalu merasa diri tidak berdaya untuk mencukupi diri sendiri. Ia selalu mengakui ketergantungan pada Allah. Ia membutuhkan Allah dalam seluruh hidupnya, menolak keinginan daging untuk merasa mampu mencukupi diri sendiri.

Yang merasa mampu mencukupi diri sendiri dilukiskan sebagai orang yang “membongkar lumbung-lumbungku dan membangun yang lebih besar. Di situ, aku akan menyimpan semua gandum dan barang-barangku.

Lalu, aku berkata kepada jiwaku, ‘Hai jiwaku, engkau mempunyai banyak barang yang tersimpan untuk bertahun-tahun; beristirahatlah, makan, minum, dan bersenang-senanglah.’” (Luk. 12:18-19).

Bapa Suci Fransiskus mengajarkan, “Kekayaan tidak menjamin apa-apa. Justru ketika kita merasa kaya, kita dapat menjadi puas diri sehingga kita tidak menyisakan ruang bagi sabda Allah, bagi kasih akan sesama, atau bagi kegembiraan akan apa yang paling penting dalam hidup ini.

Dengan demikian, kita sama sekali tidak memperoleh kekayaan terbesar dalam hidup. Itulah mengapa Yesus menyebut berbahagialah mereka yang miskin dalam roh, mereka yang miskin hatinya, sebab di sanalah Tuhan dapat masuk dengan kebaruan-Nya yang abadi.” (Seruan Apostilik  Gaudete et Exultate, 68).

Santo Ignatius dari Loyola mengajarkan bahwa miskin dalam roh sangat dekat dengan penghayatan atas semangat ‘lepas bebas yang suci’, “Kita perlu mengambil sikap lepas bebas terhadap segala ciptaan, sejauh segala- nya tergantung pada pilihan bebas kita dan tak ada larangan untuk itu.

Sehingga dari pihak kita, kita tidak memilih kesehatan lebih daripada sakit, kekayaan lebih daripada kemiskinan, kehormatan lebih daripada penghinaan, umur panjang daripada umur pendek, dan begitu seterusnya.” (Latihan Rohani, 23d).

Hidup yang rendah hati, lemah lembut dan mencari Kebenaran selalu melalui jalan yang ditempuh Yesus, yaitu “undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta.” (Luk. 14:13). Kepada mereka Kerajaan Surga dianugerahkan secara panuh hari kebangkitan orang-orang benar.

Santo Yohanes Chrysostomus, 347-407, mengajarkan, “Tidak ada yang lebih penting dari pada mempraktikkan kerendahan hati. Inilah mengapa Yesus selalu mengingatkan mereka akan keutamaan ini. Baik saat Ia menempatkan anak-anak di tengah-tengah para murid dan sekarang.

Bahkan ketika Ia sedang mengajar di bukit, memulai Sabda Bahagia, Ia memulai dari kerendahan hati. Dan dalam perikop ini Ia mencabut kesombongan sampai ke akar-akarnya, dengan bersabda, “Barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk. 14:11).

Camkan bagaimana Ia menarik para pendengar-Nya pada hal yang berlawanan.   Karena Ia tidak hanya melarang orang untuk meletakkan hatinya pada tempat pertama dan terhormat, tetapi menuntutnya untuk menaruh di tempat terakhir.

Karena dengan cara itu kamu akan memperoleh apa yang kamu kehendaki, sabda-Nya. Maka, seseorang yang mengejar keinginannya sendiri untuk menjadi yang pertama dan utama harus ada di tempat mereka yang memilih tempat terakhir, “Barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

“Di mana kita akan menemukan kerendahan seperti ini? Pergilah ke kota keutamaan, ke tenda-tenda orang kudus, ke gunung, ke gua tempat para petapa menghayati hidup suci. Di sana kamu menyaksikan keluhuran kerendahan hati.

Bagi orang-orang ini, beberapa mememiliki reputasi sangat hebat di dunia, yang lain memiliki kekayaan, semua itu telah ditinggalkan, pakaian mereka yang elok, tempat tinggal yang nyaman dan siapa pun yang telah mereka layani.

Seolah mereka adalah teladan tertulis. Melalui segala yang mereka lakukan, mereka sedang menulis kisah tentang kerendahan hati.” (The Gospel Of Matthew, Homily 72.3)

Katekese

Kebahagiaan sempurna: roh yang rendah hati. Santo Hilarius dari Poitiers, 315-367:

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.”

Tuhan mengajar dangan cara memberi contoh bahwa kemuliaan yang ditawarkan oleh hasrat manusiawi harus diabaikan pada saat Ia bersabda, “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Mat. 4:10).

Dan ketika Ia berseru melalui nabiNya bahwa Ia akan memilih umat yang rendah hati dan tunduk pada sabdaNya (Yes. 66:2), Ia menyingkapkan Yang Berbahagia adalah mereka yang miskin dalam roh. Maka Ia menetapkan mereka yang   menerima sabda-Nya sebagai umat yang sadar bahwa mereka adalah harta milik Kerajaan Surga …

Tiada seorang pun yang memiliki harta benda sebagai harta milik yang dikuasai sendiri; tetapi semua memiliki karena pemberian dari Bapa sendiri. Benda-benda itu diberikan sebagai barang yang pertama-tama dibutuhkan untuk hidup dan dilengkapi dengan sarana untuk menggunakannya.” (Commentary On Matthew  4.2).

Oratio-Missio

Tuhan, kobarkanlah dalam hatiku kerinduan dan rasa lapar akan Engkau dan tunjukkanlah jalan menuju damai dan kebahagiaan abadi. Semoga aku merindukan-Mu mengatasi segala hal lain dan menemukan kebahagiaan dalam melakukan kehendak-Mu. Amin.   

  • Apa yang perlu aku lakukan supaya aku disapa Yesus, “Berbahagialah engkau”?

Beati pauperes spiritu, quoniam ipsorum est regnum caelorum – Matthaeum 5: 3

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here