Lectio Divina 29.05.2020 – Apakah Engkau Mengasihi Aku?

0
264 views
Apakah Engkau Mengasihi Aku? - Istimewa

Jumat (P)

  • Kis. 25:13-21.
  • Mzm. 103:1-2,11-12,19-20ab.
  • Yoh. 21:15-19 .

Lectio

15 Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” 16  Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

17  Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.

18  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” 19  Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku.”  

Meditatio-Exegese

Simon apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?

Bacaan Injil hari ini dan besok berbicara tentang perjumpaan Yesus dengan para murid setelah kebangkitan. Perjumpaan ini ditandai dengan kelembutan hati dan ungkapan kasih. Dan pada akhirnya, Yesus memanggil dan bertanya pada Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?”

Hanya setelah mendapatkan jawaban tegas tiga kali dari Petrus, Yesus mempercayakan tugas penggembalaan atas domba milikNya pada Petrus. Tiga kali Yesus bertanya tentang ketegasan sikap Petrus, sebanding dengan tiga kali saat ia mengkhianatiNya (Yoh. 18:17.25-27).

Rupanya Yohanes memberi perhatian khusus pada Petrus. Benar, yang melihat Yesus duduk di patai Danau Galilea dan membuat sarapan adalah murid yang dikasihiNya. Tetapi, Petruslah yang mendatangiNya terlebih dahulu. Dia jugalah yang mengambil beberapa ikan untuk dibakar, seperti perintah Yesus (Yoh. 21:7-11).

Kisah ini menyingkapkan peran utama Petrus di antara sepuluh rasul lain. Ia menjadi yang utama di antara yang lain, primus inter pares, dan menjadi salah satu alasan Gereja menempatkan dia sebagai Paus pertama, dan, setelah kematiannya, digantikan oleh Santo Klement.

Begitu seterusnya pewarisan Tahta Apostolik dilaksanakan dalam Gereja Katolik.

Santo Yohanes rupanya ‘bermain-main’ dengan kata αγαπας, agapas, dari kata agapao, dengan kata φιλεις, phileis, dari kata philein. Rupanya beliau tidak membedakan dengan tegas nuansa makna yang sedikit berbeda antara agapao dan philein.

Yang perlu diperhatikan justru frase lebih dari mereka ini. Frase ini menyingkapkan tuntutan akan relasi yang semakin dekat, kesetiaan dan komitmen kasih tanpa syarat pada Yesus.

Sabda-Nya (Yoh. 21:15), “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?”, Simon Ioannis, diligis me plus his?

Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri …

Yesus menyingkapkan bagaimana cara Petrus akan mati, “Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki” (Yoh. 21:18). 

Sepanjang sisa hidup, Petrus dan kita mengalami pendewasaan iman. Iman merupakan jawaban atas uluran kasih Allah.

Ia mengaruniakan Anak-Nya dan kita menyambut-Nya dengan kasih dan suka cita. Sabda-Nya (Yoh. 3:16), ”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”.

Terlebih, Allah adalah kasih (1Yoh. 4:8). Kasih diwujud nyatakan dalam pelayanan kepada saudara dan saudari dalam komunitas iman, dan disebarkan kepada siapa pun tanpa batas.

Orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki. Ungkapan ini menyingkapkan makna ‘mengikuti’.

Maka, Santo Yohanes kemudian menambahkan “hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah”.

Dan Yesus menegaskan, “Ikutlah Aku”, Sequere me

Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku.

Komunitas iman yang dibina Santo Yohanes menyingkapkan bahwa komunitas itu dibangun berlandaskan kasih. Mereka memaknai kasih sesuai penghayatan mereka, bukan apa yang dilakukan dunia di luar mereka.

Dalam berelasi dengan semua manusia, mereka memaknai kasih dengan cakupan makna: suka cita, kesedihan, pertumbuhan, penolakan, dedikasi, kepenuhan, pemberian, komitmen, hidup, mati, dan sebagainya.

Semua kata ini dalam bahasa Ibrani diringkas dalam satu kata: hesed. Sulit menemukan padanan kata ini dalam bahasa lain.

Umumnya dalam Kitab Suci, kata ini ditransliterasi menjadi: kasih, belas kasih, kasih setia atau cinta.

Yesus menyingkapkan makna kata ini dalam relasinya dengan keluarga Marta dan Maria dari Betania. Ia mengasihi seperti saudara dan bersedih hati, bahkan menangis ketika mendengar Lazarus telah mati. “Lihat, betapa kasihNya kepadanya.” (Yoh. 11:5.33-36).

Yesus selalu menyingkapkan tugas perutusanNya sebagai ungkapan kasih, “Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya” (Yoh. 13:1).

Dalam kasih, Ia menyingkapkan jati diriNya yang paling sejati dalam relasi dengan Bapa. “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu” (Yoh. 15:9). Untuk komunitas imannya, tidak ada perintah lain selain perintah ini: ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (1Yoh. 2:6).

Perintah ini memastikan bahwa tiap anggota komunitas merentangkan kasih kepada seluruh jemaat dan manusia tanpa kecuali (bdk. 1Yoh. 2: 7-11; 3: 11-24; 2  Yoh. 4-6). Sabda-Nya, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13).

Di tempat lain, Santo Yohanes menulis, “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita” (1Yoh. 3:16).

Maka, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran (1Yoh. 3:17).

Katekese

Apakah engkau mengasihi Aku? Gembalakanlah domba-domba-Ku. Santo Augustinus, Uskup dari Hippo, 354-430 :

“Tubuh Kristus bangkit dari kematian; dan Petrus dibangkitkan dalam roh, karena, ketika Kristus wafat dalam sengsara-Nya, Petrus mati karena pengkhianatannya. Kristus Tuhan dibangkitkan dari kematian, dan karena kasih-Nya, Ia membangkitkan Petrus.

Ia bertanya padanya tentang kasih; dan ditanggapi dengan pengakuan Petrus. Ia lalu mempercayakan padanya domba-domba milik-Nya. Apa kebaikan yang dapat diberikan Petrus pada Kristus, hanya dengan kebenaran bahwa Kristus yang pengasihnya?

Jika Kristus mengasihi, itu demi kebaikanmu, bukan bagi-Nya. Dan jika kalian mengasihi Kristus, itu demi kebaikan kalian sendiri, bukan bagi Kristus. Namun Kristus, Tuhan, ingin menunjukkan bagaimana umat harus menunjukkan bahwa mereka mengasihi Kristus.

Dan Ia membuat cara mengasihi menjadi sederhana, dengan mempercayakan domba-domba-Nya padanya. “Apakah engkau mengasihi Aku?” – “Ya.” “Gembalakanlah domba-domba-Ku”.

Ia bertanya pertama kali; kemudian, kedua; dan, terakhir, ketiga. Petrus tidak menjawab apa pun selain bahwa ia mengasihi-Nya. Tuhan tidak bertanya hal lain kecuali apakah ia mengasihi-Nya. Ketika Petrus menjawab, Tuhan tidak meminta apa pun, selain mempercayakan domba-domba-Nya padanya” (dikutip dari Sermon 229n.1.4)

Oratio-Missio

  • Tuhan, nyalakanlah kasihMu dalam hatiku. Hapuslah segala hal – kebencian, tak tahu bersyukur, tak pantas, dan apapun yang berlawanan dengan kehendakMu. Semoga aku selalu mengasihiMu dan menolak apa yang menentang kasihMu dan kehendakMu. Amin.
  • Apa yang perlu kita untuk mengasihi Tuhan dan sesama? Atau apa yang perlu aku lakukan untuk ikut serta menggembalakan domba milik-Nya?

dicit Simoni Petro Iesus, “Simon Ioannis, diligis me plus his?” Ioannem 21:15

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here