Lectio Divina 29.10.2020 – Menolak Naungan-Nya

0
243 views
Wajah penuh duka - James Janknegt.

Kamis (H)

  • Ef. 6:10-20
  • Mzm. 144:1,2,9-10
  • Luk. 13:31-35

Lectio

31 Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus: “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.” 32 Jawab Yesus kepada mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai.

33 Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem. 34 Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.

35 Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan.”

Meditatio-Exegese

Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau

Santo Lukas melukiskan suasana mencekam sedang melingkupi Yesus. Sang raja merasa terancam atas gerakan begitu banyak orang yang tertarik pada-Nya dan mengikuti ke mana Ia pergi. Maka, Herodes Antipas telah memutuskan untuk membunuh-Nya.

Anak Herodes Agung, yang berpegang pada takhayul, percaya pada Yesus adalah Yohanes Pembaptis, yang bangkit dari kematian. Ia sedang mengumpulkan orang untuk melawannya dan Kekaisaran Romawi yang dilayaninya.  

Di samping itu, Santo Lukas mencatat bahwa ada beberapa orang dari golongan Farisi diam-diam menaruh hati pada Yesus. Orang Farisi ini, diam-diam membocorkan informasi rahasia tentang rencana Herodes, “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau,” (Luk. 13:31). Ia merasa sehati dan seperasaan dengan Yesus; dan ingin agar kematian karena permufakatan jahat tidak menyentuh-Nya.  

Di lain kesempatan, kaum Farisi dan pengikut Herodes Antipas telah bersepakat untuk membunuh Yesus (Mrk. 3:6; 12:13).

Saat itu, Herodes sedang dalam puncak kekuasaan yang mutlak. Ia tidak segan melenyapkan siapa pun yang mengganggu kekuasaannya. Ia telah melenyapkan Yohanes Pembaptis dan telah memutuskan untuk mengakhiri hidup Yesus.

Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu

Yesus menyebut Herodes Antipas sebagai serigala, vulpes. Serigala diasosiasikan sebagai binatang paling licik dan paling merugikan.

Gembala domba pasti mengalami kesulitan mengusir binatang ini yang hendak memangsa kawanan dombanya. Di tengah malam kawanan binatang buas ini suka mencuri dan menghancurkan seisi kandang domba.

Maka, serigala melambangkan apa yang tidak bernilai, tidak penting dan merusak. Selain mewarisi tahta ayahnya, Herodes Agung, Antipas juga memerintah dengan tangan besi dan kejam.

Yesus dengan gagah berani berdiri di hadapan kekuasaan dunia yang seolah mutlak dan terang-terangan menentangnya. Ia sadar bahwa Ia akan menderita dan mengalami apa yang dialami para nabi yang diutus sebelum Diri-Nya.

Dan, saat Ia menghadapi bahaya yang mengancam hidup-Nya, Ia justru mendoakan para pengancam dan mereka yang menolak para nabi yang berbicara atas nama Allah.

Melalui si Farisi, Yesus menyampaikan bahwa Kerajaan-Nya tidak tergantung pada penguasa politik.

Pesan-Nya jelas bahwa Ia terus berkarya pada hari ini, esok dan pada hari ketiga Ia akan menyelesaikan karya-Nya. Maka, Ia mencegah segala upaya termasuk dari para penguasa yang hendak mencegah-Nya melaksanakan tugas perutusan yang diterima dari Bapa.

Yang menentukan waktu dan saat adalah Allah, bukan Herodes. Maka, saat Ia bersabda (Luk 13:33), “Hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem.”, Oportet me hodie et cras et sequenti ambulare, quia non capit prophetam perire extra Ierusalem.

Ia menunjukkan bahwa Ia tidak akan mati di Galilea, tetapi di Yerusalem, ibu kota Israel, dan pada hari ketiga Ia akan bangkit.

Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya

Yesus mengungkapkan kerinduan hati-Nya untuk menaungi seluruh Yerusalem, kota suci dan Bait Allah. Sebaliknya, Yerusalem tidak memiliki hati untuk merindukan Dia, Sang Mesias yang telah lama dirindukan.

Keriduan hati-Nya seumpama dengan seekor induk ayam yang ingin mengumpulkan anak-anaknya di bawah naungan kedua sayap.  

Namun, kerinduan-Nya hanya bertepuk sebelah tangan, seperti dilukiskan Santo Lukas (Luk 13:34), “Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.”, quotiens volui congregare filios tuos, quemadmodum avis nidum suum sub pinnis, et noluistis

Ungkapan yang sama digemakan sang pemazmur ketika bermadah, “Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok.” (Mzm. 91:4).

Yesus menatap Yerusalem, sadar bahwa Ia akan dikhianati, ditolak dan dibunuh di kayu salib. Tetapi, kematian-Nya di salib akan membawa kemenangan dan keselamatan, tidak hanya bagi penduduk Yerusalem, tetapi bagi semua, baik Yahudi maupun bangsa asing, yang menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Nubuat-Nya bagai pedang bermata dua, merujuk pada kemenangan-Nya atas dosa dan maut dan penghancuran atas Yerusalem sebagai konsekuensi atas penolakan pada-Nya dan pesan keselamatan dari-Nya.

Yerusalem dan Bait Suci dihancurkan Jenderal Titus pada tahun 70 Masehi. Semua hancur, luluh-lantak, tetapi, masih tersedia pintu sempit yang selalu terbuka bagi para penduduk tiap jengkal tanah untuk menuju kemerdekaan sejati, sabda-Nya, “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat”, Ego sum ostium; per me, si quis introierit, salvabitur.   

Katekese

Yesus menubuatkan prarakan kemenangan-Nya di Yerusalem. Santo Cyrlus dari  Alexandria, 376-444 :

“Sabda-Nya, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!”

Apa makna sabda-Nya? Tuhan menyingkir dari Yerusalem dan meninggalkan kota itu sebagai kota yang tidak pantas bagi kehadiran-Nya karena orang berseru, “Pergilah dari sini”.

Dan setelah Ia berjalan mengelilingi Yudea dan menyelamatkan banyak orang serta melakukan banyak mukjizat yang tidak dapat dilukiskan dengan tepat melalui kata-kata, Ia kembali ke Yerusalem.

Ia kembali ke kota suci saat Ia menaiki punggung seekor keledai, sementara orang banyak dan kanak-kanak membawa daun palma, berarak-arakan mendahului-Nya, memuji-Nya dan berseru, “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Mat 21:9). Maka, setelah meninggalkannya, karena dipandang tidak layak, Ia sekarang akan mereka pandang.

Kemudian, Ia memasuki Yerusalem, berjalan di tengah puja-puji, dan pada saat yang sama menanggung bela rasa-Nya demi kita. Sehingga, melalui penderitaan yang ditanggung-Nya Ia menyelamatkan dan membaharui seluruh umat manusia di bumi agar tidak rusak oleh dosa. Allah Bapa telah menyelamatkan kita melalui Kristus” (dikutip dari  Commentary On Luke, Homily 100)

Oratio-Missio

  • Tuhan, aku meletakkan kepercayaan dan harapanku pada-Mu. Penuhilah hatiku dengan kasih dan belaskasih-Mu agar aku dengan berani bersaksi atas kebenaran dan suka cita Injil. Bantulah aku agar melalui kata dan hidupku aku mampu menjadi saksi-Mu, khususnya bagi yang menentang Injil-Mu. Amin.
  • Apa yang perlu aku lakukan untuk mewartakan Injil bagi mereka yang menolak Injil-Nya?

quotiens volui congregare filios tuos, quemadmodum avis nidum suum sub pinnis, et noluistis – Lucam 13:34

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here