Lectio Divina 30.11.2020: Ikutlah Aku dan Kamu akan Kujadikan Penjala Manusia

0
234 views
Ilustrasi: Menjala ikan (Mathias Hariyadi)

Senin. Pesta Santo Andreas (M)

  • Rm.10:9-18
  • Mzm 19:2-3.4-5
  • Mat.4:18-22

Lectio

18 Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. 19 Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”

20 Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. 21  Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka 22 dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

Meditatio-Exegese

Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea

Menyelesaikan retret agung 40 hari di padang gurun (Mat. 4:1-11), Yesus menyadari tugas perutusan yang harus diemban-Nya. Ia mewartakan Kerajaan Surga, supaya seluruh bangsa melihat Sang Terang dan maut dikalahkan (Mat. 4:12-17; bdk. Yes. 8:23-9:1).

Yesus meninggakan Nazaret yang menolak pewartaan-Nya (Luk. 4:22-30) dan berpindah ke Kapernaum, tempat Ia memulai karya pelayanan-Nya (Mat. 4:13). Tentu dalam melayani manusia, Ia tidak dapat bekerja sendiri. Ia membutuhkan pertolongan orang lain.

Maka, Ia pergi berkeliling menyusur Danau Galilea. Pada saat inilah Ia berjumpa dengan empat orang : Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes. Mereka dipanggil untuk mengikutiNya.

Membaca dengan teliti kisah panggilan masing-masing murid, Matius mengisahkan hal yang unik. Ia tidak memanggil mereka yang berpendidikan, seperti orang Farisi atau ahli Kitab. Ia memanggil orang biasa. Ia memanggil orang yang mau membuka hati untuk menerima Yesus tanpa syarat.

Panggilan selalu berasal dari inisiatif Yesus: Ia melihat, memanggil “Mari, ikutlah Aku.”, mengubah pekerjaan seseorang menjadi utusan-Nya “kamu akan Kujadikan penjala manusia.”, faciam vos fieri piscatores hominum.

Tanggapan keempat orang itu begitu mengejutkan: meninggalkan jala dan mengikutinya; dan meninggalkan perahu serta ayah dan mengikuti Dia.

Tindakan itu dilakukan pada saat itu juga. Santo Matius menggunakan kata ευθεως, eutheos, segera atau saat itu juga, untuk menggambarkan tiadanya penundaan dalam mengikuti Yesus.

Kasah panggilan murid Yesus pasti juga berakar dalam tradisi alkitabiah. Ada kisah panggilan Nabi Elisa. Elisa dipanggil saat ia sedang bekerja di ladang. Ia pun dizinkan untuk berpamitan pada orang tuanya. Ia tidak dipanggil untuk menjadi nabi, tetapi menjadi pelayan Nabi Elia (1Raj. 19:19-21).  

Kisah panggilan murid Yesus dan Nabi Elisa mengandung perbedaan : Yesus memanggil murid atas inisiatifNya; Elisa dipanggil secara kebetulan ketika Elia berjumpa denganNya. Para murid segera meninggalkan segala; Elisa diijinkan pergi berpamitan. Para murid mengikuti Dia; Elisa dijadikan pelayan.

Petrus dan Andreas

Nama Petrus ditekankan oleh Matius. Terdapat serangkaian kisah luar biasa tentangnya: Mat. 14:28-31; 16:17-19; 17:24-27. Sang Penginjil hendak menekankan peran Petrus secara khusus bagi jemaat Matius dan Gereja Universal, serta teladan iman dalam mengikuti Yesus.

Di samping Petrus, Andreas, saudara kandung Petrus, yang lahir di Betsaida pada awal abad pertama, juga berprofesi sebagai nelayan. Nama itu bermaka sangat kuat dan dikenal memiliki kemampuan pergaulan sosial sangat tinggi. Yohanes mengisahkan bahwa Andreas menjadi murid Yohanes Pembaptis.

Ketika Yesus berjalan seorang diri, ia berkata tentang-Nya (Yoh. 1:36), “Lihatlah Anak Domba Allah!”, Ecce agnus Dei. Segera Andreas dan seorang murid lain mengambil keputusan untuk mengikuti Yesus. Selanjutnya, dalam kisah Yohanes, Andreas memperkenalkan Petrus pada Yesus (Yoh. 1:41-42).

Kedekatan Andreas dengan Yesus nampak pada kisah ketika ia melaporkan pada-Nya tentang seorang anak kecil yang membawa roti jelai dan dua ekor ikan (Yoh. 6:8). Filipus pun berbicara lebih dulu pada Andreas saat ada sekelompok orang berbahasa Yunani ingin bertemu dengan Yesus (Yoh. 12:22). Ia juga hadir saat Yesus menyelenggarakan Perjamuan Malam Terakhir. 

Menurut tradisi Santo Andreas berkarya di sepanjang pesisir Laut Hitam, yang merentang antara Yunani dan Turki. Ia meninggal sebagai martir di Patras.

Saat kematian, ia disalib dengan tangan dan kaki terikat dalam konfigurasi huruf X, yang dikenal sebagai crux ducussata. Dipercaya sang rasul memilih cara ini karena ia merasa kecil untuk meniru cara Tuhan disalibkan.

Sekarang relikwi Santo Andreas disimpan di Gereja Santo Andreas Patras. Paus Paulus VI pada September 1964 memerintahkan agar relikwi yang terkumpul di Vatikan dikembalikan dan disemayamkan di Patras. Perjalanan ini mengakhiri seluruh serakan relikwi. Sebagian disimpan oleh Santo Regulus; sebagian relikwi lain dibawa ke Konstantinopel atas perintah Kaisar Konstantinus II pada tahun 357.

Katekese

Yesus memilih mereka agar mereka berkembang. Bapa Gereja tak dikenal dari Gereja Yunani : 

“Sebelum Yesus bersabda atau memulai karya pelayanan-Nya, Ia memanggil para rasul agar tak ada satu pun tersembunyi bagi mereka, seperti halnya sabda atau karya Kristus dan mereka, kemudia dapat berkata dengan penuh keyakinan, “Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar” (Kis. 4:20).

Ia memandang mereka bukan karena keberanian yang ditunjukkan, tetapi inti hidup mereka, sisi rohani. Ia tidak memandang penampilan mereka, tetapi hati mereka.

Dan Ia memilih mereka bukan sebagai rasul, tetapi karena mereka dapat berkembang menjadi rasul. Sama seperti seorang seniman  menimbang-nimbang dan memilih batu yang berharga, dan bukan karena kekasarannya, tetapi karena bentuk indah yang mungkin dapat diciptakan darinya.

Sama dengan seniman yang peka yang tak pernah mengabaikan keindahan yang masih tersembunyi, demikian juga, Tuhan kita, memandang mereka, bukan karena karya yang mereka ciptakan, tetapi hari mereka” (dikutip dari Incomplete Work On Matthew, Homily 7, the Greek fathers).

Oratio-Missio

  • Tuhan, secara pribadi Engkau memanggilku dengan menyebut namaku, seperti ketika Engkau memanggil murid pertema, Simon, Andreas dan Yakobus. Penuhilah aku dengan suka cita Injil dan bantulah aku untuk tetap setia menjadi saksi Injil-Mu pada siapa pun yang kujumpai. Amin.
  • Apa yang perlu aku lakukan untuk setia mengikuti Yesus, seperti Santo Andreas?

venite post me et faciam vos fieri piscatores hominum – Matthaeum 4:19

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here