Lectio Divina 31.05.2020 – Utuslah Aku untuk Damai Sejahtera-Mu

0
200 views
Utuslah Aku Untuk Damai Sejahtera-Mu by https://www.pktfuel.com/send-me/

Minggu Hari Raya Pentakosta (M)

  • Kis. 2:1-11;
  • Mzm. 104: 1ab, 24ac, 29bc-30, 31, 34;
  • 1Kor. 12:3b-7,12-13;
  • Yoh. 20:19-23

Lectio

19 Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” 20  Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.

21  Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” 22  Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. 23  Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

Meditatio-Exegese

Berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci

Hari sudah malam, οψιας, opsias, yang bermakna waktu antara jam tiga hingga enam sore atau dari enam sore hingga menjelang malam. Hari sudah malam atau petang dimulai saat matahari telah mulai turun (bdk. Hak. 19:9.11-14).

Para murid berkumpul di Ruang Perjamuan. Dua orang murid telah kembali dari perjalanan ke Emaus (Luk. 24:29). Yang lain tidak dirinci, mungkin: sepuluh orang Rasul, Ibu Maria, Maria Magdalena. Tomas tidak ikut serta. Tak dapat dipastikan di rumah milik siapa atau di rumah tempat Yesus mengadakan Perjamuan Terakhir. Yang pasti, pintu dan jendela dikunci rapat.

Pintu dan jendela yang dikunci rapat menandakan bahwa mereka bersiaga dalam ketakutan. Ketakutan yang mengoyak jiwa menyelimuti hati mereka karena ancaman penangkapan oleh para pemimpin agama di Yerusalem.

Mengikuti Yesus sama dengan mengikuti penyesat yang menghujat Allah. Di samping, pada mereka ditimpakan tuduhan palsu sebagai pencuri jenazah (bdk. Mat. 28:11-14).

Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka

Tiba-tiba, Yesus berdiri di tengah-tengah mereka. Kehadiran-Nya mengatasi hukum alam. Ia hadir dalam tubuh yang telah dibangkitkan dari kematian. Kehadiran-Nya menghalau ketakutan. Saat hadir di setiap ruang, di setiap tempat, walau tertutup rapat, saat komunitas iman berkumpul, Ia hadir di tengah-tengah dan selalu menyapa, “Damai sejahtera bagi kamu!”, Pax vobis.

Ia menunjukkan tanda-tanda sengsara-Nya di tangan dan lambung. Hanya Santo Yohanes melukiskan rincian di lambung karena tusukan tombak serdadu Romawi; sementara Santo Lukas menyebutkan luka paku di kaki (Luk 24:39).

Saat Yesus menunjukkan luka-luka-Nya, Ia mengingatkan bahwa damai selalu mengalir dari salib (2Tim. 2:1-13). Luka-luka adalah tanda pengenal-Nya sebagai Dia yang dibangkitkan dari kematian (Why. 5:6). Maka Yesus yang bangkit sama dengan Yesus yang disalib!

Saat mereka menyaksikan Yesus yang hadir, suka cita para murid sama dengan suka cita yang dilukiskan Nabi Yesaya, “Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka; dan aib umat-Nya akan dijauhkan-Nya dari seluruh bumi, sebab TUHAN telah mengatakannya.

Pada waktu itu orang akan berkata: “Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya!” (Yes. 25:8-9).

Suka cita yang dilukiskan Nabi Yesaya menjadi pralambang suka cita akhir jaman yang nubuatkan Yesus dalam wejangan perpisahan dan suka cita yang dianugerahkan itu tak dapat dirampas oleh siapa pun (Yoh. 16:22; 20:27).

Sama seperti Bapa mengutus Aku, sekarang Aku mengutus kamu

Para murid menerima tugas perutusan ini dari Tuhan Yesus, yang disalib dan dibangkitkan. Tugas ini sama dengan yang diterima-Nya dari Bapa. Ia mengulang sabda-Nya, “Damai sejahtera bagi kamu.”

Perulangan menunjukkan bahwa pesan itu begitu penting. Maka menciptakan damai sejahtera selalu menjadi bagian terpenting tugas perutusan.

Bapa Suci Fransiskus menyerukan, “Setiap umat Kristiani ditantang, saat ini dan di sini, untuk secara aktif  terlibat dalam evangelisasi; memang, siapa pun yang sungguh-sungguh telah mengalami kasih Allah yang menyelamatkan tidak memerlukan banyak waktu atau pelatihan lama untuk bergerak keluar dan mewartakan kasih itu.

Setiap umat Kristiani adalah orang yang diutus sejauh ia menjumpai kasih Allah dalam Yesus Kristus: kita tidak lagi mengatakan bahwa kita adalah “para murid” dan “orang-orang yang diutus”, melainkan bahwa kita selalu “murid-murid yang diutus.”

Jika kita tidak yakin, marilah kita menengok kepada murid-murid pertama, yang langsung setelah bertemu pandang dengan Yesus, bergerak keluar untuk mewartakan-Nya dengan sukacita: “Kami telah menemukan Mesias!” (Yoh. 1:41). 

Perempuan Samaria menjadi seorang utusan langsung sesudah berbicara dengan Yesus dan banyak orang Samaria menjadi percaya kepada-Nya “karena perkataan perempuan itu” (Yoh. 4:39).

Demikian juga, Santo Paulus, setelah perjumpaannya dengan Yesus Kristus, “ketika itu juga ia memberitakan Yesus” (Kis. 9:20; bdk. 22:6-21). Jadi apa lagi yang kita tunggu? (dikutip dari Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 120).

Tugas perutusan yang diemban setiap murid Kristus selalu dilakukan dalam persekutuan dengan-Nya, seperti ranting yang harus tinggal pada pokok anggur (Yoh. 15:4); tetapi juga terikat pada kesatuan dengan Gereja-Nya (Mat. 28:18-20; Mrk. 16:15-18; Luk. 24:47-49).

Terimalah Roh Kudus

Dengan menghembusi masing-masing anggota komunitas iman, Yesus mempercayakan pelaksanaan tugas perutusan yang Ia terima dari Bapa.

Dalam bahasa Ibrani, ruah; Yunani, πνευμα, pneuma; dan Latin, spiritus, kata yang sama bermakna angin dan nafas

Angin selalu bermakna arah – utara, selatan, barat dan timur. Maka, dibimbing oleh Roh Allah, Roh Kudus, setiap murid mengarahkan seluruh hidup hanya pada satu Pribadi: Yesus Kristus.

Ia menghembusi para murid-Nya mengingatkan akan tindakan Allah saat ia memberikan roh yang menghidupkan manusia (Kej. 2:7). Tindakan Yesus, yang hanya dikisahkan oleh Santo Yohanes, menandai awal mula penciptaan baru.

Saat Yesus bersabda, “Terimalah Roh Kudus”, Ia menggenapi nubuat-Nya sendiri bahwa Roh Kudus dianugerahkan setelah Ia dimuliakan (Yoh. 7:39).

Roh Kudus dianugerahkan untuk membimbing, mendampingi, membela, menguatkan dan menghibur para murid melakukan tugas perutusan. Sedangkan pada Hari Raya Pentakosta (Kis. 2) Roh Kudus dianugerahkan kepada semua orang.  

Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni

Menurut ahli Kitab dan kaum Farisi (Mrk. 2:7) dan tradisi kitab suci (Yes. 43:25), hanya Allah memiliki kuasa mengampuni dosa. Yesus menganugrahkan kuasa ini (Luk. 5:24) dan meneruskannya pada Gereja-Nya.

Tradisi Gereja Katolik mengajarkan bahwa tugas perutusan untuk mengampuni diberikan kepada kesebelas Rasul dan para pengganti mereka. Cara jemaat melaksanakan tugas perutusan ini selalu dikembangkan dan dirincikan pada abad-abad berikuti.

Tugas perutusan untuk mengampuni pasti bermuara pada perwujudan damai sejahtera. Tiap murid Yesus dituntut untuk ambil bagian dalam menghilangkan tanda-tanda yang membuat Yesus sengsara dan wafat.

Setiap murid-Nya ditantang untuk mengatasi tanda kelaparan, penyiksaan, perang, sakit, kekerasan dan ketidak adilan dan perusakan alam (bdk. Luk. 4:17-19; Mat. 25:35-40).

Santo Basilius Agung, 329-379, menerangkan peran Roh Kudus dalam hidup dan perutusan para murid Kristus, “Roh Kudus memulihkan firdaus bagi kita; Ia membuka kembali jalan ke sorga; dan menganugerakan rahmat dari Kristus untuk menjadi anak terang serta menikmati kemuliaan abadi.

Singkatnya, Ia menganugerahkan kepenuhan berkat di dunia ini dan kelak. Karena kita sekarang dapat merenungkan dan memandang cermin iman akan janji-janji-Nya yang akan kita nikmati suatu saat. Jika hal ini telah kita rasakan sekarang, pastilah kita harus meyakininya! Bila semua ini merupakan buah sulung, pastilah kita memetik semua panenan!” (dikutip dari Treatise on The Holy Spirit).

Katekese

Pendidikan untuk Perjanjian antara Manusia dan Lingkungan. Paus Fransiskus, 17 Desember 1936 – sekarang

“Sangatlah mulia bila kewajiban untuk memelihara ciptaan dilakukan melalui tindakan kecil sehari-hari, dan sangat indah bila pendidikan lingkungan mampu mendorong orang untuk menjadikannya suatu gaya hidup.

Pendidikan dalam tanggungjawab ekologis dapat mendorong berbagai perilaku yang memiliki dampak langsung dan signifikan untuk pelestarian lingkungan, seperti: menghindari penggunaan plastik dan kertas, mengurangi penggunaan air, pemilahan sampah, memasak secukupnya saja untuk kita makan, memperlakukan makhluk hidup lain dengan baik, menggunakan transportasi umum atau satu kendaraan bersama dengan beberapa orang lain, menanam pohon, mematikan lampu yang tidak perlu.

 Semuanya itu adalah bagian dari suatu kreativitas yang layak dan murah hati, yang mengungkapkan hal terbaik dari manusia. Menggunakan kembali sesuatu daripada segera membuangnya, karena terdorong oleh motivasi mendalam, dapat menjadi tindakan kasih yang mengungkapkan martabat kita” (dikutip dari ensiklik Laudato Si, 211)

Oratio-Missio

  • Tuhan, aku bersyukur atas anugerah Pentakosta dan hidup baru dalam Roh Kudus. Kobarkanlah hatiku untuk mengsihi-Mu dan melayani-Mu dengan penuh suka cita. Amin.  
  • Apa yang perlu aku lakukan untuk mengampuni sesama dan memulihkan alam dari kerusakan?  

Dixit ergo eis iterum: “Pax vobis! Sicut misit me Pater, et ego mitto vos” – Ioannem 20:21

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here