Lectio Divina 31.12.2022 – Sabda Menjadi Daging dan Tinggal Di Antara Kita

0
314 views
Ia lahir dan tinggal di antara kita, by Matthias Stomer, 1600-1650.

Sabtu. Hari Ketujuh dalam Oktaf Natal (P)

  • 1Yoh. 2:18-21
  • Mzm. 96:1-2.11-12.13
  • Yoh. 1:1-18 (Yoh. 1:1-5,9-14)

Lectio

1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. 2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. 3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. 5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. 9 Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. 10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.

11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. 12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;

13 orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. 14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Meditatio-Exegese

Pada mulanya adalah Firman

Ungkapan firman Allah sangat umum dan dikenal luas dalam tradisi suci bangsa Yahudi. Sabda Allah dalam Perjanjian Lama diimani sebagai daya yang aktif, kreatif dan dinamis. Pemazmur bermadah, “Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan.” (Mzm. 33:60). 

“Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari.” (Mzm. 147:15). Nabi Yeremia bersaksi, “Bukankah firman-Ku seperti api, demikianlah firman TUHAN dan seperti palu yang menghancurkan bukit batu?” (Yer. 23:29).

Penulis Kitab Kebijaksanaan menyebut Allah sebagai Dia yang “menjadikan segala sesuatu.” (bdk. Keb. 9:1). Firman Allah juga disamakan dengan hikmat-Nya, seperti kesaksian penulis Amsal, “Dengan hikmat TUHAN telah meletakkan dasar bumi.” (Ams. 2:19).

Kitab Amsal melukiskan ‘hikmat’ sebagai daya kuasa Allah yang abadi, kreatif, dan menerangi. Kedua ungkapan ‘firman’ dan ‘hikmat’ dipandang sebagai satu dan sama.

“Sebab sementara sunyi senyap meliputi segala sesuatu dan malam dalam peredarannya yang cepat sudah mencapai separuhnya, maka firman-Mu yang mahakuasa laksana pejuang yang garang melompat dari dalam surga, dari atas takhta kerajaan ke tengah tanah yang celaka. Bagaikan pedang yang tajam dibawanya perintah-Mu yang lurus.” (Keb. 18:14-16).

Santo Yohanes melukiskan Yesus sebagai Firman yang mencipta, memberi hidup dan memberi terang yang telah datang ke dunia dalam rupa manusia.

Sabda-Nya, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16).  

Yesus diimani sebagai hikmat dan kuasa Allah yang menciptakan dunia dan menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkannya. Yesus Kristus adalah Anak Allah, yang menjadi manusia dan saudara kita.

Sejak jaman para Rasul (1Yoh. 4:2) Gereja mengaku bahwa “Yesus Kristus telah datang sebagai manusia.”, confitetur Iesum Christum in carne venisse.

Santo Gregorius dari Nyssa, salah satu Bapa Gereja yang paling berpengaruh, 330-395, menulis: “Sakit, kodrat kita perlu disembuhkan; jatuh, harus dibangkitkan; mati, harus dihidupkan kembali. Kita telah kehilangan kebaikan; kebaikan itu perlu untuk dikaruniakan kembali pada kita.

Terkungkung dalam kegelapan, perlu terang untuk menerangi kita; tawanan, kita menantikan Juruselamat; tahanan, memerlukan Penolong; budak, membutuhkan Penebus. Apakah hal ini sangat remeh atau tidak penting? Apakah keadaan itu tidak menggerakkan hati Allah untuk turun dan meniliki manusia, karena manusia dalam keadaan sengsara dan tak bahagia?”

Para murid Yesus tidak pernah berhenti untuk terus membaharui pengakuan dan kekaguman atas Inkarnasi Tuhan, seperti digemakan para Bapa Konsili Vatikan II, “Sebab Dia, Putera Allah, dalam penjelmaan-Nya dengan cara tertentu telah menyatukan diri dengan setiap orang.

Ia telah bekerja memakai tangan manusiawi, Ia berpikir memakai akal budi manusiawi, Ia bertindak atas kehendak manusiawi, Ia mengasihi dengan hati manusiawi. Ia telah lahir dari Perawan Maria, sungguh menjadi salah seorang di antara kita, dalam segalanya sama seperti kita, kecuali dalam hal dosa.” (Konstitusi Pastoral Tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini, Gaudium et Spes, 22).

Orang yang membuka diri untuk menerima Sang Firman menjadi anak-anak Allah. Ia menjadi anak-anak Allah bukan karena jasanya, atau karena menjadi keturunan bangsa Israel. Tetapi karena percaya pada Allah yang berbelas kasih dan menerimanya dengan suka cita.

Sang Firman tinggal di hati tiap orang, sehingga ia selalu merasa diterima sebagai anak Allah. Inilah kuasa rahmat Allah.

Maka, Allah terus ingin tinggal bersama manusia. Pada zaman dahulu, jaman Keluaran, di gurun Allah tinggal di kemah dekat dengan umat-Nya (Kel. 25:8). Sekarang kemah tempat Allah tinggal bersama manusia adalah Yesus, yang “penuh kasih karunia dan kebenaran”.

Yesus datang untuk menyingkapkan : Allah selalu hadir dalam segala, sejak Ia menciptakan dunia. Santo Yohanes menyingkapkan (Yoh. 1:14), “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.”, Et Verbum caro factum est et habitavit in nobis.

Yohanes Pembaptis datang untuk membantu umat menemukan dan bersuka cita atas kehadiran Firman Allah. Kesaksian Yohanes Pembaptis sangat penting, sehingga beberapa orang percaya bahwa dialah Kristus atau Mesias (Kis. 19:3; Yoh. 1:20).

Yohanes tidak memanipulasi kepercayaan atau iman untuk kepentingan dirinya sendiri. Ia jujur mengakui bahwa ia bukan Sang Terang. Ia datang untuk bersaksi tentang Sang Firman. 

Katekese

Buah-buah sulung Injil. Origenes dari Alexandria, 185-254:

“Saya kira Injil Yohanes, yang diminta untuk dijelaskan sesuai dengan kemampuan terbaik yang kumilliki, adalah buah-buah sulung seluruh Injil. Kitab ini berbicara tentang Dia yang asal-usulnya dilacak dan dimulai dari Dia sendiri, tanpa silsilah …

Ungkapan yang semakin agung dan semakin sempurna tentang Yesus disimpan bagi mereka yang mengasihi Yesus. Karena tak ada kitab Injil lain yang menyingkapkan keilahian-Nya sepenuh Yohanes ketika Ia menyingkapkan Diri-Nya dengan bersabda, “Akulah terang dunia” (Yoh. 8:12), “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh. 14:6), “Akulah kebangkitan dan kehidupan” (Yoh. 11:25), “Akulah pintu” (Yoh. 10:9) …

Kita mungkin berani berkata bahwa Injil adalah buah sulung seluruh Kitab Suci, tetapi buah sulung dari Injil adalah Injil menurut Yohanes yang maknanya sering tidak dapat dimengerti oleh orang yang tidak mengasihi Yesus atau menerima Maria dari Yesus untuk menjadi ibunya juga.” (Commentary On The Gospel Of John 1.21–23)

Oratio-Missio

Allah yang mahakuasa dan Bapa segala cahaya, Firman-Mu turun dari surgadalam keheningan malam. Bukalah hatiku untuk menerima hidup-Nya dan bukalah mata hariku untuk melihat Sang Hidup, agar hidupku dipenuhi dengan kemuliaan dan damai sejahtera dari-Nya. Amin.

  • Apa yang perlu aku lakukan untuk tinggal pada-Nya dan setia menjadi saksi-Nya?

Et Verbum caro factum est, et habitavit in nobis – Iohannem 1:14

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here