Lentera Keluarga – Gembala Yang Baik

0
1,200 views

Tahun A-2. Minggu Paska IV

Minggu, 3 Mei 2020. Hari Minggu Panggilan

Bacaan: Kis 2:14a.36-41; 1 Pet 2:20b-25; Yoh 10:1-10. 

Renungan: 

Dalam Injil Yohanes beberapa kali Tuhan Yesus mengatakan “ Akulah …” dan dalam bacaan hari Ia menyatakan diriNya sebagai gembala yang baik dan Pintu kepada domba-domba. 

Ia menyebut diriNya gembala yang baik, yang mengingatkan para pendengarkan Allah sebagai gembala Israel sebagaimana terekam pada Yeh 34, Yer 23, Mzm 23 dan Yes 40. Gembala yang memperhatian, memimpin, menjaga dan mengenal domba-domba secara personal.   Ia juga menyebut diriNya pintu kepada domba. Biasanya kandang domba di desa mempunyai satu celah satu keluar masuknya domba. Dan di tempat itulah para gembala tidur menjadikan dirinya pintu dan pelindung bagi domba-domba yang ada di kandang dari pencuri ataupun hewan pemangsa.    Gambaran gembala yang baik ini dilawankan dengan pencuri yaitu para pemimpin religius yang lebih memberi makan dirinya sendiri, menjadikan domba sebagai aset, memanfaatkannya dan tidak merawat domba-dombanya. 

Menjadi gembala-imam, religius, menikah dan hidup single itu bukan pertama-tama rencana dan keputusan pribadi, tetapi adalah tanggapan dan jawaban dari panggilan Allah untuk mencintai dan mengasihiNya.  Kisah injil hari ini adalah sebuah pergumulan hidup orang-orang terpanggil yang dipanggil untuk memberikan hidup secara total tetapi juga hidup dalam kelemahan dan kerapuhan, sama seperti orang kebanyakan. Panggilan datang bukan untuk menjadikan orang menjadi manusia super.   

Hidup orang. terpangil kadang dipandang sebelah mata karena tidak efektif; kadang hidupnya dianggap tidak normal; kadang dosa dan kelamahan sebagian orang, menjadi cap buruk termasuk bagi mereka yang hidup dengan tekun; mereka juga mempunyai orang tua yang perlu dirawat dan saudara yang perlu diperhatikan; mereka juga bekerja untuk dapat menghidupi komunitasnya. Mereka juga lelah dan capai serta kadang mengalami kesepian dan kesendirian. Kadang hidup dan perkataannya juga memberi batu sandungan dan tidak menyenangkan kita. Kadang kita kecewa karena mereka bukan manusia super seperti yang kita bayangkan. 

Di dalam pergumulan itulah, kita juga melihat bagaimana seorang pribadi berusaha dengan tekun menjawab cinta kasih Allah; merelakan dirinya untuk hidup dengan siapapun, diutus kemanapun, dan hidup di dalam kondisi apapun. Mereka melayani tanpa pandang bulu dan pamrih, memikirkan kebaikan hidup kita, yang terkadang tidak kita pikirkan. Mereka juga meresikokan hidup nya untuk kepentingan kita dan menjadi pelindung bagi kita. Mereka sangat berjasa bagi keselamatan kita, dan kadang mereka kita lupakan ketika kita berhasil. 

Kita bersyukur atas anugerah hidup religius, imamat dan panggilan awan dalam gereja. Gereja memanggil kaum muda untuk mencintai dan membaktikan hidupnya secara total bagi gereja. Gereja butuh calon-calon yang baik, dan calon baik itu tumbuh di dalam keluarga yang hidup di dalam kasih. 

Kontemplasi:

Gambarkan bagaimana Tuhan Yesus menggambarkan citra diriNya sebagai gembala. 

Refleksi:

Bagaimana aku mendukung hidup dan karya mereka yang terpanggil secara khusus? Apakah dukungan itu semakin membuat mereka bertumbuh dalam cara hidupnya dan karyanya? 

Doa:

Ya Bapa, tumbuhkanlah dalam diri umatMu kerinduan untuk membalas kasihMu dan melayaniMu secara paripurna. Berkatilah para gembala, religius dan para awam dalam hidup panggilan dan karya mereka. Dan taburkanlah benih panggilan dalam keluarga-keluarga kami. 

Perutusan:

Jagalah para gembala di dalam jalan hidupnya dan doakanlah selalu supaya di dalam kelemahan, hidup dan karya Allah semakin dinyatakan dalam hidup mereka.

(Morist MSF)

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here