Lentera Keluarga – Hidup Rohani Yang Berbuah

0
108 views

Tahun A-2. Minggu Biasa XV

Minggu, 12 Juli 2020. 

Bacaan:  Yes 55:10-11; Rm 8:18-23; Mat 13:1-23

Renungan: 

MELALUI perumpamaan tentang penabur ini, Tuhan Yesus mau menegaskan hal yang sama: bahwa kekudusan hidup itu bukan hanya orang “aktif” dalam aktifitas ritual rohani (menunjuk pada orang farisi, ahli kitab pada waktu itu), tetapi yang mendengar dan melaksanakan Sabda Allah (orang yang menghidupi dan praktek). Persoalannya terletak pada tanah yang menunjuk kepada dunia batin/pribadi orang yang menerima. Setiap pengajaran yang Tuhan berikan direaksi berbeda setiap orang. Ada yang memperhatikan kemudian berlalu begitu saja; Ada yang tetap mengeraskan hatinya; ada yang menjadikannya ajang diskusi dan perdebatan; dan ada yang menerimanya dengan hati yang baik. 

Kita, sebagai satu keluarga,  membaca Kitab Suci yang sama, mengikuti Perayaan Ekaristi yang sama, tinggal di tempat yang sama; sama-sama bisa berdoa; tetapi juga praktek hidup kita berbeda-beda. Ini karena tanah kita. 

Kita sebagai sebuah komunitas religius atau imam, kita mempunyai panggilan yang sama, pedoman hidup yang sama, kebiasaan yang sama, dasar studi yang sama, tetapi praktek hidup kita bisa berbeda-beda. Ini juga karena tanah kita. 

Kita ada dalam komunitas yang sama; menghayati nilai-nilai yang sama; bekerja dalam pelayanan yang sama; dibentuk dengan cara yang sama; tetapi juga praktek hidup kita berbeda-beda. Ini juga karena tanah kita. 

Janganlah kita menyalahkan penabur atau menyalahkan benih yang ditabur seakan-akan benih itu bukan benih baik;  Jika tanah rohani kita subur; setiap pengajaran yang diberikan Tuhan pasti akan bertumbuh subur dalam hidup kita; Maka tugas kita bukan justru menambah kegiatan rohani tetapi juga menyeimbangkannya dengan pengolahan diri melalui bimbingan pribadi: menggali hati kita untuk mengambil serius pengajaran iman, menyisihkan prinsip dan kekerasan hati kita , untuk mencabut semak duri perasaan kita yang mudah tersakiti dan menyakiti; Ini bukan hanya soal mengolah dan menyembuhkan luka batin tetapi lebih kepada membentuk texture kepribadian kita menjadi subur. Hidup rohani yang aktif tanpa disertai dengan pengolahan kepribadian yang baik tidak akan menghasilkan buah. Hidup rohani yang aktif harus disertai dan diikuti dengan pengelolahan kepribadian yang terus menerus seumur hidup.  

Kontemplasi:

Gambarkanlah bahwa tanah itu adalah diri anda; penabur adalah Tuhan dan benih yang baik adalah pengajaran iman yang anda terima. 

Refleksi:

Apakah aku menyertai aktifitas rohaniku dengan pengolahan hidup dan kepribadianku? Kepada siapa aku mendapatkan bimbingan rohani dan kepribadian itu?

Doa:

Ya Bapa, semoga kerja kerasku untuk mengolah setiap sudut tanah kepribadianku membuat aku boleh sedikit demi sedikit memperluas tanah yang subur bagi pengajaran iman yang aku terima. 

Perutusan:

Olahlah texture kepribadi hidup anda, supaya hidup rohani anda itu bertumbuh dan menghasilkan buah yang berlimpah. 

(Morist MSF)

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here