Lentera Keluarga – Keputusan Untuk Tetap Mengasihi

0
125 views

Tahun A-2. Minggu Biasa XIV

Rabu,  9 Juli 2020. 

Bacaan:  Hos 11:1b.3-4.8c-9; Mzm 80:2ac.3b.15-16; Mat 10:7-15. 

Renungan: 

Kitab Hosea menggambarkan dengan jelas bagaimana Allah digambarkan sebagai ayah dan suami yang begitu mengasihi Israel anak atau isteri nya “…dari Mesir anak itu Kupanggil. Akulah yang mengajar Efraim berjalan dan mengangkatkan di tanganKu,…Aku menarik mereka denghan tali kesetiaan dengan ikatan kasih’.  Pengorbanan dan bantuan Allah dalam hidup mereka begitu luar biasa “mengangkat kekang dari rahang dan membungkuk untuk memberi makan”. Dapat digambarkan betapa kecewa, jengkel dan marahnya Allah melihat hal itu, namun Allah tetap mengasihi Ia mengatakan “Aku berbalik dari segala murka. Belaskasih-Ku bangkit serentak…Aku ini Allah, dan bukan manusia..”  Allah tetap mengasihi israel, membantu mereka pulih dan bertumbuh dalam kasih yang sama. 

Beberapa perkawinan kita juga berjalan dalam pola yang sama. Yang satu sungguh setia, penuh pengorbanan, namun yang satu justru memanfaatkan kesetiaan dan pengorbanan itu. Istilah yang sering dipakai “kasih bertepuk sebelah tangan”. Lepas dari sebab akibat atau sistem relasi  yang tidak sehat; tetapi kenyataan seperti ini ada.

Benar, bahwa situasi seperti ini sebagian dialami oleh suami isteri yang sistem relasinya tidak berjalan baik. Masing-masing merasa sudah berkorban banyak untuk pasangan, tetapi masing-masing tidak menyadari. Ada yang tidak sambung. Dan akibatnya mereka saling menyakiti dengan komentar dan sikap. 

Pemulihan perkawinan dimulai dari pertama-tama berpegang pada keputusan dan ketulusan untuk mencintai. Mencintai itu tidak berarti mengorbankan diri  atau mentolerir tindakan buruk.  Mencintai itu berarti bertindak proaktif untuk memulihkan diri sendiri dari luka, belajar untuk berkata dan bersikap positif, mengampuni, membantu pasangan untuk pulih dan rekonsiliasi hati. Proses ini bisa panjang dan pendek, tetapi yang pasti memerlukan kesetiaan kita. Dalam proses ini, cinta kita diupgrade ke cinta Allah dan kita semakin mengenal hati Allah untuk kita, yang de fakto kitapun melakukan hal yang sama terhadapNya.  

Kontemplasi:

Gambarkan bagaimana Allah memutuskan untuk mengasihi dengan menyembuhkan dan memulihkan Israel. 

Refleksi:

Apakah aku mau belajar untuk bertumbuh dalam kasih Allah yang tidak tenggelam dalam kekecewaan dan kemarahan tetapi membantu kesembuhan dan pemulihan Israel?

Doa:

Ya Bapa, ajarilah kami untuk mengambil keputusan untuk mencintai dengan cinta yang dewasa, cinta yang menyembuhkan dan memulihkan. Amin. 

Perutusan:

Pemulihan relasi terjadi ketika anda memutuskan untuk mencintai dengan cinta yang benar sebagai Allah nyatakan kepada kita. 

(Morist MSF)

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here