Lentera Keluarga – Menggali Sumber Sendiri

0
158 views

Tahun A-2. Minggu Biasa XVI

Kamis,  23 Juli 2020. 

Bacaan: Yer 2:1-3.7-8.12-13; Mzm 56:6-7ab.8-11; Mat 13:10-17.

Renungan: 

ADA beberapa alasan mengapa Allah melalui  Nabi Yeremia sampai mengungkapkan “mereka meninggalkan Daku, sumber air yang hidup, dan menggali sendiri kolam yang bocor yang tidak dapat menahan air”. 

Pertama adalah karena kurang bersyukur dan merasa kurang puas atas berkat Tuhan yang sangat melimpah.

Kedua adalah karena tidak mampu mengatur berkat Allah itu sesuai dengan keinginannya sendiri.

Dan ketiga adalah karena menolak kemurahan Allah dengan alasan bahwa mereka bisa sendiri, atas keringatnya sendiri. Padahal sesungguhnya hidup mereka itu tercukupi dan tergantung pada berkat Tuhan. 

Sikap Israel itu juga kadang kita temukan dalam diri anak-anak kita, ketika kita mengharapkan mereka meneruskan bisnis kita. Kita sadar bahwa berkat usaha tersebut, kita sebagai keluarga dapat hidup, dapat memeliki yang kita perlukan, anak-anak dapat sekolah dan dapat berkembang sampai seperti sekarang ini. Tetapi nampaknya anak-anak kita kadang menolak dengan alasan: tidak puas dengan berkat yang diterimanya, mereka tidak mampu mengelolanya sendiri dan mereka ingin bisnis sendiri serta tidak mau diajari dan diatur oleh kita sebagai orang tuanya.  Sikap anak-anak yang ingin mandiri ini pada dasarnya adalah baik; namun jika sumber hidupnya sudah ada dan berlimpah maka baiknya jika mereka juga tidak boleh meninggalkan sumber kehidupan yang selama ini ada.  

Bagi kita anak -anak, penting untuk kita cermati bahwa  “Kemandrian hidup” tidak harus dengan sendirinya meninggalkan apa yang sudah ada.  Jangan ada rasa gengsi atau rendah diri seakan-akan ktia tiidak mampu. Justru rasa syukur itulah yang membuat kita berkewajiban mengembangkan sumber yang sudah ada.  Jangan sia-siakan berkat dari orang tua yang menghidupi kita. 

Kontemplasi:

Gambarkan bagaimana sikap Allah kepada bangsa Israel yang tercermin dari ungkapan Nabi Yeremia. 

Refleksi:

Apakah aku bersyukur atas berkat kehidupan yang kuterima dari keluarga? Apakah aku mengembangkannya ataukah aku menolaknya karena alasan-alasan “kemandirian” yang semu? 

Doa:

Ya Bapa, ajar kami bersyukur atas anugerahMu yang berlimpah; dan ajarilah kami mengelolanya dengan baik dan bertanggungjawab sehingga menjadi berkat bagi banyak orang. 

Perutusan:

Bersyukurlah atas berkat yang anda terima dan janganlah terjebak dalam kemandirian semu yang didasarkan pada semangat pembuktian kemampuan diri. 

(Morist MSF)

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here