Lepas Bebas terhadap Sarana

1
2,060 views

 

[media-credit name=”google” align=”alignleft” width=”223″][/media-credit]BAGIAN kedua “Azas dan Dasar” (Latihan Rohani no. 23), Santo Ignatius Loyola menulis tentang sarana bagi manusia untuk mencapai tujuan dia diciptakan. Tujuan manusia diciptakan adalah memuji, menghormati, dan mengabdi Tuhan, dan dengan demikian menyelamatkan jiwanya. Tentang sarana, Ignatius menulis: “.”

 

Ciptaan lain dipahami tidak hanya ciptaan dalam pengertian benda atau barang tetapi juga segala peristiwa, lingkungan, martabat hidup, semua yang menyebabkan kegembiraan atau sakit, segala yang kita sebut “jahat” dan “baik”, semuanya yang membedakan manusia dengan Tuhan.

Semuanya itu diciptakan Tuhan , untuk mengatur keinginan, kesenangan, pendidikan dan perkembangannya, dan , yakni memuji, menghormati, dan mengabdi Tuhan. Di sini ciptaan tidak diciptakan supaya manusia tergantung padanya tetapi supaya menjadi penolong baginya.

Ignatius menerima kenyataan bahwa manusia itu mudah jatuh. Kenyataannya manusia tidak dapat mengendalikan bagaimana “mempergunakan” () dan “meninggalkan” () barang-barang ciptaan. Bagi manusia yang mudah jatuh, segala hal mengandung potensi bahaya, termasuk hal-hal yang baik, misalnya kesehatan, kekayaan, kehormatan, dan hidup panjang. Maka, Ignatius mengatakan bahwa barang-barang tersebut digunakan atau ditinggalkan “sejauh itu merintangi dirinya.”

Pembatasan ini mengandung arti bahwa sikap lepas bebas tidaklah dilakukan secara buta. Sikap lepas bebas bukanlah tujuan pada dirinya sendiri, tetapi untuk mencapai sikap yang “seimbang.” Untuk mencapai sikap lepas bebas manusia harus memandang hakikat dan tujuannya diciptakan. Maka, sikap lepas bebas selalu mencakup hubungan antara manusia dengan Tuhan, bukan antara manusia dengan barang-barang.

Dalam , sikap “lepas bebas” jelas dilawankan dengan “rasa lekat tak teratur”. Yang dimaksud dengan “rasa lekat tak teratur” adalah kecenderungan untuk terlalu bergantung pada sesuatu demi kepentingan diri sendiri (sikap-sikap egois).

Kehendak Ilahi baru dapat dicari setelah orang melepaskan diri dari rasa lekat tak teratur. Sikap lepas bebas bukanlah sikap netral, sikap tak tentu, melainkan sikap untuk mencari kehendak Allah secara positip. Ini ditempuh melalui ciptaan. Hanya terhadap barang ciptaan manusia bersikap lepas bebas, bukan terhadap Allah.

 

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here