Lulus Daring dari SMP Santa Maria Banjarmasin

0
216 views
Lulus secara daring dari sekolah (Lorensius Tanujaya)

ADA yang unik di tahun 2020, semua proses pendidikan baik di tingkat dasar, menengah dan tinggi dilakukan secara online atau daring. Sejak April 2020, dunia bahkan diramaikan dengan wisuda online. Presenter Najwa Shihab, melalui tagar #WisudaLDR2020 bahkan mengajak siapa saja untuk mengunggah foto saat wisuda, sebagai bentuk semangat dan dukungan.

Ya, pilihan melakukan semuanya via daring menjadi jalan keluar di tengah pandemi Covid-19. Wabah ini telah mengubah banyak hal. Kekhawatiran –disertai larangan–  berkumpul di satu tempat, menjadikan proses online begitu diminati dan dinikmati.

Tak terkecuali, SMP Santa Maria Banjarmasin, mulai dari belajar lewat daring selama masa di rumah saja hingga Penilaian Akhir Tahun (PAT) Online.

Teranyar, kelulusan siswa kelas IX diumumkan dalam jaringan (daring), Jumat (5/6/2020), pukul 10.00 Wita.

Pengumuman ini menggunakan aplikasi Zoom. Kepala sekolah beserta wakilnya dan wali kelas IX online dari sekolah. Para siswa beserta orang tua/wali murid online dari rumah masing-masing.

Tahun ini, berdasarkan hasil rapat dewan guru tingkat kelulusan SMP Santa Maria Banjarmasin 100 %. Total ada 68 siswa yang lulus. Berbagai cerita mengiringi kelulusan daring ini.

Meishy Yosephani Elga Putri misalnya, sehari sebelum prosesi kelulusan, dia sempat kebingungan karena topi dan dasi (dengan logo sekolah) tertinggal di asrama.

Untungnya seragam sekolah sempat dia masukkan di tas, karena ketika sekolah menerapkan belajar di rumah sejak 18 Maret, Meishy langsung pulang ke daerah asalnya di Kuala Kurun, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah.

Jarak antara Kuala Kurun dan Banjarmasin kira-kira tujuh jam perjalanan, tidak akan sempat jika meminta pihak asrama mengirimkan topi dan dasi miliknya. “Saya izin ke guru, biar boleh pakai dasi dan topi yang nggak ada logo sekolah,” kisahnya.

Meishy mendapat izin, tapi ternyata masalah tidak berhenti sampai di situ. Di daerahnya, semua topi memakai warna putih biru, sedangkan di sekolah, warna topi yang dipakai biru. Untungnya, pihak sekolah tetap membolehkan, karena untuk menyesuaikan kondisi dalam masa pandemi.

“Kita tidak bisa juga terlalu ketat. Kebahagiaan anak-anak dalam kelulusan itu paling utama,” ujar Bona Ventura Bowo Kusmanto, Wakasek Bidang Kesiswaan SMP Santa Maria Banjarmasin menanggapi kejadian itu.  

Lain halnya dengan Gabriel Bryant Sutanto, peringkat II terbaik lulusan 2019/2020 ini mengeluhkan koneksi jaringan. Meski mengaku senang bahwa akan ada pengumuman kelulusan daring, dia tidak bisa mengikuti prosesi dengan lancar.

“Koneksinya tidak kuat, tapi yang penting orangtua bisa dengar langsung hasil kerja keras kami di sekolah,” katanya.

Momoknya adalah jaringan internet

Jaringan internet memang menjadi momok dalam konsep daring ini. Apalagi, tidak semua daerah di Kalimantan memiiki koneksi internet yang bagus. Beberapa daerah asal siswa SMP Santa Maria Banjarmasin, jangankan untuk video confrence, pesan di Whatsapp saja bisa susah masuk.

Ada siswa yang harus ke daerah tertentu supaya bisa dapat sinyal. Beruntung saat prosesi kelulusan daring kemarin, semua bisa mengikuti meski juga ada yang tersendat-sendat siarannya.

Hampir senada, Gilbert Willianto merasa tidak enak dengan suara siaran yang terkadang ada delay antara satu dengan yang lain. Ini terjadi akibat koneksi jaringan yang berbeda antar tiap peserta di Zoom.

Dari rumahnya, Gilbert didampingi ibu dan ayahnya, sudah bersiap di hadapan gawai sejak pukul 09.30 Wita. Kadang, dia kesulitan mendengarkan prosesi apa yang sedang berlangsung. Beruntung, sehari sebelum hari pelaksanaan, pihak sekolah mengadakan gladi bersih.

Meski dengan beberapa kekurangan, Gilbert bersyukur meski terpisah jarak, dia masih bisa bertemu dengan teman-teman dan para guru secara virtual.

“Praktis juga, kita tidak bisa ketemu, tapi tetap bisa bersama,” kata siswa kelahiran Jakarta, 15 tahun yang lalu ini.

Pengumuman kelulusan online juga membuat para siswa merasa bahagia. Meski beberapa di antara mereka, aada yang sudah menantikan momen kelulusan seperti angkatan terdahulu. Ada prosesi yang dilakukan di sekolah, bisa saling berjabat tangan, bergandengan, melihat teman atau para guru yang terkadang tidak kuasa menahan air mata.

Rindu berkumpul

Semua itu mereka rindukan, seperti Bryan Kevyn Davvo Gunadi, bahkan sejak masih di kelas VII dia sudah ingin merasakan momen kelulusan ketika melihat kakak kelasnya lulus. Momen itu begitu membekas di hatinya, sehingga Davoo ingin sekali merasakan momen-momen itu.

“Saya lihat kakak kelas ada yang nangis, ada yang datar saja, beberapa ketawa-ketawa, sampai ada yang pucat mukanya. Penasaran, rasanya ingin juga seperti itu,” kenang Ketua OSIS SMP Santa Maria periode 2018-2019 ini.

Senada, Daniel Putra Nababan mengungkapkan kerinduannya untuk bisa berkumpul dalam momen kelulusan ini. Tapi, kondisinya tidak memungkinkan. Dia pun bersyukur, masih ada pengumuman kelulusan dalam jaringan.

Daniel yang pernah meraih juara 1 Kompetisi Olahraga Pelajar Daerah Cabang Sepakbola, Kota Banjarmasin tahun 2019 ini, ingin sekali bisa saling berjabat tangan, mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa kepada teman, para guru dan suster kepala sekolah.

“Tapi, saya tetap bangga, atas izin Tuhan kami semua lulus dengan hasil yang memuaskan,” kata Daniel.

Kali ini memang beda

Dalam sambutannya, Kepala SMP Santa Maria Banjarmasin Sr. Aloysia Jawa Hajon, SFD, S.Pd, menyampaikan bahwa kali ini suasananya berbeda. Namun, dia berterima kasih kepada orang tua siswa dan anak-anak sehingga bisa mengikuti acara dengan baik.

“Biasanya kita datang ke sekolah, tapi situasi kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tidak datang ke sekolah, kita terpisah oleh jarak. Namun, kita tetap di dekat di hati. Dengan semangat yang terus berkobar-kobar kita berjuang dalam situasi sulit ini, untuk melakukan yang terbaik untuk siswa-siswi kelas sembilan dan juga untuk sekolah kita,” ungkapnya lirih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here