Makanan Kosher

0
140 views
Ilustrasi (Ist)

Puncta 07.02.24
Rabu Biasa V
Markus 7: 14-23

KALAU kita memasuki restoran di Israel, kita akan menemukan tulisan “Kosher” di pintu atau tempat tertentu. Itu berarti makanan yang ada di situ diyakini layak atau halal untuk dimakan.

Kalau turis-turis dari luar membawa makanan harus diseleksi dulu apakah makanan itu kosher atau tidak. Misalnya kita bawa sambel trasi, “dendeng celeng” atau abon sapi ke restoran di hotel. Mereka akan meneliti dengan ketat, apakah makanan itu memenuhi syarat kosher atau tidak.

Ada empat faktor yang menyebabkan makanan menjadi tidak kosher, yaitu menggunakan bahan-bahan non-kosher, mencampurkan antara daging dengan susu, dimasak oleh orang non Yahudi dan makanan yang dilarang dikonsumsi di waktu-waktu tertentu.

Aturan kosher didasarkan pada hukum Perjanjian Lama yang tertulis dalam Kitab Taurat. Hal ini telah dihidupi selama berabad-abad dan menjadi kebiasaan bagi Bangsa Yahudi.

Yesus datang membawa pemahaman baru. Yesus memperbaharui semangat atau nilai-nilai dalam aturan adat istiadat itu.

Yesus berkata, “Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskan dia. Tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.”

Bagi Yesus semua makanan itu halal. Yang bisa menajiskan orang adalah apa yang keluar dari dalam diri seseorang.

Dari dalam hati orang timbul segala pikiran jahat, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua kejahatan itu timbul dari dalam dan menajiskan orang.

Kita memetik apa makna sabda Tuhan yakni kita jangan hanya terpancang pada aturan harafiah, yang nampak dari luar saja, tetapi apa yang dari dalam hati manusia itulah awal mulanya kenajisan kita.

Segala tindak tanduk, tutur kata, perilaku yang jahat dan tidak baik serta merugikan orang lain itulah yang membuat kita tidak layak sebagai manusia bermartabat.

Pikiran kita jangan hanya terjebak soal tidak boleh makan ini atau itu. Tetapi apa yang keluar dari mulut kita, tingkah laku dan perbuatan kita yang jahat, itulah yang membuat kita menjadi pribadi yang najis, kotor, tidak layak di hadapan Tuhan.

Kesucian hidup tidak cukup hanya memenuhi segala aturan, tetapi membersihkan diri kita dari perilaku kejahatan. Tindakan jahat dimulai dari hati dan pikiran kita.

Maka memfilter segala yang masuk ke dalam hati dan pikiran itu sangat penting. Mari kita jaga apa saja yang masuk ke dalam diri kita, agar hidup kita dijauhkan dari segala kejahatan.

Jagalah hati jangan kau kotori,
Jagalah hati lentera hidup ini.
Jagalah hati jangan kau nodai,
Jagalah hati cahaya Ilahi.

Cawas, menjaga hati nurani
Rm. A. Joko Purwanto Pr

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here