Mana Lebih Bermakna

0
98 views
Ilustrasi: Para frater SSCC main bola dengan residen YSM.

Seperti biasa, ritual pagi itu saya jalankan. Kali ini agak kesiangan. Pukul 06.30 baru berangkat jalan cepat pagi, keliling kampung. Dijadwalkan 50-60 menit, menempuh sekira 5 kilometer.

Baru melangkah 500 meter, berpapasan dengan seorang teman lama yang baru pulang mengantar cucunya ke sekolah. Kebetulan rutenya searah.

Saya berhenti sebentar dan terjalin obrolan basa-basi sekedarnya.

Tumben, kali ini sang teman bermaksud berkunjung ke rumah. Tak ada yang spesial, hanya karena lama tak jumpa, katanya.

Sekejab terjadi konflik dalam benak saya. Jalan pagi sudah kadung ditempuh, tapi sang teman terlihat antusias untuk mampir.

Sempat sekian menit konflik berkecamuk dalam dada. Dua pilihan yang tak mudah.

Menolak sang teman mampir dan meneruskan olahraga, atau balik-kanan guna memenuhi maksudnya. Pertarungan di dalam sana membuat rasa tak nyaman.

Untung, yang kedualah menang. Saya penuhi permintaannya.

Kepala saya anggukkan dan senyum paksa disunggingkan. Saya putar badan dan kami bersama menuju rumah.

Usai ngobrol sekira 1 jam, sang teman pamit.

Kangen terobati dan keperluannya terpenuhi. Senang bisa tertawa lepas sambil mengingat cerita-cerita lucu yang lama tak diungkit.

Sepulang sang teman, saya termenung sejenak.

Kemudian merasa puas dan pas, telah memilih balik kanan dan menemani sang teman di teras belakang rumah. Jalan pagi bisa digeser nanti sore, atau bahkan ditunda besok pun tak mengapa. Toh untuk kepentingan diri saya sendiri.

Sejak lepas dari pekerjaan rutin, olahraga jalan kaki, sepeda statis atau aerobik saya canangkan bergantian menjadi rutinitas. Hampir setiap hari bergulir otomatis.

Exercise menjadi kegiatan mutlak. Bahkan masuk agenda sangat penting. Sangat jarang menundanya atau membatalkan nya. Kecuali kalau ada halangan khusus yang mendesak.

Gerak badan menyehatkan jiwa-raga. Ilmu kesehatan dan bahkan ajaran agama pun mengatakan demikian.

Itu semua ditujukan untuk kepentingan diri saya. Agar badan dan jiwa tetap sehat. Hanya akibat tak langsung (yang cukup jauh) menjadikan olahraga (pribadi) berguna pula untuk orang lain.

Kalau olahraga kebetulan “bertabrakan” dengan kepentingan atau kebutuhan orang lain (baca : sesama), sah-sah saja saya memilih “kemaslahatan” orang lain.

Sekali lagi, kebutuhan atau kepentingan saya bukan hanya penting, tapi sangat-sangat penting.

Hanya, kepentingan itu turun level menjadi nomer dua bila disandingkan dengan kepentingan orang lain. Lebih-lebih bila itu tidak membuat saya kesulitan, sakit atau menderita.

Sering saya gamang, bila harus menimbang kepentingan diri versus mereka. Mendewakan kepentingan diri seolah-olah menjadi sakral, jelas melawan hukum kemanusiaan yang harus dinomer-satukan.

Meletakkan kepentingan diri di bawah kemaslahatan sesama adalah fitrah sebagai (umat) manusia. Menjadi tak elok bila kita menukarkan tempatnya, karena ia menyangkal kemanusiaan itu sendiri.

“We cannot despair of humanity, since we ourselves are human beings.” – Albert Einstein

Baca juga: Pekan Suci: Mengapa Patung Dikrukubi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here