Manajemen Resolusi Tahun Baru yang SMART

0
102 views
Ilustrasi.

MENURUT penelitian, 50 persen resolusi tahun baru tidak terpenuhi alias tetap bertengger di bagian perencanaan saja.

Lalu, bagaimana supaya kita masuk kelompok 50% yang berhasil?

Nah, mari kita bahas secara simpel dari aspek manajemen ya.

Pertama, modal awal tentunya kita sudah buat resolusi ya, nah, kiatnya adalah membuat resolusi yang tepat.

Maksudnya tepat itu gimana?

Sebelum itu kita lihat apa faktor utama kegagalan resolusi. Faktor tersebut bisa dikategorikan ke dalam tiga kelompok yaitu:

1. Resolusi yang ga ori, artinya yang ga berasal dari diri sendiri tapi dari pihak-pihak lain – termasuk di dalamnya resolusi yang copas dari yang lagi trendi, resolusi yang didiktekan orang lain.

Tentu sah-sah saja kalau resolusi ‘titipan’ tersebut berhasil ‘diadopsi’ oleh kita tetapi kalau tetap terasa itu punya yang lain yah termasuk ga ori.

Misalnya teman-teman Indy lagi rame-rame mau ikutan marathon, lalu Indy ikutan jadikan resolusinya juga, lebih supaya tak ketinggalan ramenya saat marathon itu. Padahal Indy ga hobi maraton, lari 1km saja ga demen; apalagi 45km.

Awalnya hepi sekali mempersiapkan diri dengan membeli sneaker lari tapi ketika mulai tahapan harus mulai latihan, Indy ga merasa penting banget bangun pagi untuk lari 5km sehari di bulan pertama. Apalagi nanti jaraknya ditambah di bulan-bulan berikutnya.

2. Resolusi yang ga jelas

Ga jelas itu gimana?

Yah ngambang, misalnya mau lebih sehat di tahun depan, tapi tak jelas aspek apa yang dituju. Apakah dalam hal makan atau lebih banyak gerak?

3. Resolusi yang tak ada detilnya

Mudah untuk membuat resolusi, kalau pun bingung bisa dapat banyak inspirasi di internet. Hanya kalau sekedar hanya satu kalimat atau satu kata saja, tanpa ada rencana turunannya, dijamin resolusi itu sukses tetap tinggal sebagai sederet kata di kertas atau di file, ga ada realisasinya.

SMART

Jadi, apa tips untuk membuat resolusi yang bukan sekedar resolusi doang?

SMART jawabannya.

SMART: Spesific, Measurable, Achievable, Relevant and Time-bound.

SMART dikenalkan pertama George T. Doran di Management Review edisi November 1981.

Yuk kita lihat rincian SMART dalam kaitan resolusi tahun baru.

  • Spesifik

Resolusi yang diinginkan perlu benar-benar jelas. “Membuat tujuan yang konkret sangat penting daripada hanya mengatakan ‘Aku ingin menurunkan berat badan.’

Perlu spesifik: Berapa banyak berat badan yang ingin diturunkan dan pada interval waktu berapa. Misalnya lima kg dalam dua bulan ke depan.

  • Measurable, Terukur

Ini tampak jelas jika tujuan aku adalah penurunan berat badan, bisa diukur dengan berapa kg turun berat badannya kan. Untuk hal lain juga bisa dicari cara ukurnya.  

Misalnya, ada orang yang punya kebiasaan menggigit kuku setiap kali nervous atau stress.

Cara mengukur kalau ingin menghentikan kebiasaan tersebut, ambil gambar kuku dari waktu ke waktu sehingga dapat melacak kemajuan dan bagaimana kuku itu tumbuh kembali. Mencatat kemajuan ke dalam catatan di hp misalnya atau akan membantu melacak perilaku dapat memperkuat kemajuan.

  • Achievable, Dapat dicapai

Buat resolusi yang bisa dicapai. Ini bukan berarti aku tak dapat memiliki tujuan besar. Tetapi mencoba mengambil langkah terlalu besar dan terlalu cepat dapat membuat kita frustrasi, atau mempengaruhi aspek lain dalam hidup sehingga resolusi kita malah membebani hidup dan jelas akan mendatangkan frustasi dan gagal.

Misalnya memutuskan untuk menabung cukup uang untuk pensiun dalam lima tahun ketika berusia 30 tahun mungkin tidak realistis, tetapi menabung tambahan 500 ribu sebulan mungkin dilakukan. (Dan selanjutnya lebih mudah menggeser angka itu hingga tambahan sejuta, dua juta dan seterusnya).

  • Relevan

Apakah ini tujuan yang benar-benar penting bagi aku?

Apakah resolusi ini berasal dari alasan yang benar?

Jika aku melakukannya karena rasa emosi negatif seperti membenci diri sendiri atau penyesalan atau hasrat yang kuat berkobar-kobar sesaat, maka biasanya tidak berlangsung lama resolusi tersebut.

Tapi kalau resolusi itu dipikirkan dengan logis dan serius, bisa mengubah struktur hidup, bisa melibatkan orang-orang yang akan memperkuat resolusi itu, maka bisa jelas memiliki kesempatan merealisasikannya.

  • Time-bounding, Dibatasi waktu

Seperti aspek ‘achievable, dapat dicapai’, waktu untuk mencapai tujuan kita juga perlu realistis.

Itu berarti memberi diri kita cukup waktu untuk melakukannya, dan buat tujuan-tujuan pendek sepanjang proses realisasi resolusi tersebut.

Fokus pada keberhasilan mencapai tujuan kecil ini sehingga dapat modal dan semangat untuk terus berusaha.

Jika kita ingin membangun suatu kebiasaan, kita merencanakan untuk satu dekade ke depan, bukan hanya beberapa bulan ke depan.

Selamat membuat resolusi yang riil ya.

Selamat Tahun Baru 2022.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here