Manipulasi Kasih

0
340 views
Ilustrasi - Ditinggal pergi kekasih begitu saja - buah cinta palsu. (Ist)

Minggu, 15 Mei 2022

  • Kis. 14:21b-27.
  • Mzm.145:8-9,10-11,12-13ab.
  • Why. 21:1-5a.
  • Yoh. 13:31-33a,34-35.

DI saat dunia saling menggigit dan menerkam, Yesus mengajarkan kita kasih yang penuh dengan pengurbanan.

Dia memerintahkan kita untuk saling mengasihi, mengasihi tanpa pamrih, mengasihi dengan tidak menyakiti sesama, mengasihi bahkan ketika dikhianati sekalipun.

“Saya hanya bisa mengucap syukur atas kebersamaan selama hampir tiga tahun ini, sebuah perjalanan batin yang syarat makna,” kata seorang ibu,

“Dengan ini, aku tahu bahwa selama ini aku salah memperjuangkan orang. Pribadi yang selama ini aku utamakan dalam segalanya ternyata dia tidak pantas aku perjuangkan karena ternyata orang itu hanya ibarat benalu di dalam hidupku,” urainya dengan sedih.

“Saya sudah mengesampingkan orang yang selama ini telah banyak berkorban untukku demi orang lain. Saya khianati suamiku,” katanya dengan sedih.

“Ketika masalah datang, lelaki itu dengan entengnya mengatakan, ‘Kamu tahu, aku ada anak dan isteri, dan kamu pun punya keluarga, lebih baik kita kembali kepada keluarga kita masing-masing.” Tidak ada lagi kata-kata yang indah dan penuh janji manis seperti yang pernah dia katakan,” kisah ibu itu.

“Dia seakan menjadi pribadi yang sangat lain biasanya. Dia lakukan itu bukan karena sadar tetapi dia takut menanggung konsekwensi dari perbuatannya maka dia hanya ingin cepat cuci tangan dari masalah yang ada, tanpa mau tahu pergulatanku menghadapi masalah sendiri karena perbuatan kami berdua, dengan gampangnya dia mau pergi begitu saja,” jelasnya.

“Kata-kata manis dan penuh aroma cinta dan kasih yang sering dia umbar hanyalah janji palsu, hanyalah kebohongan semata, kata-kata indah yang dia katakan dulu itu sungguh tanpa makna,” tegas ibu itu.

“Bukan kasih dan cinta namanya, jika datang situasi sulit lalu pergi begitu saja; bukan kasih dan cinta jika orang tidak mau berkurban dan bertanggungjawab,” imbuhnya.

“Mengasihi mereka yang mengasihi kita dapat dilakukan oleh siapa pun; mengasihi mereka yang mendukung atau membantu kita dapat dilakukan oleh siapa pun; mengasihi mereka yang memberi segalanya bagi kita dapat dilakukan oleh siapa pun; tetapi mengasihi orang yang namanya jelek, sedang ditimpa masalah serta kesulitan, barulah pribadi yang berkualitas,” ujarnya.

“Akhirnya waktu menunjukkan kualitas kasih yang ada dalam diri seseorang, apakah orang tetap memberi kasih dan cinta meski situasi tidak sebaik masa-masa indah dulu,” katanya.

“Meski demikian saya tidak akan mendendam padanya, sekarang saya sadar bahwa selama ini kami tidak mengasihi satu sama lain, kami hanya mengejar nafsu dan perasaan,” jelasnya.

“Saya harus bertumbuh lagi dalam kasih dan cinta karena nyatanya saya hanya sampai sebegitu kualitas kasih yang saya miliki. Saatnya saya kembali menata hidup dan membuat langkah baru dalam memperjuangkan kasih kepada pribadi yang tepat,” katanya lagi.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.

Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”

Yesus menghendaki kita saling mengasihi melampaui standar umum dunia.

Kasih yang melampaui standar umum dunia di sini adalah seperti kasih yang telah ditunjukkan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya: “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.”

Sebab, dengan saling mengasihi seperti dimaksud oleh Yesus, dunia akan mengenal identitas kita sebagai murid-murid Yesus, dan kemudian dunia akan memuliakan Allah.

Bagaimana dengan diriku?

Kasih seperti apa yang saat ini aku perjuangkan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here