Mappalette Bola, Tradisi Gotong Rumah

0
135 views
Tradisi pindah rumah seutuhnya atau Mappalette Bola. (Indonesia.go.id)

Puncta 14.01.22
Jumat Pekan Biasa I/C
Markus 2: 1-12

BAYANGIN pindah rumah di Jawa mungkin kita melihat orang packing-packing, berkemas pakaian, perabot rumah dipindah dengan mobil ke tempat yang baru.

Tidak demikian dengan tradisi di Sulawesi Selatan. Pindah rumah itu berarti memindahkan bangunan rumah panggung yang sudah berdiri diusung ke tempat yang baru. Tradisi ini disebut Mappalette Bola atau Marraka’ Bola.

Tradisi turun temurun ini didasari semangat gotong royong warga masyarakat. Tanpa semangat solidaritas dan kerjasama tak mungkin hal ini terjadi.

Rumah besar yang beratnya bisa mencapai puluhan ton bisa dipindahkan.

Selain gotong royong juga dibutuhkan seorang panutan (ketua adat) yang akan memimpin acara Mappalette Bola.

Orang yang berkharisma ini akan diikuti perintahnya oleh seluruh warga. Mereka dengan sukarela membantu mengangkat rumah panggung itu bersama-sama.

Mereka memasang bambu-bambu dari bawah rumah untuk pegangan memikul rumah. Ketua adat akan memimpin doa dan memberi aba-aba kepada semua warga.

Setelah rumah dipindah ke lokasi baru, lalu diadakan doa syukuran dengan makan bersama dengan penuh sukacita.

Semangat gotong royong juga nampak dalam dalam Injil hari ini.

Ada seorang lumpuh digotong oleh empat orang. Karena orang banyak berjejal di depan pintu, mereka tidak bisa lewat.

Muncul akal kreatif mereka. Mereka membuka atap rumah di atas Yesus dan menurunkan orang lumpuh itu dengan tilam.

Semangat menolong mereka sungguh besar. Tidak mundur menghadapi kesulitan.

Karena iman orang-orang yang tulus membantu,Yesus berkata kepada si lumpuh, “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.”

Kata-kata Yesus ini menimbulkan ketidaksukaan para ahli Taurat. Mereka menuduh Yesus menghojat Allah.

Orang munafik biasanya suka menghakimi orang lain. Merasa diri paling benar dan dengan dalil-dalil aturan Taurat mereka berusaha menghukum orang yang berbuat baik.

Orang munafik selalu berpikir negatif terhadap orang lain. Yesus mengkritik mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu?”

Yesus menunjukkan bahwa Ia berkuasa mengampuni dosa, karena Ia berasal dari Allah. Tidak hanya itu saja, Yesus juga berkuasa menyembuhkan orang lumpuh itu.

“Supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa.” Maka Dia berkata, “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu, dan pulanglah ke rumahmu.”

Yesus menghargai iman yang diwujudkan dalam kerjasama dan pengorbanan orang-orang yang menolong si lumpuh.

Dengan bersinergi kita bisa menolong orang lain. Gotong royong adalah wujud dari iman.

Apakah kita punya semangat gotong royong, kerjasama untuk berkurban bagi orang yang menderita?

Apakah kita berani terus maju berbuat baik kendati menghadapi tantangan dan kesulitan di depan?

Adiknya Petruk namanya Bagong.
Mereka berdua pelayan Arjuna.
Mari kita terus bergotong-royong.
Hidup rukun dengan siapa saja.

Cawas, holobis kuntul baris….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here