Marah demi Kebaikan

0
442 views
Ilustrasi (Ist).

Jumat, 18 November 2022

  • Why. 10:8-11.
  • Mzm. 119:14,24,72,103,111,131.
  • Luk. 19:45-48.

MARAH merupakan hal yang wajar, asalkan disertai alasan yang wajar dan tidak berlebihan.

Namun, jika kita sering marah tanpa sebab, kondisi tersebut dapat menjadi pertanda dari gangguan mental hingga masalah kesehatan tertentu.

Pada dasarnya, kita ini merupakan makhluk sosial yang berharap dan mencari kepuasan dalam hubungan sosial.

Ketika kebutuhan kita secara sosial dan emosional serta harapan kita tidak terpenuhi, emosi diri ini bisa terganggu secara emosi negatif.

“Saya sungguh terganggu dengan sikap anak muda itu, hingga saya bentak anak itu dengan keras,” kata seorang bapak.

“Sepanjang misa, ia hanya main HP dan berkali-kali tertawa dan mengajak ngobrol temannya,” ujarnya.

“Saya sudah berusaha menahan diri untuk tidak terpengaruh sikap anak itu, tetapi lama-lama tidak tahan juga karena sikap anak itu benar-benar keterlaluan,’ sambungnya.

“Saya ingin dia tahu, bahwa Gereja ini tempat sakral dan tidak semestinya menjadi tempat untuk bermain,” ujarnya.

“Bermain HP di Gereja itu bentuk sosial, karena selain merugikan diri sendiri tetapi juga mengganggu kekhusukan doa orang lain,” paparnya.

“Tidak semua orang setuju dengan sikapku menegur dengan keras, yang dicemaskan dan dipikirkan banyak orang adalah dampak psikologisnya, ke depan anak itu mungkin tidak mau ke gereja lagi,” ujarnya.

“Mendengar masukan romo dan teman-teman, saya merasa menyesal karena saya tidak bisa mengontrol emosiku dan memberikan teguran pada anak itu dengan lembut,” katanya.

“Namun kekuatiran itu tidak terbukti karena enam tahun kemudian, saya melihat anak itu masuk seminari, menjadi frater,” sambungnya.

“Marah yang tepat itu membantu orang lain untuk bertobat,” tegasnya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,

“Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.”

Inilah inti kemarahan Yesus hari ini.

Yesus marah pada kejahatan yang dilakukan oleh manusia.

Yesus marah pada manusia yang memanipulasi sesamanya, marah pada manusia yang mencari keuntungan dari kesusahan sesamanya.

Yesus marah pada manusia yang memanipulasi keagamaan demi kepentingan dan kekayaan pribadi.

Yesus marah pada segala bentuk kejahatan manusia. Jadi kemarahan Yesus bukan tanpa alasan.

Yesus marah karena cintanya pada manusia.

Yesus selalu mencintai kita tanpa batas, Yesus hanya berharap kita bertobat dan kembali kepada Allah.

Yesus hanya peduli pada keselamatan kita!

Bagaimana dengan diriku?Apakah aku berani menegur orang yang bersalah?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here