Mari Melangkah, Meski Hanya Setapak

0
53 views
Ilustrasi (ist)

ADA cerita menarik dari Piun, teman saya.  
 
Sudah lama ia berhenti berlangganan koran. Selain karena fungsinya digantikan media  daring, pandemi membuatnya khawatir memegang kertas lebar itu.
 
Bulan lalu, loper yang dulu mampir ke rumahnya.
 
“Pak, tolong saya.  Saya harus mendapatkan 100 pelanggan baru dalam dua bulan.  Kalau tidak, saya dipecat.”
 
Sang Piun terdiam. Sempat terjadi konflik di kepalanya. Sebetulnya bukan pilihan yang sulit, meski tak juga sederhana.
 
Pilihan pertama, memenuhi permintaan si loper. Sekaligus memberi peluang agar dia tetap mendapatkan nafkah. Uang Rp 125 ribu rupiah per bulan harus keluar dari dompetnya.
 
Atau tak membantu si loper. Uangnya aman, tapi bisa jadi si loper tak punya penghasilan. Loper dan keluarganya menderita, tak ada uang di kantongnya untuk makan dan uang sekolah anaknya.
 
Keesokan harinya, si loper dapat kabar gembira. Mulai bulan depan, Piun akan berlangganan koran kembali. 
 
Saya mengikuti langkahnya. Mulai bulan depan ada lagi koran tergeletak di depan pintu rumah saya setiap pagi. Masih belum terbayang, apakah saya membacanya seperti 50 tahun yang lampau. 

Tapi itu tak penting.
 
Saya mulai membaca koran, sejak tahun 1970-an.  Nyaris tak pernah jeda, sampai 2 tahun lalu.  Baru mulai berlangganan lagi, gara-gara teladan sang teman.  Kali ini harus mulai “belajar” membaca koran lagi.
 
Berlangganan koran  gara-gara pandemi, bukan karena ingin mengetahui berita.  Tepatnya, pandemi mengakibatkan resesi. 

Resesi membuat orang kehilangan pekerjaan. Penghasilannya mampet. Ekonomi tergerus, orang susah semakin banyak. Berputar semakin lambat, begitu seterusnya.  Lama-lama bisa berhenti atau bahkan berputar arah. 
 
Kami menganggap ini bukan langkah istimewa. Biasa-biasa saja. Membantu penghuni planet yang sama, sejatinya menolong semuanya. 
 
Mirip Piun, saya punya teman baik yang antusias mempromosikan langkah semacam ini.  Namanya Budiman.

Kami berteman sejak 46 tahun lampau.
 
Budiman adalah penyintas Covid. Karena bergejala sedang, ia “menikmati” bagaimana penyakit itu bercokol di tubuhnya.

Konon dia harus isoman di lantai atas rumahnya, sementara isteri, anak-anak dan cucu-cucunya tetap di lantai bawah. Makanan, vitamin, obat-obatan dan keperluan hidup lainnya disuplai dari bawah.
 
Meski di hari ke-14 gejalanya sudah mereda, Budiman bertahan sampai tesnya negatif.  Itu perlu waktu 25 hari.
 
Begitu sembuh dari Covid, Budiman “balas dendam”.  Ia menjadi “pengamat” pandemi dan dampaknya.
 
Tiap sore membuat statistik dan ulasan pendek tentang perkembangan Covid, kemudian mengunggahnya di grup WA. Pola penjalaran pandemi diamati dan dikomentari dengan saksama. 

Meski awam, prediksinya banyak yang tepat, meski kadang juga meleset. 
 
Salah satu rekomendasinya yang menyentuh adalah sarannya untuk mulai membelanjakan sebagian uang yang selama ini disimpan.
 
“Ayo, belanja-belanja. Bongkar sedikit tabungan. Jangan menawar harga kepada pedagang kecil”.
 
Ia juga menganjurkan agar masyarakat yang mampu mulai bergerak. Bantu agar ekonomi berputar. Sedikit tak apa. Kalau pelakunya banyak dampaknya dahsyat.
 
Tiga hari lalu kami diundang makan siang ke kantornya. Sembilan teman yang hadir mendapat suguhan sate, gule, sup dan kepala ikan. Selain karena sudah lama tak jumpa, orang keluar rumah identik dengan memutar ekonomi. Undangan makan siang yang kedua sejak pandemi mereda. 

Jangan lupa, Prokes 3M ditegakkan bersama dengan hati-hati. 
 
Konon, Budiman melakukan pembelian kepada pedagang-pedagang kecil lainnya. Bukan terutama karena membutuhkan barangnya, tetapi lebih untuk mengangkat taraf hidupnya. Tak terlalu kentara, terlihat  sederhana, tapi niatnya mulia, usahanya berpahala.

John Hopkins University menyebut Indonesia sebagai one of the best in the world dalam penanganan COVID-19. Salah satu negara terbaik karena mampu menurunkan kasus hingga di bawah 58 persen dalam kurun waktu 2 minggu. 

Tak hanya dicatat dalam keberhasilan mengelola pandemi, GDP Growth Indonesia tahun 2021 juga diperkirakan tumbuh 3.5% dibanding angka -2.1% di 2020.  (https://www.adb.org/countries/indonesia/economy).

Seperti sulapan. Semuanya berubah mencorong  dalam sekejab. Alhamdulillah, puji Tuhan. 

Hasil yang dicapai karena partisipasi banyak orang, tak terkecuali Piun dan Budiman.  Hanya setapak langkah, yang dilakukan bersama-sama, hingga hasilnya menakjubkan.

“Economic growth without social progress lets the great majority of people remain in poverty, while a privileged few reap the benefits of rising abundance”.  (John F Kennedy)


@pmsusbandono
8 Oktober 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here