Maria, Bunda Kita Semua

0
4,524 views

SUDAH menjadi tradisi lama dalam Gereja Katolik merayakan  bulan Mei dan Oktober sebagai  Bulan Maria. Dengan berbagai cara umat, secara individual maupun komunal, bahkan kolosal menghormati Maria. Di rumah, di sekolah, di tempat ziarah, semua penuh orang beribadah. Doa-doa, lagu pujian berkumandang lantang untuk Bunda Maria. Maria kembali jadi bintang.

Jarang orang bertanya, apa itu yang dimaui bunda Maria? Apa Yosep bangga dengan itu semua? Apa Yesus tak ngrasani ibuNya?

Di rumah                                                                                                                                                                                                                                    Diakui atau tidak, peran ibu luar biasa. Mencipta suasana, mencintai suami, mengandung, melahirkan, mendidik anak-anak. Pagi bangun duluan, malam tidur paling kemudian. Orang pertama yang sering menjadi sasaran emosi ayah dan anak-anak. Tokoh utama rerasanan mertua dan tetangga. Tetapi seberapa jauh kita sendiri menyadari dan kemudian menghargainya. Bahkan sekedar ungkapan: “Terima kasih Ma!” atau “I love You Ma!”

Di sekolah                                                                                                                                                                                                                          Pernahkah terbayangkan, sekolah-sekolah kita tanpa kehadiran ibu-ibu guru.   Anak-anak TK, mau tinggal di sekolah untuk membuat sejarah baru, karena ibu guru. Anak-anak SD mengacu pada cara bu guru pakai baju dan berbicara. Yang SMP dan SMA menjadikannya model gadis pujaannya. Tetapi orangtua, lembaga  pendidikan, toh jarang, kalau pun dan satu dua yang memberi apresiasi ke para ibu guru.

Di lingkungan kerja                                                                                                                                                                                                               Apa jadinya, dunia pekerja, bisnis dan industri tanpa kehadiran peran para ibu. Betapa pun dipandang rendah karena kemampuan dan kecantikannya, namun perannya nyata. Semua pihak mengetahui bahwa banyak yang sebenarnya jadi “sapi perah” penghasil uang perusahaan dan negara (seperti TKI), namun siapa yang pernah berbuat sesuatu untuk memihak para wanita itu?  Belum mereka  secara pribadi sering jadi kurban ‘nafsu kiat usaha’. Tidakkah itu bentuk perbudakan moderen.

Artinya, ada kontras antara realita dan utopia ketika kita menempatkan Bunda Maria dalam agama kita. Pertanyaan kita, bagaimana iman kita mewujud dalam perilaku hidup sehari-hari?

Penghormatan kepada Bunda Maria, hanya bermakna, jika hal itu merupakan ungkapan dari perilaku kita-bagaimana kita menghormati ‘ibu’ kita, atau mengahargai ‘peran’ wanita dalam hidup kita’.

Jika tidak dibarengi upaya nyata, maka bulan Maria, justru akan cenderung jadi masa nostalgia, utopia atau fobia. Dan bila yang terakhir ini terjadi, pasti tak akan membuat ibu sejati bahagia. Kalau pun ibu senang diajak bernostalgia, bermimpi atau share tentang ketakutan-ketakutan anaknya, namun  akan lebih bahagia lagi, jika anaknya tegar menghadapi dunia, mengibas cemas karena menghayati cinta ibu: kasih dan peduli kepada sesama dan dunia, kecuali pada dirinya sendiri.

Hari ini, bulan Mei dan Oktober, ketika kita khususkan buat Bunda Maria, apa sikap dan perilaku baru hidup yang adalah cermin buah cinta ibu kita?

Photo credit: Mathias Hariyadi

Patung Bunda Maria di depan bangunan gereja lama di sebuah jalan di Da Lat,Vietnam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here