Maria, Kasihnya Bagai Sang Surya

0
232 views
Lukisan Bunda Maria bersama Kanak-kanak Yesus dengan bahan dasar manik-manik hasil karya Romo Matheus Yuli Pr, imam diosesan Keuskupan Ketapang dan Pastor Paroki Gereja Katedral Ketapang. (Mathias Hariyadi)

Bacaan 1: Ibr 5:7 – 9
Injil: Yoh 19:25 – 27

SAYA percaya banyak orang Indonesia mengenal lagu Kasih Ibu, ciptaan SM Mochtar atau Mochtar Embut.

Liriknya sungguh fenomenal, “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya, menyinari dunia.”

Sebuah penggambaran kasih seorang ibu yang sungguh abadi, sepanjang masa dan tak pernah putus. Kasih ibu senantiasa ada untuk anaknya dan tak pernah mengharapkan balas jasa. Dalam suka maupun duka, ia akan selalu menemani.

Kasih ibu tidak akan cukup jika digambarkan dalam sebuah kertas.

Hari ini, Gereja Katolik memperingati perayaan wajib, “Santa Perawan Maria berduka”. Menurut tradisi Gereja, ada tujuh dukacita yang harus dijalani oleh Santa Perawan Maria:

  1. Pengungsian Keluarga Kudus ke Mesir.
  2. Yesus yang masih kanak-kanak hilang dan diketemukan di Bait Allah.
  3. Nubuat Simeon.
  4. Perjumpaannya dengan Yesus dalam perjalanan-Nya menuju Kalvari.
  5. Saat berdiri di dekat kayu salib ketika Yesus disalibkan.
  6. Saat memangku jenazah Yesus, setelah Ia diturunkan di kayu salib.
  7. Ketika Yesus dimakamkan.

Saat kematian di kayu salib adalah saat kemuliaan Tuhan Yesus, disitu Ia menuntaskan misi-Nya menyelamatkan umat manusia. Dalam saat yang sama ibu-Nya, yaitu Maria juga menuntaskan tugasnya untuk menjadi saluran bagi lahirnya Sang Juru Selamat.

Ibu yang sungguh taat pada komitmen sejak ia menerima tugas yang maha berat, mengandung dalam tradisi adat yang penuh risiko kematian dan kemudian harus menyaksikan sengsara anaknya dan wafat di kayu salib.

“Jadilah padaku menurut kehendak-Mu.”

Itulah kata-kata yang sangat menyentuh dari Maria.

Sebagai anak yang bertanggungjawab dan berbakti, sebelum wafat, Tuhan menitipnya pada murid yang dikasihi-Nya, “Ibu, inilah, anakmu… Inilah ibumu.”

Paulus dalam peneguhannya kepada jemaat Ibrani menunjuk kepada kehebatan doa Yesus di Taman Getsemani.

Doa Yesus “didengarkan” Allah namun bukan dengan cara menyingkirkan penderitaan dan kematian, tetapi dalam pengertian bahwa Ia menerima pertolongan Allah untuk menjalani kisah sengsara-Nya.

Tuhan Yesus disempurnakan lewat penderitaan dan kematian-Nya di kayu salib yang menjadi sumber keselamatan bagi seluruh umat manusia. Sebagai orang Kristen, harus berani mengambil bagian dalam keselamatan ini lewat salib pribadi.

Pesan hari ini

Iman yang menyelamatkan adalah iman yang taat. Maria dan Tuhan Yesus adalah dua sosok teladan dalam hal taat dan konsisten menjalani tugas perutusannya.

Meski harus menjalani tujuh dukacita namun tidak menyurutkan kasihnya pada anak-Nya dan kepadaku serta anak-anaknya dalam jemaat-Nya. Maria adalah ibuku yang sejati, kasihnya bagai sang surya menyinari dunia.

“Manusia akan menjadi lebih kuat seiring halangan dan ombak yang menghalangi mereka. Pakailah maskermu dan jaga jarakmu.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here