Matamu adalah Pelita (bagi Tubuhmu)

0
161 views
Ilustrasi: Burung elang dikenal punya pandangan mata tajam. Inilah sosok burung elang Jawa yang difoto di kaki Gunung Muria Jateng by Mathias Hariyadi

COBALAH berkaca mata hitam di ruang tertutup malam hari dan gelap, maka kamu tak akan bisa melihat apa-apa.

Coba pula saat siang dengan matahari tajam menyengat serta terik panas dengan kaca mata hitam, Anda ‘merasa’ diteduhkan saat memandang kanan-kiri. Saya tak akan menunjuk di mana Mateus nulis ini, karena teks itu bergaung saat saya melamun tanpa bawa macam-macam, hanya bawa diri.

Hidup dengan mata yang dianugerahi Tuhan,  seketika saya mengingat yang buta mata fisik ternyata mata hatinya lebih tajam, lebih peka lalu mata indrawi ini yang biasa melihat dari luar, fisik, kulit dengan mudah terpukau pada tampilan sosok eksotis menarik dari luar.

Inilah saya kira yang diolah oleh fesyen, semua kegiatan tarik menarik pesona indrawi mata fisik.

Lalu mata budi?

Ia membaca, menganalisa, menelusuri jalan nalar bahkan menaruh dalam ruang pertimbangan sambil bertanya lebih dalam: apa yang kulihat dengan mata fisik indra tadi benar-benar elok, mempesona? Kulitnyakah, bungkusnyakah?

Apa saya bisa melihat dengan budi lebih jernih untuk bertanya nalar dan dengan akal sehat: dalam satu kunci ‘mengapa’: mengapa yang permukaan elok, mempesona dalam pagelaran baju-baju mode baru, begitu ganti gelaran lain dari etnik ke kasual, dengan mudah menyimpulkan bahwa ada baju warna-warni yang dibuka, diganti lagi, pakai model baru dan sang peragawati dengan tubuh semampai seakan jadi tempat melekatkan baju-baju indah itu untuk sekali ‘catwalk’, pamer sekilas lalu lepas, dan ganti lagi yang dipanggungkan lain lagi.

Ini baju, ini busana, ini pakaian yang berfungsi menutup, menampilkan yang dibungkus itu tampil gagah, cantik serasi dengan baju paling kekinian, modis istilahnya.

Gadis-gadis model memperagakan karya desain kebaya terbarunya di panggung catwalk dalam Jakarta Fashion Week 2014. (Matbias Hairyadi)

Mata budi berpikir, dengan akal sehat biasa, menerobos apa yang di balik gemerlap baju-baju yang dipakai? Apa yang senyam senyum, lenggak lenggok, hati dan batin dalamnya juga seramah, semenarik senyum mengiringi jingkat-jingkat kaki ramping terpelihara itu?

Weit hati ada di dalam, tak bisa dibaca mata indra atau mata budiku: benarlah pengalaman pepatah hidup merangkum: dalam laut bisa diduga, namun dalam hati, siapa tahu?”

Jadi mata budi yang melihat dengan indra, menuntun ke adanya mata lebih dalam yaitu mata batin. Ini tak kelihatan dari luar namun tampilan 100% ukurannya ada dalam laku, mewujud dalam tindak. Hati yang disemayami, ditempat tinggali kebenaran, akan muncul kata dan laku bicara yang benar, jujur, sebaliknya hati yang penuh benci akan tanpa pikir timbangan budi mudah memaki, menyemprot berisi kata-kata yang kasar dan benci.

Pepatah hidup bijak kuno yang telah diuji sampai kini masih berlaku terus berkata: ‘dari hatimu yang memuat baik atau buruk dari budimu, akan meluncur kalimat dan kata-katamu’.

Bila hatimu penuh dengki, dan lagi kepenuhan marah, maka makian dan serapah mudah meluncur. ‘ex abundantia cordis’: hatimulah tempat semayam baik dan buruk refleksi nalar budimu.

Bila tak pernah merefleksi atau menimbang kata yang mau keluar dari mulut dengan budi cerdas atau budi timbang baik dan buruk, menyakiti orang lain atau tidak, maka kalimat-kalimat tanpa pertimbangan budi ini akan meluncur sampah dan koleksi nama-nama kebun binatang sebagai makian.

Jadi budi cerdaslah yang membuat pertimbangan nalar, masuk akalkah isu-isu serta sebab akibat bila saya mau bicara. Budilah dengan batas uji akal sehatnya akan diskresi kabar yang didengar, atau dibaca dinalar ‘kebenarannya’: apa sama antara yang dinyatakan dan yang fakta (faktual) ada.

Bila tidak benar yang bohong-bohong atau ada beda antara yang diinformasikan dengan kenyataan yang dikabarkan. Inilah kabar baik dibalik jadi kabar bohong, namanya hoaks.

Ilustrasi: Mata by ist

Sejauh mulut manusia dengan budi nalar dan timbangan hati saat ini bisa dibayar oleh kuasa modal, uang dan duit untuk kepentingan yang memberi modal, maka ‘mulut ‘ manusia yang kini menjadi lebih besar dan luas dalam mulut media sosial, maka mulailah muncul masalah paling dasar yaitu: bisa diganti dengan nilai material dan uanglah kebenaran fakta atau warta yang mestinya baik untuk fungsi informasi dan pencerahan serta pencerdasan jadi gorengan manipulasi yang menghalalkan segala cara demi terwujudnya maksud, hasrat dan kepentingan pemilik saham dari ‘mulut’ zaman ini yaitu media sosial.

Muncullah ‘framing’, pembingkaian yang tega membuang jauh kebenaran warta dan fakta diganti ‘fakta semu’ demi kepentingan penggaji si medsos atau pemilik saham media. Maka terjadi perang antara nilai ‘kebenaran’, ‘kebaikan’ bersama melawan kepentingan (bisnis), lipatan keuntungan dengan muslihat cerdik seakan ‘halal’ baik, padahal hanya ‘baju kemasan’nya saja, di dalamnya busuk… suk.

Bahkan mayat yang dikemas didandani dengan suntikan formalin pengawet apa pun akhirnya menerobos waktu batas dan mengeluarkan bau busuknya.

Dari mata indra ke mata budi, dan mata budi sosial pewarta kebenaran, kebaikan bersama, idealnya, cita-citanya ditabrakkan realitas telah semeruaknya kuasa uang, modal yang berkawan kongkalikong dengan politik kepentingan dan kekuasaan, maka dibuatnya situasi kebenaran palsu, kebaikan semu dan keindahan aksesoris dalam gabungan politik ekonomi.

Politik moral untuk kesejahteraan bersama diganti politik kuasa tanpa moral; menang kalah dan kepentingan untuk mencapai hasrat mencari kekayaan, menumpuk warisan untuk anak cucu seakan lupa bahwa kekayaannya tidak bisa dibawa saat akan mati nanti.

‘Matamu adalah politik’, sudah mengalami surut langgah dan tenggelam dalam gelap pekat tak hanya mata budi tak berfungsi menalar lagi, namun mata hati belum bangun sama sekali karena di pingsankan oleh keadaan gelap gulita pekat tanpa secercah sinar pun.

Inilah yang oleh teman yang khatam tentang jaman-jaman lingkar hidup Hindu dinamai kaliyuga yang dalam.

Ilustrasi: Moral blindness by ist.

Mengapa melantur?

Bisik sebuah suara amat lirih di hatiku. Oh ini dia, ada suara berbisik dalam hati, hanya berbisik saja toh sudah membuatku sadar akan kepanjangan lanturan dalam lmunantu dari mata indra, mata budi sampai dibisiki sesuatu dari hatiku. ‘Ia terus berbisik, membuat kalimat, merangkai alinea di hati dan lebih keras dari bisik, berkatalah ia, tadi kau mencariku? Suara (atau bisikan) hatimu?’

Saya baru sadar yang kerap dibahas, didiskusikan, inilah hati yang bersuara, meski lirih, inilah suara hati.

Saya menjadi lebih sadar lagi, bila mata budi keruh dan terhambat bernalar sekecil dan sesederhana akal sehat pun, maka anugerah langit (baca: Tuhan) pada manusia yang paling berharga akan zero fungsi.

Akibatnya, ia lupa pikir bisa terus menerus  tak berpikir hingga “lupa”, tak pernah menyesal pikir. Atau tak memakai anugerah Tuhan ini hingga teronggok disfungsi karena malas pikir. Saya kaget saat kembali muncul suara lebih keras dari bisik-bisik tadi yang mengatakan, timbanglah yang sudah dicerna mata budi melalui mata indra ke rumahMu ini.

Ya ke semayam hatiMu yang tiap kali mengajakmu bercakap-cakap solilokui batin denganmu perkara kebijaksanaan hidup buat laku hidup dan laku tindak.

Saya berhenti sejenak, mendengarkan suara itu lebih cermat hingga jelas suaranya bahkan mengingatkanku bahwa tempat semayam suara ini  mirip sama dengan kalbu yang bila mau membuka untuk dinaungi kasihNya, kebenaranNya maka kemanapun kau melangkah dan berkelana, kau membawa secuil surga yang tak hanya kau bawa namun kau luncurkan melalui kata-katamu yang meneguhkan dan bukan membuat kecut cemas. 

Bila hatimu bersuara kamu dengarkan bisik suci dan benar lalu kau rangkai kalimat, maka akan muncul kalimat bijak bila kau berkata sebab dari dalam hati yang teduh akan keluar aura dan energi kata teduh.

Seketika aku ingat para sufi menamai pula suara hati ini dengan perlambang dan berfungsi nyala Ilahi sebagai cahaya yaitu nurani.

Kini, cahaya atau nur Ilahi yang bercahaya di kalbumu, jangan lupa untuk kau rawat, kau pelihara agar tetap bernyala, nurani inilah ‘pelita’ di semayam hatimu saat gelap bingung yang karena kau rawat dengan doa dan dzikir maka ia tetap bernyala meski kadang angin kencang berusaha mematikannya.

Tepat di saat dan di momen jeda agak lama merenungi pelita inilah tersambung, firman atau sabda: matamu adalah pelita bagi tubuhku, bila matamu sehat maka sehat pula tubuhmu.

Diam-diam aku diajak berbisik: mata batin adalah pelita hati. Lengkaplah proses dari mata indra, ke mata budi lalu mata hati.    

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here