Mati Bahagia

0
564 views
Kehidupan dan kematian suatu keniscayaan by Royani Lim

BAPERAN- BAcaan PERmenungan hariAN.

Rabu, 20 Oktober 2021.

Tema: Siapa sangka.

  • Rm. 6: q2-18.
  • Luk. 12: 39-48.

KEMATIAN terkadang menyelinap tanpa terduga. Di tengah-tengah kelengahan. Tanpa permisi lebih dulu; bahkan tanpa ampun.

Sebuah kepastian akhir hidup fana yang tak terhindar. Tapi bukan akhir dari segalanya, tanpa arah.

Di balik peristiwa kematian, saat itu, yang muncul adalah pengharapan.

Harapan yang kuat dan menegaskan bahwa ada sesuatu itu yang menjanjikan di balik kematian. Lewat firman kebenaran, kematian berarti kembali. Tepatnya menuju.

Peristiwa kematian juga dapat berarti peristiwa belas kasih. Kematian manusia selalu merujuk pada belas kasih Allah yang tak terhingga.

Itulah pesan Injil yang sangat mendalam, menyentuh dan menguatkan bahwa hidup dalam dan bersama Allah adalah sebuah keindahan.

Hidup kita dalam segala sesuatunya, akhirnya, diselesaikan oleh cinta belas kasih Bapa.

Paulus berkata, “Syukurlah kepada Allah. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” ay 17a, 18.

Saya ingat betul suatu peristiwa yang meneguhkan, mengharukan, tapi membanggakan.

Menyadarkan siapa aku di dalam hidup ini.

Eulogi yang indah meneguhkan iman

Saya menyaksikan sebuah iman yang hidup. Artinya kepercayaan yang  memampukan seseorang memandang ke depan dan menghayati hidupnya secara berbeda.

Saat kata perpisahan dari suami kepada isterinya yang meninggal, setelah sepekan lamanya sakit, tidak ada suasana duka.

Suami dan anak-anaknya dengan keyakinan memandang almarhumah isteri dan ibu mereka.

Saya ingat betul kata-katanya.

“Kekasihku, pergilah menuju Bapa. Terimakasih atas cinta, persahabatan dan pengurbananmu selama kita bersama-sama. Terimakasih, engkau telah memberiku anak-anak yang baik.

Aku percaya, engkau pun mengatakan demikian. Selamattinggal kekasihku. Teruskanlah hidup dalam kegembiraan bersama anak-anak. Kupercayakan anak-anak kepadamu.

Aku bahagia. Kita telah melewati saat-saat yang menggembirakan. Begitu banyak waktu yang melegakan bagi kita berdua. Banyak hal yang indah kita alami. Hal itu membuat kita rukun. Kita membangun keluarga dari nol. Engkau merawat keluarga dengan baik.

Aku tak dapat membayangkan pengurbananmu.Tapi aku mau berterimakasih. Engkau dengan sabar dan setia menemaniku, bahkan membentuk hidupku menjadi pribadi yang bertanggungjawab, menjadi orang yang berterimakasih atas cintamu.

Aku ingat betapa kerikil-kerikil keluarga kita atasi bersama dalam doa.

Sering kali kita menyerahkan perkara yang sulit kita percayakan kepada Allah, pada Tuhan Yesus. 

Betapa Tuhan hadir dalam cinta kita.

Mami, terimakasih. Engkau telah menjadi ibu bagi anak-anak kita. Dan aku bangga bukan karena mereka tanpa salah, tapi caramu mendidik anak menenteramkan hati.

Ketika aku tak berdaya menasihati anak dan cenderung emosi, engkau memelukku dan berkata, “Itu anak kita. Hadiah dari Tuhan.”

Aku ingat engkau pun selalu menasihati anak-anak.

“Kalau engkau berkeluarga, bangun dan hidupi keluargamu dengan lebih baik. Temukanlah caramu beriman, selagi masih hidup.”

“Mami, kami melepaskan engkau dengan sebuah kerinduan untuk berkumpul kembali pada saat-Nya.

Mami lebih dahulu menuju Tuhan Yesus. Nantikan kami di sana ya. Kami pun akan menyiapkan kepulangan kami dengan lebih baik; menerima rahmat-Nya dengan lebih pantas saat diundang pulang.”

“Kami akan mengiringi perjalananmu di tempat yang sementara dunia ini. Kami yakin engkau telah berjalan menuju Tuhan. 

Selamat jalan kekasihku, ibu dari anak-anak kita.”

Saya mengiringi dan menemani keluarga ini sampai ke makam, Menyatukan jasadnya dengan bumi, tempat di mana Allah dimuliakan pula.

Saya sungguh tersentuh. Saya disadarkan bahwa hidupku juga sedang menuju kepada Bapa.

Kesadaran inilah yang membuat hidup lebih berarti dan menjalaninya dengan sebuah kegembiraan, karena percaya.

Saya belajar beriman dari keluarga ini.

“Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan.” ay 40.

Tuhan, mampukan kami melihat dan menapaki masa depan dalam ke-baru-an kasih-Mu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here