Mbah Sum

0
309 views
Iman, Persaudaraan, dan Kasih by Romo Suhud SX

Puncta 20.07.21
Selasa Biasa XVI
Matius 12:46-50

KETIKA tinggal di Pasang Surut, Palembang, orangtua saya punya tetangga namanya Mbah Sum.

Usianya kira-kira 75 tahun. Ia tinggal bersama anak dan cucunya. Setiap hari Mbah Sum hanya di rumah.

Karena sudah tua, ia tidak bisa bekerja di ladang atau sawah. Badannya kecil, pendek dan sudah lemah. Ia menderita sakit dan hanya tiduran di rumahnya.

Ibu saya tiap pagi merawat Mbah Sum. Ibu datang ke rumahnya untuk memandikan dan membawa makanan apa saja.

Setelah memandikan, ibu menyuapi Mbah Sum. Setelah selesai merawat Mbah Sum, ibu kembali pulang ke rumah.

Suatu kali Mbah Sum berkata, “Nak Sri, matur nuwun nggih, keraya-raya ngopeni wong tuwa sing lelaranen niki.” (Nak Sri, terimakasih ya mau repot-repot merawat orangtua yang sakit-sakitan ini).

“Mbah, kula niki sampun mboten gadhah tiyang sepuh. Kula mboten saged ngopeni tiyang sepuh kula sing tebih. Sakniki simbah sing dadi gentose tiyang sepuh kula.” Kata ibu sambil menyuapi Mbah Sum.

(Nek, saya sudah tidak punya orangtua. Saya tidak bisa merawat orangtua karena jauh. Sekarang Mbah Sum kuanggap sebagai orangtua saya).

Yesus berkata, “Siapakah ibu-Ku? Dan siapakah saudara-saudara-Ku?” Dan sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, Ia bersabda, Inilah ibu-Ku, inilah saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku, dialah saudara-Ku, dialah saudari-Ku, dialah ibu-Ku.”

Relasi saudara tidak hanya berdasarkan hubungan darah.

Tetapi menurut Yesus, hubungan saudara bisa terbangun ketika kita sama-sama melakukan kehendak Allah.

Siapa pun yang melaksanakan kehendak Allah, dia adalah saudara kita.

Kata ‘saudara” berasal dari kata ‘satu’ dan ‘udara’.

Kita manusia yang menghirup udara yang sama, bahkan binatang dan tumbuhan hidup, adalah saudara kita.

Bahkan Santo Fransiskus Assisi menyebut “Saudara Matahari, Saudari Bulan.”

Hubungan saudara tidak dibatasi oleh pertalian darah.

Juga bukan karena satu agama, etnis, suku atau adat budaya, tetapi siapa pun juga yang melaksanakan kehendak Allah, dia adalah saudara kita.

Sudahkah kita menganggap sesama kita sebagai saudara?

Semalam ngobrol bungah sumringah.
Merayakan 40 tahun perjumpaan di seminari.
Mereka yang melakukan kehendak Allah,
adalah saudara sekawah bumi pertiwi.

Cawas, menjaga api…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here