Melayani Bukan Menguasai

0
51 views
Ilustrasi - Mencari kekuasaan. (Ist)

Selasa, 21 Mei 2024

Yak. 4:1-10;
Mzm. 55:7-8,9-10a,10b-11a,10b-11a,23;
Mrk. 9:30-37

POHON-pohon besar di sepanjang jalan dan setiap tingkungan kembali dihuni foto-foto ukuran jumbo orang yang minta dukungan untuk maju menjadi kepala daerah.

Mereka meminta restu untuk berkuasa. Kekuasaan yang dimaksud di sini secara khusus merujuk pada “kekuasaan politik” (political power). Jadi rebutan kekuasaan dalam konteks ini termasuk berebut menjadi pimpinan atau kepala pemerintahan.

“Dalam ‘drama’ perebutan kekuasaan itu, tidak jarang mereka saling sikut, saling jegal, saling menelikung, saling menebar fitnah, saling memprovokasi, dan saling menjatuhkan satu sama lain. Cara-cara kotor dan menjijikkan pun –seperti merusak tatanan atau aturan hidup bersama, menyebarkan ujaran kebencian, rasisme, manipulasi agama, ‘memperkosa’ teks suci, kampanye hitam, propaganda jahat, menyalahgunakan tempat ibadah, mereka lakukan dengan riang gembira dan penuh kesadaran lahir-batin,” kata seorang bapak.

“Dalam arena perebutan kekuasaan politik itu, mereka tidak memedulikan kalau rival politiknya itu adalah teman, tetangga, atau bahkan saudara sendiri.

Mereka juga tidak menghiraukan meskipun lawan politiknya itu seagama, separpol, seormas, sesuku, seetnis, sedaerah, sekampung, dan seterusnya. Yang penting bagi mereka, kekuasaan bisa direngkuh. Jabatan bisa diraih. Masa bodoh dengan yang lain,” paparnya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?”

Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.”

Bagi Yesus, kehormatan seseorang tidak dilihat dari pangkat dan kedudukan, bukan pula karena kekuasaan yang ada di tangannya melainkan dari sejauh mana ia melayani sesamanya. Melayani sesama bukan menguasai sesama untuk mencapai kepenuhan kepentingan diri sendiri.

Kita juga suka tergiur dengan pangkat, kedudukan, hormat, dan pelayanan orang. Salahkah kita mengupayakannya? Tentu saja tidak salah apalagi kita menempuh cara yang Yesus tunjukkan yakni dengan melayani, melayani, dan melayani.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku melayani sesama melalui pilihan hidupku saat ini?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here