Melepaskan Masa Lalu

0
530 views
Saya bisa

Jumat, 11 November 2022

  • 2Yoh. 4-9
  • Mzm. 119:1,2,10,11,17,18.
  • Luk. 17:26-37.

SETIAP orang punya pengalaman masa lalu yang indah dan menyenangkan. Semakin usia kita menua, semakin kita punya banyak kenangan yang menjadi referensi saat ini.

Banyak orang yang hidup di masa lalu meski raganya tinggal di zaman ini, namun pikiran, perasaannya ingin selalu disesuaikan dengan masa lalu.

Kita tidak bisa “membanggakan kesuksesan masa lalu” sebagai dasar untuk menyosong kedatangan Tuhan jika saat ini kita hidup hanya semaunya sendiri.

Kebaikan dan keindahan di masa lalu tak berarti bagi kita pada saat ini jika tidak terus kita hidupi dan perbarui.

Keindahan masa lalu ibarat tangan monyet yang tetap terkepal karena mengenggam kacang tanah di dalam lobang buah kelapa yang sengaja dibuat seorang petani untuk menjebaknya.

Monyet tidak peduli bahwa itu jebakan karena baginya yang penting kacang tanah, makanan yang sangat lezat itu tetap di tangan meski kebebasannya terpaku dan bahkan kematian akan bisa menjemputnya.

Kenangan akan masa lalu bisa membuat orang membeku dan tidak bisa lagi kreatif dalam menghadapi kenyataan baru kehidupan ini.

Sikap serupa juga terjadi jika orang hanya peduli akan masa depan tanpa berbuat sesuatu yang nyata pada saat ini.

Menunggu masa depan tiba tidak akan banyak berguna karena masa depan itu belum terjadi. Berandai-andai saja tak ada artinya karena hal itu semua belum menjadi kenyataan.

Masa kini adalah jalan untuk menghidupi masa depan kita. Menjadi seperti apa masa depan kita, sangat ditentukan oleh apa yang saat ini kita bangun.

Kita hanya akan menyongsong masa depan yang indah dan membahagiakan bersama Tuhan, jika kita hidupi masa kini dengan sepenuh hati.

Kerajaan Allah sudah ada di tengah-tengah kita. Ia hadir seperti benih dan ragi.

Kita dapat mengalami kepenuhan kerajaan Allah di kelak kemudian hari jika mulai saat ini kita setia menghidupi iman kita dengan cara-cara yang sangat sederhana sekalipun.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,

“Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan isteri Lot!”

Hari Tuhan akan menjadi hari penyelamatan bagi mereka yang beriman dan malapetaka bagi yang tidak beriman.

Hari itu akan datang secara tiba tiba sehingga tidak akan ada waktu lagi bagi orang untuk persiapan diri, untuk mengubah haluan, untuk membereskan yang belum beres, dan lain lain.

Isteri Lot berubah menjadi garam karena menoleh kebelakang dan tidak rela meninggalkan Sodom.

Kehidupan yang telah dilalui di Sodom dengan segala pernik kenikmatan yang menyesatkan telah membuatnya ingin kembali.

Kita diajak untuk bertobat dan meninggalkan masa lalu meski seindah apa pun masa lalu itu jika tidak sesuai kehendak Tuhan

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku teguh dalam iman dan berani memgikuti kehendak Tuhan meski harus meninggalkan pengalaman pribadi yang indah?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here