Memaknai Kematian Secara Positif: Belajar dari Santo Fransiskus Assisi dan Pengalaman Liem Tjay (2)

2
305 views
Ilustrasi: Mengingat mereka yang sudah meninggal dunia dengan "Mementomori" (Romo Koko MSF)

KEMATIAN bernilai positif, karena menjadi saat kembalinya umat beriman ke pangkuan Bapa. Saat di mana umat beriman diperkenankan mengalami damai abadi.


Merasa kehilangan

“Wow” Liem Tjay juga ikut merasa kehilangan. Berdukacita atas teman teman religius yang sudah menjawab “panggilan” Tuhan secara definif dalam kematian.

Setia, total sampai mati

Teman teman sepanggilan sudah mempersembahkan hidup sebagai religius dalam menjalankan tugas dan pengutusan mereka sampai tuntas. Lalu, pergi menghadap Sang Gembala Agung.

Mereka telah melewati tangga-tangga, lorong-lorong dan lika-liku kehidupan. Melalui pengalaman jatuh bangun sampai akhirnya boleh mencapai garis pamungkas.

Hidup mereka penuh, dan total dalam melakoni panggilan ini. Mereka tetap setia mengenakan jubah putih.

Ketika mereka dibaringkan oleh teman komunitas, keluarga, umat tercinta dalam sebuah peti kayu nan mungil, mereka ihklas, pasrah dengan ketenangan jiwa, damai dan sejuk.  

Mereka tersenyum sambil berucap: “Sudah selesai. Teruskan, kawan. Setialah berjuang dalam panggilan suci.

Kata-kata yang diucapkan Yesus, “sudah selesai” (Yoh 19:30) dipahami sebagai ungkapan rasa lega, penderitaan-nya sudah lewat.

Dalam bahasa Yunani, kata itu ditulis, “tetelestai” dari kata “telos”. Yang berarti akhir yang merangkum perjalanan dari awal dan yang memberi makna pada semua yang telah dijalani.

(Markus Marlon: Makna Kematian. Mereka meninggalkan sejuta pesan untuk-ku, untuk-mu, untuk kita.)

Catatan reflektif

  • Kusadari dan kuterima bahwa kematian adalah bagian hidupku sebagai manusia ciptaan Allah. Suatu saat kematian akan menjemputku dan aku pasti akan melewati. Maka sekarang ini bagaimana hidupku bermakna, berdaya guna bagi diriku, bagi orang lain dan bagi Tuhan sebagai seorang religius.

Jeanne d’Arc (1412 – 1431) mempunyai prinsip hidupnya untuk Tuhan. Ia tahu musuh-musuhnya kuat, sedang waktu sudah amat pendek.

Maka ia berdoa kepada Tuhan, “Aku akan hidup hanya untuk satu tahun, pakailah aku jika Engkau berkenan.”

  • Kubersyukur pada Tuhan bahwa aku masih diberi nafas kehidupan di tempat-ku, di mana aku diutus dan berkarya, tinggal, hadir dalam bersama umat dan masyarakat yang sedang PPKM di masa corona.
  • Aku ingat budaya Romawi yang menulis motto di dalam peti jenazah “Hodie mihi, cars tibi” – “Hari ini aku yang mati, besok engkau.”

“Amin” jawabanku dengan penuh yakin.

Aku “sekarang” yang sehat ini, tetap eling (ingat) waspada, karena jantungku sudah cacat dan rentan di masa corona.

  • Dengan menerima fakta banyak rekan sepanggilan sudah mendahului menghadap Tuhan, jangan sampai aku tenggelam larut dalam kesedihan, penyesalan dan putus asa, mencari pembenaran, merasionalisasi kejadian, mencari kambing hitam atau hidup seenaknya mumpung masih masuk dalam kaum elit berjubah.
  • Sebaliknya aku harus semangat melanjutkan apa yang sudah dilaksanakan mereka selama menghayati panggilan sebagai religius.

Dalam hal ini, Liem Tjay masih menyimpan tulisan almarhum Romo Marlon MSC yang bisa memberi semangat hidup di zaman corona.

Begini tulisannya.

Teruskan. Motivasi pelayanan.

Saya belum pernah mendengar seorang ibu yang bilang, “Sudah Nak , tidak usah latihan berjalan lagi. Berhenti saja, nanti jatuh lagi.”

Dikatakan sewaktu melihat anaknya sedang belajar berjalan.  

Sebaliknya, seorang ibu atau pengasuh tentu akan berteriak penuh semangat, “Ayo Nak.  Teruskan, teruskan, teruskan. Jalan terus pasti bisa.” 

“Teruskan” adalah kata-kata penegasan sekaligus memberi motivasi bagi yang mendengarkannya.

Dalam Kitab Suci pun, ada suara-suara yang tegas-singkat-inspiratif. Mungkin tidak pernah terpikirkan bahwa malaikat tidak pernah mengatakan apa pun selain, “Bangun dan bergegaslah.”

  • Seorang malaikat datang kepada Petrus dalam penjara dan berkata, “Pergilah, berdirilah…” (Kis 5: 20).  
  • Seorang malaikat menampakkan kepada Yusuf dalam suatu mimpi, ketika Herodes membantai bayi-bayi dan berkata, “Bangunlah…” (Mat 2: 13).

Tentu saja orang yang mendengar kata-kata tegas-singkat-inspiratif  ini menjadi termotivasi karena ada “jaminan” bahwa akan selamat.

Kata-kata magis itu seolah-olah mewakili orang yang hendak membantu dalam kesulitannya.

Sebenarnya dalam pelbagai peristiwa-kejadian, banyak orang yang mendukung. Meskipun tidak harus berkata, “Teruskan.”

Ketika acara X-Factor di RCTI – setiap Jumat malam –digelar, ada yuri yang berdiri sambil bertepuk tangan dan tersenyum kepada calon bintang.

Itulah bukti bahwa dirinya berkata, “Kau hebat, teruslah bernyanyi.” 

Tentu saja si calon bintang begitu termotivasi dan merasa didukung. Demikian pula, jika ada antusiasme para kader yang melakukan standing ovation, ketika mendengarkan pidato dari seorang pemimpin partai.

Gemuruh suara para kader itu sebenarnya berkata, “Teruskan dan lanjutkan berjuang untuk rakyat.”  

Setiap orang dalam dirinya sangat butuh kata-kata motivasi yang tulus dari orang lain, teristimewa orang-orang yang terdekat.  

Janganlah kita menjadi orang yang “patah semangat”, hanya karena dipatahkan oleh kata-kata negatif orang lain.  

Kita perlu berguru kepada Michelangelo (1475–1564) yang memberikan motivasi kepada muridnya: Antonio.

Dalam sebuah kisah, setelah Michelangelo wafat, seseorang menemukan di studionya selembar kertas di mana ia menulis sebuah catatan kepada murid magangnya, “Menggambarlah Antonio, menggambarlah. Dan jangan buang-buang waktu.” (19 April 2013: Markus Marlon)

Apa yang harus “ku-terus-kan”?

  • “Apa yang ku-terus-kan darimu, teman-teman ku sepanggilan yang sudah berpulang?” demikian tanya Liem Tjay.
  • “Apa yang bisa aku buat, di masa corona ini untuk meneruskan semangat dan perjuangan teman-teman ku yang sudah RIP?”

Sadar dan semakin sadar

Saat ini, Liem Tjay sedang menapaki perjalanan panggilan sebagai religius untuk mencapai tahap pengalaman RIP.

Romo Koko MSF membuatkan karikatur untuk menyemangati Liem Tjay.

Legenda St. Fransiskus Asisi (1182–1226)

Ketika Fransiskus yang sudah mulai tua menanam pohon, maka datanglah orang dan berkata, “Seandainya Bapa tahu bahwa hari ini akan mati, apakah yang akan Bapa lakukan?”

Jawabnya, “Tentu saja saya masih akan tetap akan menanam pohon.”

Orang itu berkata lagi, “Apa tidak baik, jika Bapa mulai bersiap-siap menghadap Tuhan dengan berdoa tanpa henti?”

Fransiskus berkata, “Saya sudah siap, kapan saja Dia memanggil saya.”

Tepian Serayu, Banyumas

Pesta Salib Suci, 14 sep 2021

Nico Belawing Setiawan OMI

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here