Memikul Salib, Melayani yang Kecil dengan Rendah Hati

0
2,438 views

MINGGU BIASA 25, B; 27-9-2015

Keb. 2:12.17-20; Yak. 3:16-4:3; Mrk. 9:30-37

Hari ini kita mendengar lagi pemberitaan Yesus tentang penderitaanNya. Dan seperti minggu yang lalu, para murid tidak mengerti maksud pemberitaan Yesus, sehingga Yesus menunjukkan salah satu bentuk mengikuti Dia dengan memikul salib. Berbeda dengan minggu yang lalu, Yesus sekarang dalam perjalanan menuju Yerusalem. Yesus tahu apa yang akan menimpa diriNya, tetapi Ia dengan sadar dan rela pergi ke Yerusalem untuk melaksanakan kehendak BapaNya. Sedang para murid, mereka ikut berjalan bersama Yesus, tetapi dengan suasana hati berbeda. Mereka berebut gengsi, siapa yang paling hebat, siapa yang paling dekat dengan Yesus, siapa yang paling banyak mendapat kepercayaan dari Yesus dsb. Sehingga Yesus menunjukkan kepada mereka jalan untuk mengikuti Dia. Yang hebat bukan banyaknya prestasi atau banyaknya harta milik, tetapi banyaknya pelayanan bagi orang-orang yang paling kecil, lemah dan tidak berkuasa. Anak kecil adalah orang yang tidak punya kuasa, ia ditentukan oleh orang lain, orang tua, guru, kakak, famili dsb. Melayani dalam kerendah hatian, merupakan perwujudan memikul salib dalam hidup sehari-hari.

Kita cenderung untuk mengukur hidup kita berdasarkan hasil dan prestasi serta pengakuan orang lain. Kita bangga akan hebatnya prestasi kita, akan berapa banyak yang kita miliki sebagai tanda prestasi kita dsb. Kita suka diakui sebagai orang yang berhasil, sukses, kaya dsb. Kita juga mau berkurban dan melayani orang; asal diakui. Karena itu merupakan tindakan pahlawan. Kursi pahlawan itu keras dan tidak enak. Tetapi sepadan dengan penghormatan yang diperoleh. Dan sebaliknya, kita tidak suka menjadi orang tidak dikenal; sebagai anonim. Kadang kita ingin menjadi orang tersembunyi, karena seringkali karena kita tidak mau terlibat, menjadi repot karena di kenal. Kita sembunyi karena tidak ingin privacy atau kenyamanan kita diganggu. Melayani adalah sikap sebaliknya; sikap yang mau mendahulukan orang lain. Menjadikan orang lain lebih penting dari pada diri saya, kepentingan saya, harga diri dan keinginan saya.

Disebuah persalinan, “Bisa saya melihat bayi saya?” pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan kurang menarik. Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu, yang tak mampu menahan tangisnya. Sang ibu tahu hidup anak lelakinya itu kurang meggembirakan Anak lelakinya itu terisak-isak berkata, “Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, “aku ini makhluk aneh.” Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis.Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, “Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?” Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuk anaknya. “Saya yakin saya mampu memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,” kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkan untuk anaknya. Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, “Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia.” kata sang ayah. Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahir dengan cukup sempurna. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa tahun kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, “Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.” Ayahnya menjawab, “Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu.” Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, “Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.1

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah istrinya yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah………bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. “Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,” bisik sang ayah. “Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya, bukan?” Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui,  namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.[1]

Rumusan akhir tentang cinta, juga dapat menjadi rumusan tentang rendah hati dan pelayanan. Bukan apa yang diketahui orang tentang apa yang sudah saya lakukan; tetapi apa yang telah saya kerjakan dan tidak diketahui orang. Disitu saya melayani dalam kerendahan hati. Banyak ibu melakukan hal ini bagi anak, suami mereka. Semoga kita juga melakukannya dalam hidup kita bersama orang lain di sekitar kita. Disitu saya memikul salib Kristus dalam jalan-jalan kecil dan sepi di kehidupan sehari-hari. Biarlah dalam hidup ini, terjadi demikian. Amin.

 

[1] Today’s insight: Inilah Cinta, Inilah Ikhlas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here