Mempelajari Best Practices Serikat-serikat dalam Karya Kepausan Indonesia (5)

0
97 views
Syering pengalaman melakukan best practice Serikat-serikat dalam Karya Kepausan Indonesia (KKI) sebagaimana sudah dipraktikkan oleh masing-masing keuskupan di wilayah pastoralnya masing-masing. (Angel Li)

KEGIATAN hari ke-2 Pernas KKI IX pada sore dan malam hari adalah sesi syering “best practice”. Disampaikan oleh tiga Serikat Kepausan:

  • Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (POSI).
  • Serikat Kepausan Pengembangan Iman (POPF).
  • Serikat Kepausan Pengembangan Panggilan (POSPA).

Keuskupan yang mempresentasikan best practice ”untuk Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (POSI) adalah Keuskupan Agats-Asmat dan Keuskupan Denpasar. Dengan masing-masing Dirdiosnya yaitu Sr. Stanisla FSGM (Keuskupan Agats-Asmat) dan Romo Herman Yoseph Babey (Keuskupan Denpasar).

Keuskupan yang mempresentasikan best practice untuk Serikat Kepausan Pengembangan Iman (POPF) adalah Keuskupan Makassar dan Keuskupan Surabaya. Masing-masing Dirdiosnya adalah Romo Junarto Timbang (Keuskupan Agung Makassar) dan Ibu Ratna Tjandasari (Keuskupan Surabaya).

Keuskupan yang mempresentasikan best practice untuk Serikat Kepausan Pengembangan Panggilan (POSPA) adalah Keuskupan Sibolga dan Keuskupan Sintang. Masing-masing Dirdios adalah Sr. Dominika Nababan OSF (Keuskupan Sibolga) dan Romo Patrisius Piki (Keuskupan Sintang).

Forum syering kelompok. Topiknya memikirkan perkembangan Serikat-serikat KKI plus rencana perayaan 180 tahun SEKAMI dan rencana pertemuan dirdios per regio. (Angel Li)
Para pelaku dan penggiat kegiatan Karya Kepausan Indonesia (KKI) bertemu di Bali untuk syering pikirkan perkembangan Serikat-serikat KKI, rencana perayaan 180 tahun SEKAMI dan pertemuan dirdios per regio. (Angeli Li)

Pengalaman Keuskupan Agats-Asmat di Papua

Di awal presentasi, Sr. Stanisla FSGM memutar video kegiatan anak-anak SEKAMI. Lalu suster mengisahkan bahwa keterlibatan anak-anak masih kurang. Pengetahuan agama Katolik beberapa anak juga kurang. Antara lain belum bisa membuat tanda salib.

Pada awal menjadi Dirdios, suster harus sering-sering pergi ke paroki-paroki untuk bertemu. Harus  bertanya kepada para pembina SEKAMI mengenai bagaimana pembinaan dan juga tantangan yang mereka hadapi.

Suster harus bersabar, karena dengan situasi  alam di wilayah Pastoral Keuskupan Agats sangat ekstrim. Untuk bisa pergi mengunjungi paroki-paroki, ia harus menumpang pada rencana perjalanan rekan maupun imam yang akan pergi ke paroki tujuan.

Syering pengalaman riil disampaikan oleh Sr. Stanisla FSGM dari Keuskupan Agats di Papua dan Romo Herman Yoseph Babey dari Keuskupan Denpasar. (Angel Li)

Situasi tersebut tidak melemahkan semangatnya.

Pada tahun 2020 di tengah pandemi COVID-19, suster bersama timnya melatih anak-anak bernyanyi dan membuat video animasi gerak dan lagu.

Ada 68 lagu yang direkam (bukan lagu baru) diambil dari berbagai daerah. Tahun 2021 akhir, Sr. Stanisla FSGM juga membuat buku bersama pembina SEKAMI. Ada 100 lagu telah direkam, dimasukkan dalam buku, termasuk juga berbagai permainan.

Tujuan pembuatan buku sebagai bahan bagi para pembina SEKAMI berkegiatan dengan anak-anak.

Malam hari kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dalam kelompok dengan tema: “Inspirasi dan optimalisasi empat Serikat KKI”.

Kelompok dibagi berdasarkan regio. Hasil diskusi akan dipresentasikan besok malam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here