Mendengarkan Suara Bapa dalam Doaku

0
37 views
Ilustrasi - Berdoa di gereja. (Ist)

Kamis, 20 Juni 2024

Sir 48:1-14;
Mzm 97:1-2.3-4.5-6.7;
Mat 6:7-15.

SANTO Benediktus dalam peraturannya tentang doa menulis demikian, “Hendaknya kita tahu bahwa kita didengarkan bukan karena banyaknya kata, melainkan karena murninya hati dan karena air mata penyesalan.”

Dengan hati manusia berdoa, membawa segala kisah kehidupan yang sedang dijalaninya atau yang masih bergelora di dasar hatinya. Tidak jarang airmata meleleh di pipi mengungkapkan betapa sedihnya hati atas segala persoalan yang tidak kunjung menemukan jalan kehidupan.

“Hanya dalam doa aku bisa mencurahkan segala isi hatiku,” kata seorang sahabat.

“Kadang situasi yang tak bisa aku pahami hanya bisa aku ceritakan pada Tuhan. Banyak teman yang baik namun untuk sesuatu yang paling penting, mempercayakan pada Tuhan menjadi sebuah keharusan bagiku. Dalam hening, Tuhan menyapaku dengan cara yang begitu khas seperti bapak dan ibuku bicara dari hatinya menunjukkan langkah yang mesti saya jalani,” ujar sahabatku itu.

Doa yang baik adalah doa yang keluar dari hati, yang sungguh merindukan Tuhan. Jadi kalau hati kita jauh dari Allah, maka doa menjadi tidak berarti.

Dalam hati kita inilah, kita bertemu dengan Tuhan, di hati kita inilah Tuhan menyatakan perjanjian-Nya dengan kita. Maka doa adalah hubungan perjanjian antara Allah dengan kita, di dalam Kristus. Doa merupakan tindakan Allah dan tindakan kita, yang mempersatukan kita dengan Allah.

Allah tidak jauh dari hati kita, Allah tidak meninggalkan kita, meski kadang kita merasa jauh dari-Nya. Sebutan Bapa untuk menyapa Allah yang diajarkan Tuhan Yesus, memberikan kenyamanan hati kepada kita. Allah itu dekat dan bertanggung jawab atas kehidupan kita.

Doa menjadi hubungan kasih antara kita sebagai anak-anak Allah dengan Allah Bapa kita, dengan Putera-Nya Yesus Kristus dan dengan Roh Kudus.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, ”Lag ipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.

Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.”

Manusia cenderung memperlakukan doa sebagai sarana pemenuhan kebutuhan. Makin butuh, makin kencang berdoa. Ujungnya, manusia bukan percaya kepada Tuhan melainkan memercayai doa-tak soal dialamatkan kepada siapa.

Yang dimuliakan ialah kemanjuran kuasa doa, bukan kuasa Tuhan. Yang dipedulikan ialah keinginannya, bukan kehendak Tuhan. Dalam doa seperti itu tidak ada Tuhan, sebab Dia memang tak dikenal.

Bagaiamana dengan diriku?

Apakah aku berdoa dengan hati yang murni dan penuh kepasrahan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here