Menemukan Tempat Berkaca

0
128 views
Ilustrasi -- relasi antar sejenis by Greatist

REVA, malam itu, sedang dapat jatah jaga malam di Instalasi Gawat Darurat IGD). Berjaga di tempat ini, apalagi pada malam hari adalah saat silentium dengan berdoa sepanjang malam agar tidak terjadi suatu kegawatan.

Namun doa Reva malam itu ternyata gagal.

Kegemparan terjadi. Seorang gadis diusung dalam brankar dengan darah meleleh dan sebagian telah mengering masuk ke ruang IGD. Bajunya melekat pada dada dan perut bagian bawah ditutupi jaket kumal berlumuran darah juga, entah milik siapa, karena tampak tidak matching dengan sekitarnya.

Pasien sebelumnya seorang bapak yang tampak renta dengan lunglit, tinggal tulang dan kulit saking kurusnya, tetapi mampu memuntahkan darah yang tak terkira. Ia mengidap TBC yang sudah berobat lima tahunan, tetapi selama setahun terakhir tidak pernah berobat lagi karena merasa sembuh.

Ternyata penyakit yang tidur selama setahun itu bangun dan meruntuhkan ketahanan bapak yang berakhir plus, menghadap Sang Khalik. Baru bermapas lega setelah mengantar pasien ke ruang pemulasaraan jenazah, pantat belum sampai menyentuh kursi, terjadi kegemparan itu.

***

Melihat luka menganga yang kembali melelehkan darah segar di kedua payudara dan perut bawah dekat sekali dengan vagina itu membuat Reva pingsan. Tidak ada yang menyangka, perawat yang terbiasa menghadapi keadaan parah berdarah-darah dengan dhokoh dan tatag, malam ini ambruk.

Kedua teman jaganya pun tidak menyadari bahwa Reva sudah merosot di lantai dalam kondisi tidak sadar, namun tubuhnya bergetar tak terkendali.

Mereka baru tahu, setelah dokter jaga memasuki ruang perawatan, tanpa menegur dua perawat yang sedang menangani pasien malah melewatinya dan langsung berjongkok, memeluk, dan menggendong Reva untuk ditidurkan di salah satu tempat tidur yang ada di situ.

Hampir saja mereka berteriak. Dokter itu hanya melirik kedua perawat itu dan langsung menangani Reva agar sadar. Memang tidak banyak yang tahu masa lalu Reva, apalagi dua perawat belia itu. Tetapi Dokter Lanang sangat paham kondisi Reva.

***

Kekerasan seksual ada di mana-mana. Dalam berbagai bentuk, beraneka motif, serta bervariasi pelaku, baik jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, maupun latar belakang sosial-ekonomi-agama-budaya. Kasus di rumah sakit yang ditangani Reva malam itu adalah salah satu korban kekerasan seksual. Madona Putri.

Gadis belia yang baru saja menanggalkan seragam abu-abunya itu tergeletak lemah di tempat tidur ruang perawatan, setelah melewati ambang maut dengan jumlah jahitan tak terhitung di daerah privat seorang perempuan, payudara dan vaginanya. Ibunya sepanjang malam dan siang tak beranjak dari sisi puterinya. Bahkan tidak sempat mandi dan berganti baju.

Di ujung gaunnya terlihat noda-noda merah menghitam membercak, mata yang layu dan memerah tak membuatnya menyerah. Bahkan telepon yang berdering tiada henti pun tak sempat diangkatnya, mungkin tak didengarnya. Hanya sekitar satu jam ini telepon sudah tak berbunyi. Mungkin baterainya habis.

Reva hanya bisa mengamati ibu yang berusia kira-kira lima sepuluh tahun di atasnya. Beberapa helai uban yag menghiasi sisi kanan dan kiri kepalanya menampakkan kematangannya, walaupun belum tampak segaris pun keriput di wajahnya.

Tangisnya tak terdengar sama sekali, tetapi dari tatap matanya menampakkan kuyup kesediahan yang berusaha dipendamnya sendiri. Reva mendekatinya dan menyodorkan segelas teh melati hangat.

“Maaf Ibu, saya melihat sejak semalam ibu belum berbuat apa-apa, juga belum makan apa-apa. Terimalah teh ini.”

Dengan kaget dan tergagap, ibu itu menerima teh dari tangan Reva, mendekatkan ke mulutnya. Sambil memejamkan matanya ia menghirup pelan-pelan teh itu dan menghabiskannya dalam waktu hampir tiga menit. Seperti ritual pemujaan kepada dewa kehidupan. Wajahnya membiratkan warna merona. Ia membuka matanya dan menyinarkan kehidupan.

“Terima kasih Suster,” katanya masih dengan kedua tangan menangkup gelas. Hangatnya mampu menghangatkan tangan dan hatinya.

“Sama-sama,” jawab Reva sambil meminta gelasnya kembali.

Cukup lama dan pelan ibu itu mengulurkan gelas kepada Reva. Kelihatan ada keengganan melepaskan sesuatu yang mampu menjadi pegangan bagi guncangan yang baru saja dialaminya.

“Maaf Ibu, adakah yang bisa saya bantu?,” tanya Reva dengan pelan dan hati-hati.

Ia takut ibu yang tampak sangat tergoncang melihat kondisi puterinya itu jatuh dan repih.

Tatapan mata kosong penuh penyesalan itu sangat menyedihkan. Ada iri menoreh dirasa Reva. Bertahun lalu, saat terbujur kaku penuh luka di rumah sakit, tak ada satu pun anggota keluarga yang menunggui, apalagi seorang ibu yang membatu penuh duka memandangnya.

Kisah kelam itu membayang, tetapi Reva tak mau sebagai Madona Putri. Ia ingin seperti Suster Anas yang menolongnya.

Semoga Madona dan ibunya tidak berpikir nekat seperti yang dilakukannya saat itu. Ia meraba pergelangan tangannya yang masih tersisa segaris tipis.

“Saya titip puteri saya 50 menit saja suster, saya mau pulang mengambil ganti dan perlengkapan lainnya. Tolong jangan izinkan siapa pun menemuinya,” pesan wanti-wanti ibu yang amat berat hati meninggalkan puterinya yang belum penuh kesadarannya dan masih tertidur dengan berbagai alat menghiasi hidung dan tangannya.

Amanah itu dipegang teguh oleh Reva.

Duduk di dekat gadis yang terlelap itu mengoyak kenangan getir masa lalu Reva. Dia berdoa sungguh-sungguh, agar gadis itu selamat dan mampu membebat luka fisik dan psikisnya berkat dukungannya, teristimewa rengkuhan ibunya.

***

Belum ada sepuluh menit Reva menunggui gadis itu dengan tepekur, terdengar pintu digedor dengan keras. Untung tadi sudah dikuncinya. Tampak seorang gadis tomboi berjaket kulit dengan tatto naga mengintip dari dada di balik jaket yang terbuka.

Wajahnya beringas, mata menyala, dan tangannya bersembunyi di balik jaket, membuat Reva pun keder. Bahaya mengintip dan maut pun kembali akan menghampiri Madona. Reva merasakan getar keberingasan dan nafsu membunuh melingkupinya.

Ia pernah melihat wajah yang sama dari seorang pria yang ingin melenyapkannya. Ia bertahan di dekat pintu tanpa membukanya. Gedoran semakin keras, tetapi Reva juga semakin mengeraskan hati untuk bertahan dalam kamar. Hal itu berlangsung hampir lima belas menit.

Untung datang tiga orang polisi, dua di antaranya polwan. Setelah perempuan bertatto itu digelandang polisi dengan tangan terborgol, Reva bernapas lega dan membukakan pintu untuk kedua polwan itu.

Bu Amba dan Bu Resti mendekat ke tempat tidur dengan Madona terbujur dalam tidur. Ada tatapan prihatin dari kedua ibu itu melihat kondisi Madona.

Bu Amba menyalami Reva, “Selamat sore suster, di mana ibu anak ini?,” tanyanya dengan tegas namun ramah.

”Sedang pulang mengambil pakaian ganti dan perlengkapan yang dibutuhkan, sebentar lagi pasti datang,” jawab Reva.

Belum lama Reva mengatupkan mulut, pintu kamar terkuak dan ibu Madona memasuki ruang dengan tergesa-gesa dengan baju lusuh dan kotor yang dipakainya tadi, tetapi tangan kanan dan kirinya penuh bawaan.

”Ada apa ini, Bu?,” tanyanya kebingungan karena ada polisi di kamar puterinya.

”Maaf, Ibu bernama Martini, ibunya Madona Putri,” tanya Bu Polwan.

”Benar, ada apa Bu?,” jawabnya cepat-cepat.

“Maaf, kami hanya akan memberitahukan bahwa Madona sekarang sudah aman, penganiayanya barusan kami tangkap di depan ruangan ini tadi,” jelas Bu Amba.

“Maksudnya?,” tanya Bu Martini penuh kebingungan.   

“Perlu Ibu ketahui, puteri Ibu terlibat percintaan yang salah,” jelas Bu Amba, belum selesai penjelasannya, Bu Martini menyela dengan penuh kepanikan.

“Maksud Bu polisi apa, apanya yang salah,” tanya bu Martini terbata-bata.

“Begini Ibu, semalam Madona pulang dari Malang bersama Kenanga. Mereka berpacaran, karena cemburu Madona didekati cowok, Kenanga menganiaya Madona dalam perjalanan dalam travel dalam kondisi yang semalam ibu lihat,” jelas Bu Amba.

”Ya ampun, memang sebulan ini  Madona minta dijemput dalam kondisi ketakutan, sehingga Oom-nya kemarin menjemputnya, ternyata seperti ini kejadiannya,” Bu Martini terduduk di kursi sambil menutup muka dengan kedua tangannya.

”Bukan hanya itu Ibu, Kenanga juga telah menganiaya teman Madona dan melukai cowok yang kemarin sore menjemput Madona,” tambah bu polisi.

”Loh jadi yang melukai Oom-nya Madona itu cewek yang sama dengan yang menganiaya Madona? Ya Allah, mengapa ada anak sebrutal itu?,” keluh Bu Martini.

”Percintaan abnormal memang menakutkan, posesifnya sangat tinggi. Ia egois dan menguasai pasangannya berlebih, tidak boleh didekati lawan jenis, juga berteman dengan yang sejenis. Ia ingin eksklusif memiliki pasangannya, bahan menguntitnya menit demi menit, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Penyakit ini perlu disembuhkan dan pendampingan. Untung Unit PPA Polresta memiliki relawan psikolog yang berpengalaman menangani kasus penyimpangan seperti ini. Setelah Madona sembuh, silakan datang ke Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan (P2TP2A) untuk pendampingan psikologis. Pelaku akan kami proses dan kami kirim ke Malang,” papar Bu Resti yang sejak tadi hanya diam saja.

Mereka ada anggota unit PPA Polresta. 

Reva mendekat dan memeluk Bu Martini menenangkannya dari guncangan yang tak ringan. Puterinya menjadi korban kecemburuan yang sangat brutal.

Tanpa tangis Bu Martini ndleming.

Baru tiga bulan kau kuantar ke Malang, mengapa nasibmu begitu malang Ndhuk. Mengapa ibu mengizinkan kamu begitu jauh dari ibu dan terlepas dari pantauan? Mengapa setiap WA ibu selalu kau jawab ‘Aku sudah besar, jangan direcoki dengan pertanyaan yang itu-itu saja. Aku bisa njaga diri Bu. Doakan saja. Aku suka setiap pagi dengan sapaan ibu ’Ati-ati. Tuhan melindungi’.

***

Setelah misa pagi, Reva bersama Suster Fia mau pergi ke pasar, berbelanja kebutuhan dapur biara. Reva meminta sopir untuk membelok sebentar ke Rumah Maria untuk menyapa Bunda Maria lewat doa.

Begitu menggeser pintu, dilihatnya seorang ibu yang memeluk puterinya duduk bersimpuh di hadapan patung Bunda Maria.

Tanpa memperhatikan, Reva berlutut dan berdoa. Bersyukur atas perlindungan Bunda Maria atas hidupnya yang semakin damai.

Begitu keluar Ruman Bunda, Madona memeluk Reva dengan terisak, ”Terima kasih Suster telah menolong saya, sehingga saya selamat. Saya berjanji akan nurut ibu dan pindah kuliah serta mengubur kisah kelam yang hampir merenggut nyawa saya.”

Reva hanya bisa mengelus kepala Madona dan memberikan berkat tanda salib di keningnya serta menyodorkan rosario yang selalu dibawanya sebagai pegangan hidupnya.

”Ini Rosario, bawalah selalu, Bunda Maria akan selalu menyertai setiap lagkah hidupmu. Jadilah Madonna secitra dengan Bunda Maria.“

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here