Mengajak Murid Berbagi Kasih kepada Pemulung: Mereka Bahagia, Saya pun Ikut Bahagia

0
193 views
Ilustrasi - Menolong membantu sesama. (Ist)

MESKI terkesan sedikit lelah, tapi raut wajah anak-anak itu tidak bisa berdusta bahwa mereka senang; mereka bahagia.

Oleh karena itu, izinkan saya berbagi kebahagiaan dari anak-anak itu. Semoga pembaca bisa berkenan dan ikut merasakan.

Muridku di pelajaran agama Katolik

Pengalaman pagi ini mungkin sangat sederhana, tapi saya yakin akan membekas di memori mereka: Etta, Daniel, dan Dennis.

Ketiga anak itu adalah murid-murid saya, atau lebih pas juga disebut “teman belajar” saya dalam pendidikan agama Katolik di SDN Sokowaten Baru, Banguntapan Bantul, DI Yogyakarta.

Saya anggap “teman belajar” karena mereka juga bisa menjadi sumber pengalaman iman bagi saya.

Sekitar dua pekan lalu, dalam suatu momen pelajaran agama Katolik di sekolah, saya ingat respons cepat mereka: “Oke… oke… Pak.”

Sebuah jawaban cepat dan kompak atas pertanyaan saya: “Bagaimana kalau besok-besok kita jalan-jalan di luar sekolah sambil memberi bantuan ke orang lain yang susah?”

Ya atau tidak

Waktu mendengar jawaban mereka, saya tidak begitu serius menanggapi lebih lanjut. Ide dan pembicaraan itu seakan lenyap, sejalan dengan berakhirnya jam pelajaran agama Katolik.

Lagi pula, dalam hati saya menduga bahwa jangan-jangan mereka begitu bersemangat karena ada kata-kata “jalan-jalan di luar sekolah”.

Sebuah dugaan dan asumsi saya yang belakangan terbukti keliru.

Beberapa hari setelahnya, saya yang nyaris lupa tentang pembicaraan itu akhirnya justru diingatkan oleh anak-anak yang selalu bertanya saat berpapasan di sekolah.

Mereka menanyakan kapan mau acaranya, sambil ada yang malah sudah mereka-reka berapa uang jajan yang akan dia sisihkan untuk disumbangkan.

Mengajak dan memberi motivasi pada murid-murid untuk senang berbagi kasih dengan sesama. (Bala Seda)

Berjumpa pemulung

Akhirnya, tiba juga pada hari yang direncanakan untuk beraksi amal. Khusus pagi ini tidak ada pelajaran agama Katolik di kelas.

Antusiasme anak-anak luar biasa. Sejak pagi mereka sudah menunggu saya di depan ruang guru. Mereka mengeluarkan uang jajannya sambil mulai menyiapkan berapa yang akan mereka sumbangkan.

Tentu bukan perkara besar nominalnya, tapi kerelaan dan niat mereka itu yang patut diacungi jempol.

Setelah saya melapor dan meminta izin kepala sekolah, kami berempat mulai beranjak meninggalkan area sekolah. Keluar menuju jalan untuk mencari kesempatan emas tersebut.

Ide spontan dengan respons serius

Kegiatan ini sejak awal memang dilandasi spontanitas cetusan dan pancingan pertanyaan saya kepada anak-anak.

Maka itu, rute perjalanan yang akan kami susuri pun belum saya rencanakan secara pasti. Bahkan, di depan pagar sekolah saya persilakan anak-anak yang menentukan, mau memilih belok ke arah mana terlebih dahulu.

Sebelum berangkat, saya dalam hati sempat bertanya-tanya, “Apa mungkin di jalan kami bisa bertemu orang-orang kecil dan susah?”

Harapan itu mungkin terasa ragu terwujud, mengingat sehari-hari di sekitar sekolahan jarang kelihatan saudara-saudari yang berkesusahan tersebut.

Namun, saya yakin dan percaya atas rancangan Tuhan agar memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bisa mewujudkan niat baik mereka.

Sambil berjalan kaki kami berempat saling berbagi cerita dan bercanda. Hampir 15 menit berlalu kami tak bersua dengan seorang pun yang kami cari.

Anak-anak mulai lelah – sesuatu yang wajar, karena bukan hal mudah juga untuk anak seumuran kelas 2 SD berjalan kaki sejauh ini.

Tak lama berselang, sekitar 50 meter di depan kami, dari arah sebuah gang, saya melihat sesosok pemulung yang sedang berjalan.

Menolong sesama by cc crystow.

Semangat berbagi

Segera saya sampaikan ke anak-anak agar bersiap. Kami menghampiri sang pemulung.

Setelah saya sampaikan maksud kami ke pemulung tersebut, lantas masing-masing anak pun segera menyerahkan uang yang telah mereka bawa.

Selepas perjumpaan tersebut, kami melanjutkan perjalanan kembali ke sekolah.

Puji Tuhan. Niat kami akhirnya bisa terwujud. Perjalanan sejauh hampir 1 km memang cukup melelahkan bagi anak-anak.

Namun, kebahagiaan jelas terpancar dari wajah mereka.

Aksi berbagi kasih dari anak-anak tentu bukan hanya memberi asa dan kebahagiaan bagi sang pemulung. Tetapi jelas juga, hal itu juga telah mencetuskan kebahagiaan di hati saya pagi hari ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here