Mengapa Kita Berpuasa?

0
120 views
Ilustrasi: Berdoa dan berpuasa by Philippine Catholic Mission

HAMPIR semua jalan spiritual mengajarkan tentang puasa. Walau semua mengajarkan hal itu, ada pelbagai motivasi dan tujuan puasa yang berbeda-beda. Cara dan waktunya pun tidak sama.

Di kalangan kejawèn dikenal budaya berpuasa “mutih“. Orang hanya makan nasi; tanpa garam dan rasa lain. Juga berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Ini meningkatkan daya spiritual pribadi. Konon kabarnya, RI-1 juga mempraktikkan puasa itu.

Orang Yahudi rupanya juga melakukan puasa Senin dan Kamis. “Kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi mengapa murid-murid-Mu tidak?” (Mat 9: 14).

Konteks pertanyaan itu adalah berpuasanya orang Yahudi.

Mereka berpuasa sebagai tanda menyesali dosa. Pertobatan. Tujuannya memperoleh pengampunan dari Tuhan dan diselamatkan. Itu baik dan penting.

Mengapa Yesus menjawab.

“Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?” (Mat 9: 15). Karena Yesus adalah Sang Mempelai dan kehadiran-Nya menjadi tanda hadirnya keselamatan. Jadi, orang tidak perlu berpuasa waktu bersama-Nya.

Namun, tatkala Sang Mempelai diambil, haruslah mereka berpuasa (Mat 9: 15). Ketika Tuhan Yesus diambil lewat wafat-Nya di kayu salib orang meratap dan berdukacita.

Puasa orang Yahudi mengungkapkan dukacita dan pertobatan atas dosa-dosa. Itu upaya asketis yang penting. Sedang Yesus menyebut perlunya puasa (berdukacita) karena kehilangan Sang Juru Selamat.

Kini, kita masih menjumpai orang berpuasa. Walau tampak luarnya sama, yang di baliknya (motivasi dan tujuannya) berbeda. Karena itu, penting juga bertanya mengapa kita berpuasa?

Sabtu, 2 Juli 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here