Mengapa Rindu Desa?

0
928 views

[media-credit name=”http://pujangga78.blogspot.com” align=”alignright” width=”300″][/media-credit]

DI SANA ada hutan yang tidak lagi belantara.
Di dalamnya ada mata air kecil tersembunyi di balik lebatnya belukar.
Pun di sana tak ada lagi kicau aneka burung selain desau angin.
Pun cuma suara kelepak sayap melintas di atas kanopi pepohonan tak lagi terdengar.
Tapi hutan muda  itu masih membiarkan pepohonan menyulang seakan hendak menerobos cakrawala.
Tapi di sana seperti surga!

Tapi orang-orang di sana tak akan pernah bisa mengerti mengapa putra desa harus kembali.
Mereka acuh dengan rasa rindu akan sejuknya hawa hutan atau merdunya gemericik air yang menetes dari ujung buluh.
Mereka sinis melihat putra desa yang kembali hanya karena mengaku rindu.

Tempatmu di kota, berseragam dan bersepatu mengkilap, dan naik turun kantor bertingkat, kata mereka.
Dan jika tetap nekad kembali pulang, pangkat kegagalan disematkan di pundakmu disertai cibiran dan cemoohan
Mereka mengira hidupmu berkecukupan di kota di tengah gedung-gedung berlantai pualam.
Kau simbol kebahagiaan desa, kata mereka, dan kau harus tetap hidup di kota.
Orang-orang tak pernah akan tahu kau memikul beban dibalik seragam rapi dan sepatu mengkilap.
Tawa cela pasti menyertai derap langkah di perjalanan pulang.

Dan masihkah kau memelihara rindu itu?

Severianus Endi, wartawan sebuah harian di Pontianak, Kalimantan Barat dan pengelola blog pribadi www.kilodua.com

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here