Mengasihi Musuh

0
139 views
Ilustrasi: Mengasihi dengan cara mengampuni. (Ist)


1Kor 8:1b-7; 11-13 dan Luk 6:27-38

SEJAK kecil di rumah, saya belajar dari kedua orangtua saya keteladanan mengasihi orang lain dan “musuh”, orang yang membenci dan memusuhi bapak dan mama.

Di depan mata kami anak-anak, kedua orangtua bersahaja ini dimarahi, dihina dan dimaki. Bapak dan mama mengajarkan kami dengan teladan untuk tetap mengasihi mereka.

Sulit memang. Tapi Bapak dan Mama melakukannya dengan tulus hati.

Hari raya Paskah dan Natal adalah momenyang luar biasa, kedua orangtua ini ajak kami anak-anak mendatangi rumah keluarga lain yang jelas-jelas telah menyakiti mereka.

Bahkan kami disuruh membawa minuman kopi dan kue untuk keluarga ini. Ketika ada urusan di keluarga itu, bapak dan mama pasti selalu lebih dulu hadir. Tak ada rasa dendam tersimpan di hati mereka.

Masih membekas dalam sanubari, ketika menjelang acara tahbisan saya. Orangtua bersahaja ini, mendatangi saudara-saudaranya yang memusuhi mereka berdua, meminta maaf kalau ada salah, dan mengundang mereka untuk hadir dalam acara syukuran tahbisan saya.

Dan ketika saya ke kampung, saya secara pribadi juga mendatangi Oom dan tante tersebut. Ketika mereka tidak datang, kami merasa tak ada soal, karena hati sudah ikhlas memaafkan dan mengampuni.

Pelajaran melalui teladan hidup dari kedua orangtua ini menjadi bekal baik dalam mengarungi hidup dan panggilan saya ini.

Saya juga belajar dari saudara Mama saya yang sungguh bersahaja itu.

Sebagai seorang murid Yesus, saya mesti mentaati apa yang disabdakan-Nya: mengasihi musuh, berbuat baik kepada orang yang membenci saya dan berdoa bagi mereka yang mencaci saya.

Sulit memang. Tapi mesti saya lakukan, lebih-lebih karena saya adalah seorang imam, yang melayani Sakramen Tobat.

Kita semua murid Yesus mesti siap mengasihi dan bermurah hati kepada musuh kita. Semoga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here