Mengenang Romo J. Adi Wardaya SJ: Nasi Bungkus Rasa Reformasi (3)

0
4,123 views

JAKARTA sangat membara tanggal 14-15 Mei 1988. Itulah saat pertama kali saya mengenal dan bertemu muka dengan almarhum Romo J. Adi Wardaya SJ yang kala itu menjadi pastur mahasiswa dan pendamping reksa rohani kaum muda di Jakarta.

Apa yang dilakukan almarhum  Romo Adi saat itu memang agak “di luar kebiasaan” seorang imam di Indonesia.  Ketika Jakarta hangat didera oleh gelombang protes people’s power oleh ribuan mahasiswa, sebagai pastur mahasiswa dan pendamping reksa pastoral kaum muda di Ibukota Romo Adi memilih “ikut bergerak”.

Menyediakan logistik

Bukan ikut demo, tentu saja. Karena sebagai imam, main politik praktis dianggap “tabu” baik oleh Gereja maupun Ordo Serikat Yesus (Yesuit).  Yang bisa beliau lakukan hanya sebuah ajakan kepada komunitas-komunitas muda di Jakarta untuk berbagi kasih.

Konkretnya, Romo Adi mengajak sejumlah kelompok mahasiswa menjadi perpanjangan  kasih  dengan menyediakan diri sebagai penyalur ransum berupa nasi bungkus.

Jadilah, waktu itu Romo Adi sebagai depot penyakur nasi bungkus reformasi.

Sebagai yesuit waktu itu, saya diajak almarhum untuk menjalin kontak dengan beberapa unit paroki di Jakarta untuk menyediakan ransum nasi bungkus reformasi ini. Seingat saya, dengan memakai Panther, kami berkeliling Jakarta mencari sumber-sumber  depot logistik dan kemudian menyalurkannya kepada para demonstran anti Orde Baru.

Oase kegembiraan

Yang mengesankan saya waktu itu justru cara Romo Adi menyikapi suasana riuh-rendah gaung reformasi dan aksi demo dimana-mana dengan suasana hati gembira. Saya ingat betul bagaimana almarhum Romo Adi Wardaya mendapatkan hiburan rohani ketika ikut melakukan “citizen’s journalism” dengan mometret jarak dekat aksi-aksi mahasiswa di Gedung MPR/DPR. Atau sesekali memotret aksi para preman swasta yang juga ikut berkeliaran di kawasan itu.

Mengagumkan sekaligus menggembirakan menyaksikan dari dekat aksi nyata Romo Adi Wardaya SJ saat itu. Ia terlibat dalam sebuah gerakan sosial bersama kaum muda Indonesia untuk menggusur sebuah rezim pemerintahan.

Nah, bolehlah saya menyapa beliau sebagai Romo Tukang Angkut Nasi Bungkus Rasa Reformasi.

Selamat jalan Romo menghadap Sang Pencipta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here