Mengenang Seminari: “Verba Docent, sed Exempla Trahunt” (1)

0
285 views
Wajah depan Seminari Mertoyudan tahun-tahun dulu. Dengan ciri khasnya kanan-kiri jalan utama masuk seminari berdiri gagah aneka pepohonan pakis raja, namun kini sudah ditebang habis dan kemudian diganti pohon jenis lain. (Ist)

“… Hai putra seminari selalu sehati…

dengan bangga berbakti berjiwa mengabdi

Dalam suka dan duka

tetap tabah setia

karena tujuan kita:

imamat mulia.”

(Penggalan lagu mars Seminari Mertoyudan. Magelang)

I. Dentang gagah nada lagu mars masih mengiang hidup tiap kali perayaan ulang tahun seminari. Dalam temu-temu seni malam drama atau musik ditutup menjelang tengah malam.

Namun kami tak pernah lebih dari tengah malam tidurnya, karena usai perayaan di aula kami selama kurun waktu 1966-1972 alias generasi tahun 1970-an harus langsung tidur dengan disiplin pasti. Dan mengiangkan bait-bait lagu itu di lamunan masing-masing menjelang tidur malam.

Derit papan kayu tanpa kasur beralas tikar di sana-sini terus berbunyi seakan melanjutkan semangat mencapai tujuan belajar di seminari dari bait-bait nyanyian: imamat mulia.

Memang “seminari” ini adalah berasal dari kata bahasa Latin “seminarium” yang berarti ranah pembibitan calon-calon imam tingkat sekolah menengah.

Di sana pendidikan watak, pemekaran bakat dan diusahakannya ruang untuk memekarkan talenta kognitif, kemampuan rasa estetis mengenai hidup; kepekaan nurani dalam mengenali imamat sebagai panggilan buat kerja bersama Sang Pemilik Hidup untuk peradaban lalu dibatinkan, dihayati sebagai religiositas atau keimanan.

Tetapi, hidup bersama itu berlangsung dengan ragam asal rekan, muasal watak, aneka suku dan ragam sarang-sarang kultural keluarga di mana telur-telur menetas dan belajar terbang. Sebagai burung ada yang garuda; ada yang emprit; banyak yang burung gereja ke sana kemari.

Terdapat pula merak; kutilang bahkan manyar atau prenjak yang selalu berkicau bersama kepodang yang lebih sering menyantap pepaya dan buah pada saat penjaga sedang abai atau malam sudah semakin sepi.

Pengantar ini secara sadar ditulis bernuansa romantic. Sebab menengok sebuah periode pembentukan diri sebagian akan merupakan nostalgia.

Sebagian lagi merupakan kilas balik perjalanan yang dalam istilah Jacques Derrida disebut “jejak-jejak” atau “traces”: jejak-jejak langkah.

II.   Jejak langkah

Pasti di antara pembaca sudah kerap melihat lukisan bertulis kata-kata indah bijak berjudul “jejak langkah di pantai”.

Isinya: sebuah pertanyaan iman manakala janji penyertaan Tuhan (baca: Imanuel-Nya) yang dinyatakan, ketika memanggil awal Dia menjanjikan akan menyertai kita sampai akhir zaman.

Ditambah lagi awal dari Injil (Kabar Gembira) dibuka dengan sabda “jangan takut” dan omega epilog akhir Injil ditutup pula dengan “jangan takut” Aku akan menyertai kamu dan mendahului kamu ke Galilea.

Sebuah janji penyertaan rahmat-Nya untuk ujung-ujung paradoks krisis-krisis tantangan iman.

Tapi apa yang terjadi?

Jejak langkah di pantai, ketika ditengok ke belakang banyak beruntun empat telapak kaki, namun kerap di sana dan di sini hanya hanya ada dua telapak kaki?

Lalu, di mana dua lainnya?

Jawab Tuhan: Anakku, kau lupa ketika kau tak bisa jalan, dua telapak kaki itu adalah kaki-kaki-Ku yang sedang memapah dan menggendongmu karena kau tak mampu berjalan.

Kepekaan bahwa Tuhan tetap hadir di simpang-simpang jalan perjalanan panggilan adalah kepekaan batin yang ditanam, disemaikan lewat spiritualitas yang dihidupi oleh guru-guru kami.

Mereka adalah para pendidik kami, romo dan suster di seminari waktu itu.

Ternyata bukan karena ke-rektor-an, bukan pula karena jabatan yang sedang dipegamg pamong yang menentukan saluran air penyiram rahmat.

Tetapi kesaksian-kesaksian, contoh-contoh sahaja penghayatan yang memancarkan sebuah lilin iman, harapan dan kasih yang dihayati lewat masakan, suster dan pegawai dapur untuk makan tiap hari kita.

Lewat renung kotbah, puncak penghayatan tafsir Kitab Suci, lewat coretan tebal merah koreksian bahasa Indonesia agar merangkai kata dan mengarang dengan logis dan berbahasa ekspresif benar dan indah.

Verba docent, exempla trahunt

Pepatah Latin untuk ini merangkukan dengan bagus yaitu “Verba Docent, Exempla Trahunt”.

Artinya, kata-kata itu mengajar, sedang keteladanan atau contoh penghayatan itu meyakinkan.

Menarik untuk menghidup nafas dalam-dalam, kala merenungi teman-teman para pamong atau guru-guru saat itu ternyata semua ada waktunya untuk berbuah.

Demikian itu kata Kitab Sang Pengkhotbah. Apalagi semua dibuat indah pada waktunya!

Betapa tidak.

Ada masa ketika teman yang jagoan sepakbola dan jadi bintang lapangan waktu itu terus bersinar. Memang itulah masanya, sementara kami di sepakbola ikut team IFO (in finem omnia yang artinya “semua usaha dipusatkan ke satu tujuan perjuangan yaitu membuat gol).

Tetapi selamanya, tim IFO pelatih alias tim kedua yang menemani (baca: sparring team) tim no. 1 untuk latihan.

Ada pula masa di mana pamong atau kita dari sudut refleksi sekarang harus menyadari betul bahwa bakat, watak, pribadi unik orang itu misteri pembentukannya sebagian jalan rahmat Tuhan.

Kita hanyalah menyediakan ruang-ruang agar pemekaran mereka untuk kreatif, eksploratif, mendalam nurani, matang watak terjadi dalam proses.

Kami ingat sekali teman yang kutu buku, selalu baca dan nulis di rubrik media karang-mengarang “Paulus” ketika dipaksa-paksa kerja aktif nukang di unit ekstrakurikuler pertukangann bernama Bengkel “Don Bosco”.

Kadang ia disindir sebagai penghuni abadi bangku untuk nulis dan baca. Tapi ia dan beberapa teman lain cukup berwatak dan bandel untuk terus mengembangkan bakat nulisnya.

Ilustrasi – Kapel Besar Seminari Menengah Mertoyudan. (Ist)

Kini, mereka-mereka ini banyak menempati posisi wapemred, pemred, posisi-posisi strategis di harian-harian terkemuka atau majalah penting negeri ini.

Juga berlaku, yang suka terus musik atau estetika dan dicibiri sebagai seniman, benar-benar ada waktunya dibuat oleh-Nya indah dengan profesi senimannya zaman ini.

  • Siapa yang sudah bisa membayangkan visi jauh ke depan ini?
  • Siapa yang memikirkan profil imam sekaligus altar dan pasar sama-sama diberi keteladanan makna?
  • Siapa yang mampu menaruh visi ke depan citra imamat untuk konteks Indonesia ke depan 25 tahun lagi dengan citra imam budayawan seperti almarhum Romo YB Mangunwijaya?
  • Siapa dan visi jauh ke depan mana yang mampu memberi perspektif tantangan citra imam yang dihadapkan pada: pertama, guru tradisional imam altar yang serba bisa, dipandang suci karena tahbisannya kini berada bersama dengan produsen citra-citra lain yang deras dari MTV, revolusi informasi dan elektronika, di mana komoditi konsumtif sebuah HP atau laptop yang mengusung nilai efisiensi, komunikasi sama-sama berada dan bersaing dengan produsen makna di kotbah-kotbah Minggu ibadah atau misa yang “kalah” eksotismenya dengan dunia citra virtual bintang-bintang selebriti?
  • Apakah jalan keluarnya lalu disiapkan imamat yang bintang sekaligus?

Kami kira tidak.

Mana pula persoalan ke depan dengan hitung-hitungan jurang kemiskinan yang makin besar, pengangguran setiap tahun 30-40 juta orang, kondisi tidak terdidik semakin menganga dibanding kelas menengah kota dan super kota yang bisa belajar lintas dunia.

Sementara pada saat yang sama, saudara-saudari kita di ujung-ujung Timur -di Papua, di tempat-tempat jauh dari Jakarta dan jauh dari Jawa- untuk kebutuhan gizi dan keperluan hidup sehari-hari masih didera kelaparan?

Ilustrasi – Ngobrol sambil minum kopi dan main HP. (Ist)

Imam masih tahap pubertas

Keteladanan kepedulian saksi keadilan dan solidaritas bersama yang menjadi korban kejahatan kemanusiaan dan penggusuran-penggusuran menggugat gaya hidup imam-imamnya yang tidak akan “credible” lagi, bilamana masih dalam tahap pubertas.

Dengan aksesori mobil, punya HP seri terkini, status gengsi normatif proklamator kemiskinan, solidaritas Injili, namun yang melaksanakan adalah awam atau pekerja keryawannya.

Tidak bisa lagi promosi adil, bila dil ingkar paling dekat karyawannya yang sudah bekerja 32 tahun bergaji tidak lebih dari Rp 1 juta plus  300 ribu, sementara di depan mata karyawan-karyawan ini pembangunan fisik dengan alasan sarana kerasulan jalan terus yang menujuk ada uang.

Juga ada dana untuk itu, tetapi bukan untuk para orang kecil ini?

Apalagi dengan mudah asal pemberian para donatur atas nama Kerajaan Allah, sehingga semua fasilitas dari mobil dan yang lain bisa diterima dengan mudahnya dan dipakai.

Lantaran diberi oleh orang-orang baik.

Bagaimana bisa menjelaskan jawabannya pada seminaris atau generasi muda yang bergulat dan rela sepenuh cita “live in” dan peduli derita sampai ke ujung Meulaboh, Aceh, Nias yang terkena bencana tsunami maha dahsyat?

Sementara, “verba docent” dilepas dari aksi keteladanan?

Belum lagi studi mendalam budaya konsumsi, budaya majemuk Indonesia dengan sistem nilai lokal yang ekologis ditradisikan dengan hati dan kelisanan dibenturkan dalam koyakan krisis-krisis acuan nilai.

Karena studi mendalam arus deras budaya konsumsi yang merangsang “desire” dan nafsu beli dan beli terus”, meski tak dibutuhkan benar-benar mengandaikan refleksi ilmiah, kultural, politik struktural mengenai hubungan kapitalisme, kekuasaan politik dan jaring global penguasaan “naluri purba” dan penguasaan jagat kritis pikiran manusia.

Terutama penguasaan dunia makna dan dunia arti lewat monopoli-monopoli tafsiran, lewat proses pengetahuan yang disamakan dengan penguasaan. Sementara, refleksi-refleksi teologis masih terus mengiangkan gambaran Gereja sebagai gembala atau Gereja eksklusif yang masuk mendarat membuat benteng dan landasannya sendiri seperti landasan helipad, tanpa belajar rendah hati mengenali saudara-saudari majemuk agama, suku, di sekitarnya? (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here