Menghadapi Coronavirus: Berhentilah Mengeluh, tapi Berbuatlah Sesuatu

0
180 views
Semangat berbagi. (Ist)

KEMARIN saya mendapat pesan WA dari salah satu teman saya di Jakarta. Ia seorang pekerja upah harian. Upahnya pas-pasan untuk bayar kos dan makan sehari-hari, biasanya.

Ia bilang dia kelaparan. Sudah tidak punya uang untuk beli makanan. Sudah sepekan lamanya,  dia dirumahkan karena efek coronavirus.

Membaca pesan WA teman saya ini, saya tersentak, efek kejut. Dan baru sadar bahwa keadaan tidak seaman yang saya bayangkan. Imbas dari social distancing saja sudah sangat mempengaruhi perut sekian banyak orang, apalagi lockdown.

Pemerintah tampaknya sudah memprediksi hal ini sehingga berniat untuk memberikan bantuan tunai langsung. Namun, lepas dari rumitnya mekanisme pembagian bantuan itu, sanggupkah pemerintah membantu semuanya? Bisakah bantuan itu sampai tepat waktu?

Dan cukupkah bantuan itu untuk sekedar mengusir lapar teman saya sampai waktu ketika dia bisa bekerja lagi?

Lebih realistis, saya katakan bahwa pemerintah sendiri tidak akan mampu. Bukan karena pemerintah kita tidak baik, tetapi masalah ini terlalu besar untuk ditangani dan diselesaikan oleh pemerintah saja.

Sebelum krisis ini saja, tidak semua orang miskin yang bisa ditolong oleh pemerintah. Berapa banyak gelandangan yang dibiarkan saja untuk mengais makanan sisa?

Berapa banyak orang sakit yang ditolak untuk masuk RS karena mereka tidak punya uang dan BPJS? Berapa anak yang masih kekurangan gizi?

Sekarang bukan saatnya untuk menyalahkan pemerintah. Bukan saatnya pula untuk percaya bahwa pemerintah akan mampu menyelesaikan semuanya.

Saya tahu banyak dari kita yang tidak terlalu merasakan kesulitan. Paling cuma bosan #dirumahaja. Ada yang ngomel mengapa Netflix diblokir telkom.

  • Ada yang mengeluh tak  bisa makan steak holycow selama isolasi.
  • Ada yang jengkel karena pengalaman nonton di televisi tidak senyaman di bioskop.
  • Silahkan mengeluh, tapi jangan lupakan teman saya dan yang senasib dengannya yang saat ini kelaparan.
  • Berilah makanan kepada mereka, seperti kata Tuhan: “Di saat Aku lapar, engkau memberi Aku makan. Apa yang kamu lakukan kepada salah seorang dari mereka yang paling kecil ini, kamu melakukannya juga kepada-Ku.”

Apa yang bisa dilakukan?

1. Makan dan minum secukupnya. Mulai prihatin hari ini juga. Karena setiap sendok nasi lebih yang engkau santap itu bisa mengurangi jatah orang lain. Puasalah makan, sehari sekali, kalau perlu. Biasa makan tiga kali, sekarang dua kali. Atau metode lain.

2. Mulailah berbagi. Kerja samalah dengan pemerintah atau setidaknya perangkat RT atau desa untuk mendata penduduk yang lapar. Bukankah kita harus di rumah aja? Ya, kalian yang masih bisa belanja online untuk kebutuhan kalian sendiri (mungkin ada yang beli mainan?), kalian bisa juga belanja online dan pesan online untuk orang lain. Fasilitas ini ke depan juga mungkin akan sulit ditemukan, ketika jasa restoran dan ekspedisi juga ditutup. Tapi, ya lakukan semampu kalian. E-banking untuk transfer masih jalan. Kalian bisa galang dana solidaritas untuk mereka yang saat ini benar-benar sudah lapar.

3. Kurangi membeli dan menimbun barang-barang, sekalipun itu kalian butuhkan. Saya penderita diabetes dengan insulin dependent. Saya merasakan sendiri betapa sulitnya untuk mencari alcohol swab sekarang ini. Katanya, (cek fakta: silahkan komentar kalau kalian punya info untuk membenarkan ini) ada yang borong alcohol swab untuk membersihkan kenop pintu setiap kali dia pegang. Luar biasa.

4. Yang punya pabrik kebutuhan pokok seperti susu formula, pampers, makanan, (edit tambahan: obat-obatan), cobalah koordinasi dengan pemerintah bagaimana supaya pabrik kalian tetap memproduksi.

5. Yang punya karyawan harian, cobalah memantau keadaan mereka. Jangan sampai mereka kelaparan.

6. Berdoalah dan bekerjalah. Ini bukan liburan, ini perang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here