Mengharapkan Mukjizat Tuhan

0
434 views
Ilustrasi - Tak henti berharap. (Ist)

Jumat, 25 Juni 2021

Kej.17:1.9-10.15-22.
Mzm.128:1-2.3.4-5.
Mat.8:1-4.

KEKUATIRAN tidak akan melenyapkan kesususahan esok. Namun akan menghilangkan kegembiraan hari ini.

Itulah yang dialami oleh seorang sahabat yang sedang berbaring sakit serius.

“Sebagai manusia kita telah berusaha semaksimal mungkin, namun kondisiku malah berangsur-angsur menurun,” katanya.

“Apa yang bisa kita buat telah kita lakukan, saatnya kita menanti kemurahan Tuhan,” sahut sahabat yang menjaganya.

“Saya masih punya hal yang ingin saya kerjakan dalam hidup ini. Tetapi itu kayaknya mustahil untuk bisa aku lakukan lagi,” jawabnya.

“Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan dan yang berharap pada kemurahan-Nya,” jawab sahabat itu.

“Saatnya sekarang menumbuhkan semangat dan harapan akan belas kasih Tuhan,” lanjut sahabat yang menjaganya.

“Semakin saya pikir hari esok semakin saya tak berdaya,” katanya.

“Jalani saja, lihat bahwa setiap saat kamu tidak sendiri, ada kita, saudaramu yang selalu mendukungmu,” kata sahabat itu.

“Saya tidak tahu, mau sampai kapan kondisi ini harus saya jalani,” katanya.

“Tidak perlu kita tahu, waktu dan saatnya, karena itu hak Tuhan. Kita hanya diminta menjalani dan memberikan kepada Tuhan kepercayaan untuk bertindak sesuai dengan kehendak-Nya,” jawab sahabat itu.

Mukjizat itu sungguh merupakan kemurahan hati Tuhan.

Kita tidak punya hak memaksa Tuhan untuk mengadakan mukjizat di kala kondisi batas kehidupan kita.

Yang bisa kita lakukan adalah memohon dan berserah sepenuh hati kepada kerahiman-Nya.

Biarlah Tuhan tergerak hati-Nya dan menaruh belas kasih-Nya atas kehidupan kita.

Bagaimana caranya sehingga hidup pribadi kita ini memperoleh perhatian dari Tuhan ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here