Mengikuti Perayaan Ekaristi dengan Baik dan Benar (2)

0
155 views
Romo Juli menjelaskan dengan memperagakan gerak liturgi (Noell)

SETIAP umat Katolik harus benar-benar mencintai Ekaristi. Khususnya di Seminari, Romo Juli mengatakan bahwa di tempat ini para calon imam dilatih untuk mengenal dan meresapi Ekaristi.

Lebih-lebih dalam hal kesetiaan, yaitu kesetiaan untuk selalu hadir di dalam Ekaristi. Bahkan seorang imam sekalipun, meski tiada ada umat, wajib merayakan Ekaristi; walau hanya sendirian.

Bagi umat Allah, Ekaristi merupakan jiwa kehidupan imamat dan jiwa kehidupan umat beriman. Ibarat kata Yesus mengatakan bahwa diri-Nya begitu mencintai umat-Nya dengan mengorbankan diri-Nya di kayu salib, maka kita sebagai umat-Nya menanggapi cinta Tuhan itu dengan kepenuhan iman dalam menghayati Ekaristi secara total.

Doa Syukur Agung

Penghayatan Ekaristi tersebut dikatakan oleh Romo Juli sangat begitu nyata di dalam Doa Syukur Agung.

Kitab Suci mengatakan bahwa Kristus adalah Imam Melkisedekh, ia adalah iuntuk selama-lamanya. Imam Agung yang mempersembahkan diri-Nya sendiri untuk dikorbankan bagi dosa-dosa manusia.

Dalam Doa Syukur Agung, Imam menyerukan kalimat, ”Tuhan bersamamu” untuk mengingatkan umat agar tidak terlena pada partisipasi persembahan ke dalam suasana hura-hura, gegap gempita.

Maka umat mengingatkan juga Imamnya dengan seruan “Dan bersama Rohmu”.

Selanjutnya, imam mengajak umat untuk mengarahkan hatinya kepada Tuhan dan dijawab dengan gembira oleh umat, ”Sudah kami arahkan.”

Romo Juli menjelaskan lebih lanjut, agar umat menyadari betapa Tuhan itu maha baik melalui Ekaristi, imam mengajak umat untuk bersyukur kepada Tuhan Allah dengan jawaban dari umat, ”Sudah layak dan sepantasnya.”

Maka sudah selayaknya dan sepantasnya semua umar beriman bersyukur dalam setiap nafas, gerak, kerja dalam hidup sehari-hari. Tuhan telah mengutus Putera-Nya untuk menyelamatkan umat yang oleh karena ketidaktaatannya jatuh ke dalam dosa.

Kesetiaan

Romo Juli menjelaskan lebih lanjut mengenai kesucian Kristus dari dosa-dosa dunia. Ia adalah Firman yang menjadi daging, Roh Allah yang turun dari surga. Ia dikandung oleh Roh Kudus, ketika Malaikat Gabriel membawa kabar sukacita itu kepada Maria.

Doa Syukur Agung berisi harapan agar setiap umat beriman meneladani Dia yaitu kesetiaan Kristus.

Kristus setia lahir sebagai orang miskin dan sederhana. Ia setia tetap menjadi anak dari Maria dan Yosep, pasangan yang tidak terpelajar dan seorang tukang kayu.

Yesus setia menjalankan tugas-Nya mengajar dari desa ke desa dan kota ke kota. Tiga tahun ia tidak pernah absen untuk melakukan karya-karya Kasih.

Teladan kesetiaannya dipuji olehiImam dengan tangan terentang yang melambangkan penyerahan diri atau kepasrahan seperti Kristus yang tergantung di kayu salib.

Kesetiaan ini dipuji pada Prefasi dalam Doa Syukur Agung karena yang dikehendaki Allah adalah setia.

Kemudian umat bersama Imam menyanyikan lagu Kudus.

Romo Juli menjelaskan bahwa teks Kudus ini diadaptasi dari Yesaya 6:3, yang melukiskan penglihatan Nabi Yesaya akan takhta Allah yang dikelilingi oleh serafim yang bersayap enam yang melayani-Nya.

Representasi serupa dapat ditemukan dalam Wahyu 4:8.

Ucapan Terima Kasih Wakil Rektor Romo Fransiskus Suandi Pr kepada Romo Matheus Juli Pr.

Selanjutnya imam mengulurkan tangan di atas roti dan anggur dengan mengucapkan doa agar persembahan tersebut diubah menjadi Tubuh dan Darah Putera-Nya yang terkasih yaitu Tubuh dan Darah Tuhan Yesus Kristus.

Imam kemudian mengulang perintah Kristus pada malam perjamuan terakhir dengan tegas mengatakan, ”Terimalah dan makanlah, inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagimu.”

Di saat inilah, Tuhan Yesus tergantung di kayu salib, penuh darah, bermahkota duri, daging-Nya kemudian tersobek-sobek untuk menjadi makanan kita.

Setelah itu, imam mengambil piala dan mengulangi perintah Yesus yang lain, ”Terimalah dan minumlah: inilah piala darahku, darah perjanjian baru dan kekal. yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. lakukanlah ini untuk mengenangkan daku.

Baik Tubuh dan Darah Kristus yang diangkat ke atas itu, umat perlu menjawab di dalam hatinya, ”Ya Tuhanku dan Allahku”.

Sebagai pengingat atas kita yang kerap tidak percaya seperti Thomas, ketika Tuhan menampakkan Diri-Nya kepada para murid.

Misteri iman

Setelah itu, imam mengajak umat untuk menyatakan misteri iman.

Romo Juli memaparkan kepada para seminaris, bahwa ada tiga hal yang dikatakan sebagai misteri Iman yaitu Wafat Kristus, Kebangitan Kristus dan Kedatangan Kristus.

Selain itu, terselip juga doa-doa kepada orang-orang yang meninggal dunia yang berharap besar akan bangkit sebagaimana yang dijanjikan oleh Kristus. Serta doa-doa kita yang masih hidup mengembara di dunia dengan pemimpin Gereja yaitu Bapa Paus dan Para Uskup serta pelayan umat yang ada.

Barulah selanjutnya Doa Syukur Agung ditutup dengan menyerahkan penyelenggaraan hidup Gereja dan umat-Nya ke dalam tangan Allah Tri Tunggal Maha Kudus yang dimuliakan.

Maka, Doa Syukur Agung diakhiri dengan satu-satunya doa sempurna yang diajarkan oleh Kristus yaitu doa Bapa Kami.

Doa Bapa Kami, menurut Romo Juli, merupakan doa yang memiliki kuasa, karena berasal dari Allah sendiri. Setelah itu disusul dengan Embolisme dan Doa Damai.

Setelah Doa Syukur Agung, barulah kemudian umat mendoakan atau menyanyikan lagu Anak Domba Allah.

Lagu ini boleh diucapkan bersama-sama oleh imam dan juga umat untuk memohon rahmat keselamatan dan kedamaian.

Selanjutnya, Imam mengangkat Roti yang telah tercabik bersama piala anggur yang telah menjadi Tubuh dan Darah Kristus untuk dipandang oleh seluruh umat. “Saudara-saudari, inilah tubuh dan darah anak domba Allah yang menghapus dosa-dosa dunia, berbahagialah kita yang diundang ke dalam perjamuan-Nya.”

Kemudian umat menjawab, ”Ya Tuhan saya tidak pantas, Tuhan datang kepada saya, tetapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh.

Kata-kata ini berasal dari Lukas 7: 6-10 yang mengisahkan tentang Perwira yang memiliki hamba yang sedang sakit, ia merasa rendah diri karena sebagai perwira, ia tidak pantas menerima orang suci seperti Yesus.

Ia memohon Yesus agar mengatakan sepatah kata agar hamba dari perwira itu sembuh. Yesus memuji iman perwira tersebut dan seketika itu juga sembuhlah hamba perwira tersebut.

Harapan yang sama pun dirindukan oleh umat dengan penuh keyakinan dan kepercayaan.

Komuni Suci

Dalam menerima Komuni Suci, Romo Juli menyarankan untuk umat agar menerima komuni dengan penuh rasa hormat. Berjalan dengan penuh wibawa, tangan terkatub atau melipat tangan, berjalan dan memandang ke arah hosti suci. “Jangan menerima komuni suci seperti orang mau pergi ke ladang,” sambungnya.

Terimalah komuni suci dengan kedua tangan, ketika Imam atau pelayan memberikan komuni, mereka akan berkata  “Tubuh Kristus” umat dengan tegas menjawab “Amin”.

Pertanyaan lebih jauh mengenai komuni, bagaimana jika ada remahan atau komuni suci utuh tersebut yang jatuh?

Komuni tersebut harus diambil dengan penuh hormat dan langsung dimakan sebab esensi dari roti tersebut adalah suci, tidak boleh tersisa, meskipun hanya remah-remahan.

Romo Juli juga menceritakan pengalaman bahwa ada umat yang protes, mengapa komuni hanya diberikan hosti saja tidak dengan anggur juga?

Romo Juli mengatakan bahwa di dalam hosti tersebut tidak hanya terkandung Tubuh Kristus saja melainkan sudah lengkap dengan darah-Nya yang bersatu di dalam hosti. 

Setelah menerima Komuni Suci dalam Ekaristi, apakah tugas umat telah selesai?

Romo Juli menegaskan bahwa tugas umat belum selesai. Umat mendapatkan tugas lainnya yaitu pengutusan.

Foto bersama usai paparan rekoleksi bertema mengikuti Perayaan Ekaristi dengan baik dan benar. (Noell)

Romo Juli memaparkan perenungannya mengenai Ekaristi bahwa ada enam hal yang diperoleh umat ketika merayakan misa suci:

1) Umat dihapus dosa-dosanya.

2) Umat diperbolehkan mendengarkan sabda-Nya.

3) Umat berpartisipasi dalam korban persiapan persembahan.

4) Umat menerima Tubuh dan Darah Kristus.

5) Umat menerima berkat dari Tuhan.

6) Umat mendapatkan tugas pewartaan-pengutusan.

Setelah pada ritus penutup ini, maka rekoleksi bersama Romo Yuli bagaimana mengikuti Perayaan Ekaristi dengan baik dan benar telah selesai digelar.

Para Seminaris sangat terkesan dengan rekoleksi yang dibawakan oleh Romo Matheus Juli ini.

Ternyata, selama ini banyak dari seminaris bahkan mungkin umat Katolik yang tidak menyadari kesalahan-kesalahan yang terjadi selama mengikuti Ekaristi.

Mulai dari umat yang sering terlambat sehingga tidak mempersiapkan intensi atau proposal-proposal doanya untuk dipersembahkan serta dosa-dosa yang ingin diakui di hadapan Tuhan.

Hingga sikap yang penuh hormat ketika menerima hosti suci yang kerap kali entah sengaja atau tidak disengaja sering diabaikan oleh umat Katolik.

Harapan yang paling besar diungkapkan oleh beberapa seminaris agar semakin menghayati, mencintai, menghormati Ekaristi dengan kesadaran dan kasih yang besar.

Sehingga pada akhirnya, para seminaris tidak lagi menganggap Ekaristi sebagai suatu kewajiban belaka, melainkan kerinduan terdalam untuk menjiwai semangat panggilan sebagai calon imam. (Selesai)

Foto: Noell

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here