Mengimani Allah Sesuai Selera?

0
251 views
Ayub orang yang saleh

Bacaan 1: Ayb 1:6-22

Injil: Luk 9:46-50

Saat menginginkan sebuah kesuksesan maka orang pertama kali memohon doa pada Tuhan. Namun terkadang, saat keinginan tercapai orang malah melupakan Tuhan. Menganggap bahwa kesuksesan itu diraihnya karena kemampuannya sendiri.

Padahal Tuhan memberikan apa yang menjadi cita-citanya tersebut.

Sejatinya manusia tidak memiliki apapun. Manusia diberikan kemampuan, pengetahuan, berkat kekayaan dan bakat oleh Tuhan untuk dipergunakan memuliakan nama-Nya dan bukan untuk melupakan-Nya.

Ayub sungguh menyadari akan hal itu,

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”

Ayub dikatakan Tuhan sebagai manusia yang saleh dan tiada duanya di dunia.

Namun Iblis tidak sependapat, bahwa Ayub menjadi manusia seperti itu karena mendapat berkat melimpah. Iblis berpikir seandainya semua berkat itu diambil, pasti ia menjadi pemberontak terhadap Tuhan.

Tetapi Ayub membuktikan tidak demikian, ia tidak meratapi dan mengutuki Tuhan saat semua miliknya hilang ditelan alam.

Ayub bukan pribadi yang mengimani Tuhan hanya berdasarkan seleranya. Tapi ia paham betul ketidakberdayaannya tanpa Tuhan.

Para murid mungkin menyikapi kemesiasan Yesus sesuai selera mereka, yaitu Mesias secara politis pemimpin Israel duniawi. Mereka lantas ingin memperebutkan posisi tertinggi dalam pemerintahan-Nya kelak.

Hal ini kemudian diluruskan oleh Tuhan Yesus, bahwa untuk menjadi yang terbesar maka harus sanggup menjadi yang terkecil. Pemimpin yang melayani dan bukan dilayani, sebuah konsep kepemimpin unik bagi dunia.

“Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”

Anak kecil sebagai lambang ketidakberdayaan yang harus diperhatikan oleh para murid-Nya.

Menjadi murid Kristus tidak sepantasnya hanya saat sesuai selera, jika tak sesuai selera maka lantas meninggalkan-Nya. Menjadi murid Kristus harus siap menderita bersama-Nya, menjadi hamba bagi sesama.

Pesan hari ini

Ingatlah Tuhan disaat suka dan duka, jangan sesuai selera. Tuhan telah berjanji menyertaimu hingga akhir zaman.

“Kemuliaan Tuhan selalu datang pada pengorbanan diri.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here